![]() |
| Foto Bersama Adik-Adik MI Miftahul Ulum & SDN Tlogoagung (Arya Ananta & Mochammad Ivan) |
LAMONGAN | JATIMSATUNEWS.COM : Kehidupan desa jauh berbeda
dengan kebiasaan dan gaya hidup di kota, salah satu contohnya seperti kehidupan
di Desa Tlogoagung, Kabupaten Lamongan yang dimana sebagian besar orang tua
siswa berprofesi sebagai petani dan buruh tani. Setiap pagi berangkat awal dan
pulang hingga telat sore menjelang malam, sehingga waktu untuk mendampingi anak
di rumah untuk belajar hampir tidak ada dan dengan kemajuan teknologi seperti
Handphone dan mudahnya akses internet menjadi alasan mengapa semangat untuk
belajar dari sebagian anak di dua sekolah dasar setempat, SDN Tlogoagung dan MI
Miftahul Ulum, belum sepenuhnya tumbuh maksimal.
“Kalau kendalanya ya, di HP sekarang
ini. Jadi anak-anak itu kalau di rumah kan terlalu sering main HP, akhirnya
belajarnya berkurang jamnya," ujar Kepala Sekolah MI Miftahul Ulum,
Rulik Badriah, S.Pd, saat ditemui tim KKN Kelompok 01 UPN Veteran Jawa Timur pada hari Jum’at (24/7).
Kepala sekolah SDN Tlogoagung, Natidjah, S.Pd.SD.,
M.Pd., juga memberi
pendapat yang sama, bahwa kemauan belajar anak-anak di sekolahnya masih
tergolong rendah. “Sebenarnya kemauan anak-anak untuk belajar itu rendah. Anak
itu perlu dari guru-guru untuk banyak inovasi dan variatif dalam
pembelajaran," ungkapnya (23/7).
Dalam keadaan kekurangan minat belajar ini, kebiasaan
menabung pun belum sepenuhnya tertanamkan pada anak-anak. Wali Kelas VI SDN
Tlogoagung, Wahyu Dafik Diana, memberi pendapat bahwa uang yang selama ini
rutin ditabung di sekolah sebagian besar bukan berasal dari
saku siswa namun dari titipan orang tua. "Yang nabung itu kebanyakan
bukan dari uang saku muridnya, tapi ibu-ibunya, orang tuanya," ujarnya
(23/7).
Kondisi yang sama juga disampaikan oleh Wali Kelas V MI
Miftahul Ulum, Erik Susmiati, S.Pd. Menurutnya semangat menabung di desa kurang
unggul dibandingkan dengan semangat menabung di kota, alasan utama karena
kondisi ekonomi masyarakat yang mayoritas petani dan buruh tani. "Kalau
di desa ini memang kurang sekali masalah pencerahan untuk masalah nabung ini,
memang kondisi ekonomi di desa ini tidak sebaik di kota," ujarnya (24/7).
Pernyataan ini didukung oleh data Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) yang mencatat bahwa terjadi ketimpangan literasi keuangan antara penduduk
kota dan desa di Indonesia. Dikutip dari Bisnis.com menyatakan bahwa “Adapun indeks literasi keuangan wilayah
perkotaan sebesar 69,71% sedangkan di wilayah pedesaan hanya 59,25%. Sementara
inklusi keuangan di perkotaan 78,41% dan di wilayah pedesaan 70,13%.”
Demi menanggulangi permasalahan tersebut, Mahasiswa Kuliah
Kerja Nyata (KKN) Kelompok 01 Universitas Pembangunan
Nasional “Veteran” Jawa Timur
menggelar program sehari penuh kegiatan pengajaran dan edukasi pendidikan di
SDN Tlogoagung dan MI Miftahul Ulum. Program ini bukan hanya membimbing siswa
tentang akademik dasar, namun materi disampaikan dengan khusus untuk menanamkan
pola pikir bahwa pendidikan merupakan cara untuk memutus rantai kemiskinan,
sekaligus mengajarkan literasi keuangan dasar melalui kebiasaan menabung sejak
dini.
Kegiatan dimulai dari pembukaan, sambutan ketua KKN, dan
sambutan kepala sekolah. Dilanjutkan dengan pemberian materi dan pemutaran film
edukasi pertama, sesi ice breaking, dan pemberian hadiah bagi pemenang, waktu
istirahat, materi dan pemutaran film edukasi sesi kedua serta ice breaking
kedua, workshop kreatif pembuatan celengan dari barang bekas, sesi evaluasi
(post test), penulisan kesan dan pesan siswa, hingga sesi dokumentasi dan pembuatan
konten.
Salah satu sorotan dari materi yang disampaikan dalam
kegiatan ini adalah workshop pembuatan celengan dari botol bekas sebagai media
edukasi literasi keuangan. Natidjah menilai ide pemanfaatan barang bekas untuk
media menabung sebagai langkah yang baik, sekaligus membuka kesempatan anak
melatih kreativitas sejak dini.
Bagi para guru dan kepala sekolah, harapan dari kegiatan
ini bukan hanya sekedar angka tabungan, namun juga untuk mengubah pandangan
anak terhadap masa depan mereka sendiri. Imroatik Zahrotul Khoiriyah, Wali
Kelas 5 SDN Tlogoagung, berharap materi yang disampaikan mampu mengubah cita
cita anak yang selama ini masih terbatas. "Harapannya ya bisa mengubah
persepsi anak-anak dan cita-citanya itu berubah. Jadi motivasi, biar pengen...
nanti dikasih tahu, untungnya kalau kita nabung itu gini," katanya.
Harapan yang sama juga disampaikan oleh Rulik Badriah.
Menurutnya, semangat belajar anak desa perlu terus didukung agar mereka dapat
berpikir untuk menargetkan pendidikan hingga ke jenjang yang tinggi. “Kita
bisa berkumpul dengan orang-orang dari kota, jadi kita tidak tertinggal,"
katanya, menambahkan bahwa beberapa alumni MI Miftahul Ulum telah melanjutkan
pendidikan hingga ke UPN “Veteran” Jawa Timur.
Materi yang disampaikan ini juga sejalan dengan Sustainable
Development Goals (SDGs) poin pertama, Tanpa Kemiskinan (No Poverty).
Poin ini berkomitmen mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk di manapun,
dengan pendidikan dan perlindungan sosial bagi kelompok rentan sebagai salah
satu jalur pencapaiannya.
Dengan menanamkan pentingnya pendidikan tinggi sekaligus
kebiasaan menabung sejak sekolah dasar, kegiatan ini mencari akar dari masalah
yang selama ini membuat angka kemiskinan di desa selalu tinggi, yaitu rendahnya
akses pendidikan lanjutan dan minimnya kebiasaan mengelola keuangan sejak dini.
Anak-anak yang terbiasa untuk menabung dan percaya diri untuk mengejar
pendidikan tinggi, pada akhirnya diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk
memutus siklus kemiskinan struktural yang melekat pada keluarganya. Sejalan
dengan SDG poin 1 yang menempatkan pendidikan sebagai salah satu sarana pemecah
masalah kemiskinan.
Natidjah pun menyambut baik kegiatan ini. "Sangat bagus menurut saya, memang itu yang perlu ditanamkan kepada anak-anak sejak dini untuk menabung," ujarnya.
![]() |
| Semangat belajar dan kebiasaan menabung sejak dini ditanamkan kepada siswa SDN Tlogoagung dan MI Miftahul Ulum melalui program edukasi |
Wartawan: Rizqisa Hilma Amalia & Faliq Rachmadhani Najid
Redaktur: Theresia Queen Ericke
Editor: Pricilia Oktavia Putri
Sukowati
Infografis : Nabila Farahdinna Rizki




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?