Banner Iklan

Tambakberas: Menelisik Sejarah Memetik Uswah

Admin JSN
09 Juli 2026 | 12.06 WIB Last Updated 2026-07-09T05:06:33Z

 

 Penulis Artikel, Ustadz Syaiful Musthofa 

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Ketika tempat Muktamar NU ke 35 diputuskan di pesantren Tambakberas, saya langsung teringat buku yang berjudul “Tambakberas: Menelisik Sejarah Memetik Uswah”. Buku ini terbit di bulan Juni 2017 oleh Tim Penulis Sejarah Tambakberas (Gus Heru Najib Wahab, dkk). Penerbitnya Pustaka Bahrul Ulum Jombang dengan tebal 467 halaman. Buku ini bercerita tentang sejarah perjuangan muassis pesantren Tambakberas yang memiliki hubungan kuat dengan pesantren Tebuireng, pesantren Denanyar, pesantren Peterongan, dan beberapa pesantren di seluruh Indonesia. 

Dalam buku ini diceritakan bahwa pesantren Tambakberas didirikan oleh Mbah Abdus Salam, atau Mbah Sehah, atau Mbah Shoihah tahun 1825. Beliau merupakan ulama’ dan pendekar sakti mondroguno sekaligus panglima perang Pangeran Diponogoro (perang Diponegoro melawan Belanda tahun 1825-1830). Mbah Abdus Salam memiliki 10 putra dan putri. Salah satu putrinya, Nyai Layyinah dipersunting oleh Kyai Usman. Pasangan Kyai Usman dan Nyai Layyinah ini memiliki anak diantaranya Nyai Winih atau Nyai Halimah. Nyai Winih ini dipersunting oleh Kyai Asy’ari. Pasangan Kyai Asy’ari dan Nyai Winih inilah yang kemudian menurunkan KH. Mohammad Hasyim Asy’ari Pendiri Pesantren Tebuireng Jombang.

Sedangkan dari jalur Denanyar, KH Bisri Syansuri menikah dengan Nyai Nur Khodijah (adik KH. Wahab Chasbullah) putri KH Chasbullah, setelah menikah beliau hijrah dan mendirikan pesantren di Denanyar tahun 1917, termasuk pesantren putri. Kemudian sejarawan mencatat pesantren putri pertama di Indonesia, dan Nyai Nur Khodijah merupakan wanita pejuang perempuan yang layak sejajar dengan Ibu Kita Kartini dalam memperjuangan pendidikan untuk perempuan. Salah satu putri Nyai Nur Khodijah adalah Nyai Sholihah Bisri yang merupakan ibu dari KH Abdurrahman Wahid. Jadi, Nyai Nur Khodijah adalah nenek dari presiden Gus Dur.

Membaca sejarah panjang pesantren Tambakberas, keputusan PBNU menetapkan Pondok Pesantren Tambakberas Jombang sebagai tuan rumah Muktamar NU ke 35 Agustus mendatang merupakan keputusan yang tepat, NU kembali ke akarnya. Saya sebagai santri sangat yakin bahwa keputusan ini bukan merupakan kebetulan belaka melainkan kehendak Sang Pencipta yang telah diikhtiari para ulama’ NU melalui riyadhoh dan istikhoroh. 

Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang merupakan salah satu pesantren besar dengan ribuan santri yang telah melahirkan para Ulama’ dan tokoh masyarakat yang tersebar di seluruh dunia. NU lahir di Jombang, atas inisiasi KH Abdul Wahab Chasbullah di Tambakberas bersama adik ipar beliau KH. Bisri Syansuri Denanyar kemudian mendapatkan restu dari Hadratussyaikh KH. Mohammad Hasyim Asy’ari di Tebuireng pada tahun 1926. Kini Muktamar NU ke 35 digelar di Tambakberas Jombang. Pesantren Tambakberas bukan sekedar tempat Muktamar, melainkan NU pulang kembali ke rahimnya setelah berusia 1 abad. Dari bumi damai nan berkah inilah NU dilahirkan, dirajut, ditenun, dan dibesarkan hingga menjadi raksasa penyejuk peradaban dunia.

Ya, kembali ke pangkuan ibu pertiwi setelah berusia 100 tahun. Hal ini bukan kebetulan, sekali lagi bukan kebetulan melainkan kehendak Allah SWT yang bertujuan diantaranya untuk menyegarkan kembali ruh NU, memperkuat marwa NU, dan mempersatukan warga NU agar berjalan sesuai dengan tujuan Khittah 1926. Khidmat kepada masyarakat, mencerdaskan generasi Islam, mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok dan golongan, serta melepaskan diri dari politik praktis. Bagi saya yang pernah nyantri di Tambakberas, keputusan ini memperkuat keyakinan bahwa NU sedang diajak pulang untuk kembali kepada tujuan awal didirikan yaitu mengajarkan akhlaq, mengajarkan ilmu, memperkuat ukhuwah, dan berkhidmat kepada masyarakat dengan ikhlas tanpa pamrih.

NU kembali ke rumah besarnya yaitu pesantren, tempat dimana NU dilahirkan. Bagi saya yang sejak kecil hidup di pesantren, pendidikan pesantren tidak hanya memperdalam dan mengajarkan ilmu agama saja melainkan mengembangkan intelektual dan spiritual secara proporsional, menyeimbangkan kemampuan otak dan hati, memadukan dzikir dan pikir, menyelaraskan olah rasa dan olah karsa. Akhlaqul karimah sebagai panglima dalam berperilaku dan bertutur kata. Kesederhanaan jiwa merupakan tuntunan yang selalu dipraktikan dalam kehidupan sehari hari. Sederhana dan bersahaja tidak goyah godaan dunia, perkataaan sesuai dengan tindakan, itulah santri sejati.

Harapan semua warga nahdhiyin, melalui muktamar NU ini akan terlahir pemimpin-pemimpin besar seperti para pendahulunya yang akan membawa bangsa besar ini ke arah kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik berlandaskan aqidah ahlussunnah wal jama'ah. Sosok pemimpin kuat, punya integritas tinggi, arif bijaksana dan mampu berkolaborasi dengan semua elemen. Terutama mampu berkolaborasi dengan pemerintah untuk mencegah terjadinya korupsi yang sudah melampaui batas dan terang terangan. Selamat Bermuktar. Allahu A’lam bis Showab…


Oleh: Syaiful Mustofa

Dosen UIN Malang. Alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, 1987-1993.




Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tambakberas: Menelisik Sejarah Memetik Uswah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now