MALANG | JATIMSATUNEWS.COM : Persoalan kesuburan tanah dan keberlanjutan produksi pertanian tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak input yang diberikan ke lahan, tetapi juga bagaimana tanah dikelola dalam jangka panjang. Berangkat dari persoalan tersebut, Departemen Geografi, Program Studi S1 Geografi, Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Universitas Negeri Malang (UM) menggelar Sekolah Lapang Pertanian Ramah Lingkungan bagi petani di Desa Jatirejoyoso, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 16 Juli 2026 di Balai Desa Jatirejoyoso tersebut melibatkan 12 petani padi. Sekolah lapang ini dirancang sebagai ruang belajar bersama bagi petani untuk mengenal sekaligus mempraktikkan pendekatan pengelolaan pertanian yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan tanah, efisiensi penggunaan input, serta kemampuan lahan menghadapi perubahan kondisi lingkungan.
Persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika petani dihadapkan pada perubahan kondisi iklim dan penurunan kesuburan tanah yang dapat memengaruhi stabilitas produksi pangan. Karena itu, penguatan kapasitas petani dalam mengelola lahan secara lebih berkelanjutan menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan oleh tim pengabdian UM. Program ini diarahkan untuk memperkenalkan praktik pertanian yang mampu menjaga produktivitas sekaligus mengurangi tekanan terhadap ekosistem pertanian.
Melalui kegiatan tersebut, tim pengabdian memperkenalkan sejumlah pendekatan yang dapat diterapkan untuk membangun sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan. Materi tidak berhenti pada penjelasan teoritis, tetapi dilanjutkan dengan demonstrasi, praktik langsung, dan diskusi bersama peserta. Pengelolaan kesuburan tanah melalui pemanfaatan kompos, penggunaan agens hayati seperti mikoriza, serta penerapan prinsip pertanian sirkular menjadi bagian utama dari materi yang diberikan.
Pendekatan partisipatif dipilih agar pengetahuan yang disampaikan dapat dikaitkan langsung dengan pengalaman petani dalam mengelola lahan. Petani diajak memahami bahwa bahan organik dan sumber daya yang berada di sekitar lingkungan pertanian tidak selalu harus dipandang sebagai limbah, tetapi dapat dikembalikan ke dalam sistem produksi sebagai sumber daya yang memiliki nilai guna. Dengan cara tersebut, pengelolaan lahan tidak hanya diarahkan pada pemenuhan kebutuhan tanaman dalam satu musim, tetapi juga pada pemeliharaan fungsi tanah secara berkelanjutan.
Tim pengabdian yang terdiri atas satu dosen dan tiga mahasiswa mendampingi peserta selama tiga jam kegiatan. Seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan hingga selesai dengan tingkat partisipasi aktif mencapai 100 persen. Selain transfer pengetahuan dan praktik, kegiatan juga menghasilkan lima unit modul praktis mengenai pembuatan biopestisida nabati yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran lanjutan bagi petani.
Dosen Departemen Geografi UM, Rivandi Pranandita Putra, S.P., M.Sc. menegaskan bahwa penguatan kapasitas masyarakat perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam membangun sistem pertanian yang lebih tangguh. Menurutnya, kemitraan pendidikan antara perguruan tinggi dan masyarakat perlu diarahkan untuk mengintegrasikan inovasi akademik ke dalam tata kelola lahan di tingkat lokal sehingga petani memiliki kapasitas yang lebih baik dalam menghadapi perubahan iklim sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem setempat.
Pendekatan tersebut menempatkan petani bukan sekadar sebagai penerima informasi, tetapi sebagai aktor utama dalam proses perubahan praktik pengelolaan lahan. Pengetahuan yang diperoleh melalui sekolah lapang diharapkan dapat menjadi dasar bagi petani untuk menyesuaikan praktik pertanian dengan kondisi lingkungan dan sumber daya yang tersedia di wilayahnya.
Dari sisi ekonomi, pemanfaatan input berbasis bahan organik juga membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan terhadap input eksternal. Dalam dokumen kegiatan, substitusi sebagian input kimia dengan input organik diproyeksikan berpotensi menurunkan biaya produksi hingga 20 persen. Namun, angka tersebut masih merupakan potensi yang memerlukan pembuktian lebih lanjut melalui penerapan dan pendampingan secara konsisten di tingkat lahan petani.
Kegiatan ini juga memiliki keterkaitan erat dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Peningkatan kapasitas petani dalam memahami praktik pertanian berkelanjutan mendukung SDG 4 melalui Target 4.7, sedangkan penerapan sistem produksi pangan yang lebih berkelanjutan berkaitan dengan SDG 2 Target 2.4. Pemanfaatan kembali sumber daya dan pengurangan limbah pertanian selaras dengan SDG 12, sementara penguatan ketahanan terhadap perubahan iklim dan upaya mencegah degradasi tanah berkontribusi terhadap SDG 13 dan SDG 15.
Keterkaitan tersebut menunjukkan bahwa pertanian ramah lingkungan tidak berdiri sebagai isu tunggal. Pengelolaan tanah, efisiensi input, ketahanan pangan, adaptasi terhadap perubahan iklim, dan perlindungan ekosistem merupakan bagian yang saling berhubungan dalam membangun sistem pertanian yang berkelanjutan.
Meski demikian, perubahan praktik pertanian tidak dapat berlangsung hanya melalui satu kali pelatihan. Peralihan dari pola pertanian konvensional menuju praktik yang lebih mengandalkan proses biologis dan pemanfaatan bahan organik membutuhkan waktu adaptasi, pengalaman lapangan, serta bukti nyata mengenai manfaatnya bagi petani. Tantangan perubahan pola pikir tersebut menjadi salah satu catatan penting dari pelaksanaan kegiatan.
Karena itu, tim pengabdian merekomendasikan pendampingan secara berkala serta pembangunan demplot dalam skala yang lebih luas. Demplot dapat menjadi sarana bagi petani untuk mengamati secara langsung perubahan yang terjadi setelah praktik ramah lingkungan diterapkan, sekaligus membandingkan manfaat ekologis dan ekonominya dengan praktik yang selama ini digunakan.
Melalui Sekolah Lapang Pertanian Ramah Lingkungan, Departemen Geografi UM berupaya mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat di tingkat tapak. Langkah tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan, tetapi berkembang menjadi proses pendampingan yang mampu memperkuat kapasitas petani dalam mengelola lahan secara lebih efisien, menjaga kualitas tanah, menghadapi perubahan iklim, serta mempertahankan keberlanjutan produksi pangan dalam jangka panjang.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?