BANYUWANGI| JATIMSATUNEWS.COM: Suasana hangat dan penuh antusiasme mewarnai Kantor Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi pada Jumat, 17 Juli 2026. Sebanyak 37 warga desa, yang didominasi oleh kader ibu-ibu PKK, tokoh masyarakat, serta pelaku usaha mikro setempat, berkumpul untuk mengikuti kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang diselenggarakan oleh Tim Dosen Kimia Analitik, Departemen Kimia, Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya. Program pemberdayaan yang bertajuk "Pemberdayaan Masyarakat melalui Inovasi Pengolahan Minyak Jelantah menjadi Sabun Ramah Lingkungan dan Bernilai Ekonomi" ini dipimpin oleh Dr. Ulfa Andayani, S.Si., M.Si., bersama tim dosen kimia analitik, antara lain: Prof. Dr. Ani Mulyasuryani, M.S., Prof. Akhmad Sabarudin, Dr.Sc., Dr. Qonitah Fardiyah, S.Si., M.Si., serta melibatkan mahasiswa program studi S1 Kimia.
Desa Kedungrejo di Kecamatan Muncar dikenal sebagai kawasan pesisir yang dinamis dengan geliat ekonomi perikanan dan pengolahan hasil laut yang sangat aktif. Aktivitas kuliner rumah tangga maupun usaha olahan makanan yang masif di desa ini menghasilkan limbah minyak goreng bekas (minyak jelantah) yang melimpah, diestimasi mencapai 6.000 hingga 7.500 liter setiap bulannya. Sayangnya, sebagian besar masyarakat selama ini masih membuang jelantah secara langsung ke saluran pembuangan air dan tanah, atau menggunakannya secara berulang untuk menggoreng makanan demi menghemat pengeluaran dapur.
Melihat kondisi tersebut, tim akademisi Kimia Analitik Universitas Brawijaya hadir membawakan solusi konkret berbasis penerapan teknologi tepat guna (TTG). Acara diawali dengan sambutan dari Kepala Desa Kedungrejo, Bapak Ahmad Zaiho, dilanjutkan dengan pemaparan oleh tim pengabdian masyarakat. Dr. Ulfa Andayani menegaskan bahwa melalui sentuhan sains dan rekayasa kimia sederhana, minyak jelantah yang sering kali dianggap sebagai sampah limbah yang dapat merusak lingkungan dan membahayakan Kesehatan, dapat ditransformasi menjadi produk pembersih dengan nilai ekonimis tinggi.
Pemateri memaparkan secara rinci dampak buruk konsumsi minyak goreng yang dipanaskan berulang kali. Secara kimiawi, pemanasan berulang memicu reaksi oksidasi, hidrolisis, dan polimerisasi yang menghasilkan senyawa berbahaya seperti aldehid, peroksida, serta radikal bebas. Senyawa beracun ini berisiko tinggi memicu penyakit degeneratif, mulai dari kolesterol tinggi, penyakit jantung, hingga risiko kanker. Tak hanya mengancam kesehatan, pembuangan jelantah sembarangan juga menyebabkan penyumbatan saluran air serta membentuk lapisan minyak yang menghalangi difusi oksigen, sehingga merusak ekosistem perairan pesisir di wilayah Muncar.
Setelah memberikan pemahaman mengenai bahaya limbah, tim pengabdi mengenalkan tahapan inovasi teknologi kimia terapan, yaitu proses pemurnian dan penjernihan minyak jelantah. Sebelum diolah menjadi sabun, minyak bekas harus melalui pemurnian awal untuk menghilangkan kotoran, warna gelap, dan bau tengik. Masyarakat diajarkan teknik bleaching menggunakan bahan adsorben berupa bleaching earth (bentonit) atau arang aktif yang dipanaskan pada suhu 60–100°C. Melalui proses adsorpsi dan penyaringan sederhana ini, minyak jelantah berubah menjadi jauh lebih jernih dan bebas bau, sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku produk pemersih.
Puncak kegiatan yang paling dinantikan warga adalah pelatihan praktik langsung pembuatan sabun melalui reaksi kimia saponifikasi, yaitu reaksi antara asam lemak dengan basa kuat (soda api). Dibimbing oleh para dosen dan mahasiswa, 37 peserta warga desa dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja. Para peserta diajarkan memproduksi dua varian sabun, yaitu sabun batang (padat) dan sabun cair. Untuk pembuatan sabun padat, peserta mempraktikkan pencampuran 450 gram minyak jelantah jernih dengan larutan basa yang dibuat dari 61 gram soda api (NaOH) dalam 125 mL air. Adonan diaduk hingga mengental (mencapai fase trace), kemudian diberi aroma pewangi serta pewarna menarik sebelum dituang ke dalam cetakan. Sementara untuk varian sabun cair, digunakan kalium hidroksida (KOH) yang dikombinasikan dengan bahan pengental carboxymethyl cellulose (CMC) dan larutan garam dapur untuk mengoptimalkan tekstur serta daya pembersihnya.
Keterlibatan mahasiswa S1 Kimia UB dalam kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran berbasis pengalaman yang mendukung program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dengan potensi rekognisi SKS. Mahasiswa berperan aktif mulai dari uji coba laboratorium di kampus, pendampingan praktik, hingga pengumpulan data evaluasi kegiatan.
Melalui sinergi erat antara kepakaran akademisi Universitas Brawijaya dan partisipasi aktif warga Desa Kedungrejo, kegiatan pengabdian masyarakat pada 17 Juli 2026 ini diharapkan dapat memberikan dampak nyata dalam usaha kepedulian lingkungan. Guna menjaga keberlanjutan program, tim Pengabdian Masyarakat Universitas Brawijaya merancang pendampingan yang teratur, sehingga membuka peluang wirausaha baru, meningkatkan pendapatan keluarga, sekaligus melestarikan lingkungan perairan wilayah Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini mendukung pencapaian SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDGs 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDGs 14 (Ekosistem Laut) melalui pemanfaatan minyak jelantah menjadi sabun ramah lingkungan bernilai ekonomi. Selain itu, program ini juga memperkuat SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas), SDGs 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), dan SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui transfer teknologi tepat guna, pembelajaran berbasis MBKM, dan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, serta masyarakat.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?