Foto: Sesi pemaparan materi oleh Narasumber
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Dunia pendidikan sedang menghadapi perubahan besar. Revolusi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), globalisasi, krisis iklim, hingga perubahan karakter peserta didik menuntut hadirnya guru dengan kompetensi baru.
Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Sutiah, M.Pd., memberikan pembekalan kepada mahasiswa Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Fakultas Ilmu Keislaman Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang melalui Workshop bertajuk "Integrasi Ecotheology dan Pedagogi Kasih Sayang dalam Perangkat Pembelajaran PAI dan PGMI Abad ke-21" yang dilaksanakan pada Senin, 6 Juli 2026 di Aula KH. Moh. Said UNIRA Malang. Workshop tersebut mengangkat tema besar "Mendidik dengan Cinta, Merawat Bumi, Membangun Peradaban."
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Sutiah memperkenalkan Model CINTA–GREEN Teacher, sebuah model pembelajaran yang dikembangkannya sebagai paradigma baru bagi calon guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). Model ini tidak hanya menekankan penguasaan kompetensi pedagogik, tetapi juga mengintegrasikan pedagogi kasih sayang (compassion pedagogy) dengan ecotheology, sehingga pembelajaran mampu membentuk karakter, kepedulian sosial, dan tanggung jawab ekologis peserta didik.
Menurut Prof. Sutiah, tantangan guru masa kini tidak lagi sekadar menyampaikan materi pelajaran.
"Yang berubah sebenarnya bukan hanya kurikulumnya, tetapi dunia. Karena itu, guru juga harus berubah. Mahasiswa PLP harus dipersiapkan menjadi guru abad ke-21 yang mampu menghadapi tantangan global, bukan sekadar mampu mengajar di kelas."
Dalam sesi pembuka, Prof. Sutiah mengajak peserta merenungkan sebuah pertanyaan sederhana namun mendalam, "Siapa yang paling sukses dididik?" Jawaban peserta beragam, mulai dari dokter, hakim, polisi, insinyur, hingga programmer. Namun menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari profesi seseorang.
"Tugas guru bukan sekadar melahirkan dokter, hakim, polisi, insinyur, atau programmer. Yang jauh lebih penting adalah melahirkan manusia yang tetap amanah, jujur, peduli, mencintai lingkungan, dan membawa rahmat bagi sesama."
Karena itu, pendidikan harus menghasilkan manusia yang ketika menjadi apa pun tetap menghadirkan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi integrasi antara Ecotheology dan Pedagogi Kasih Sayang yang ditawarkan melalui Model CINTA–GREEN Teacher.
Mengacu pada laporan UNESCO "Reimagining Our Futures Together" (2021) dan OECD Learning Compass 2030, Prof. Sutiah menjelaskan bahwa pendidikan masa depan harus mampu membentuk peserta didik yang mampu hidup dalam keberagaman, menjaga keberlanjutan bumi, memanfaatkan teknologi secara etis, menciptakan nilai baru, menyelesaikan konflik, dan bertanggung jawab terhadap setiap keputusan yang diambil.
Misalnya, guru tidak cukup hanya mengajarkan tata cara wudhu, tetapi juga menanamkan nilai hemat air; tidak cukup mengajarkan kebersihan, tetapi membangun budaya mengurangi sampah plastik; serta tidak berhenti pada konsep manusia sebagai khalifah di bumi, melainkan membimbing peserta didik melakukan aksi nyata menjaga lingkungan sekolah sebagai bagian dari amanah Allah SWT.
Model CINTA–GREEN Teacher
Puncak materi workshop adalah peluncuran sekaligus penjelasan Model CINTA–GREEN Teacher, sebuah model pembelajaran integratif yang memadukan enam nilai pedagogi kasih sayang dan lima dimensi kesadaran ekologis Islam.
Komponen CINTA terdiri atas: Compassion (Kasih Sayang), Integrity (Keteladanan), Nurturing (Pembimbingan), Transformative Learning (Pembelajaran Transformatif), Amanah (Tanggung Jawab).
Sedangkan komponen GREEN meliputi: Green Mindset, Responsible Action, Environmental Ethics, Eco-Spiritual Reflection, Nature Stewardship.
Implementasi model cinta-green teacher
Model ini diimplementasikan melalui Siklus OCAME (Observe, Create, Act, Measure, Evaluate) yang menempatkan guru sebagai perancang pengalaman belajar yang bermakna, reflektif, dan berkelanjutan sehingga menghasilkan lulusan yang beriman, berilmu, beramal, berakhlak, peduli lingkungan, hingga mampu menghadirkan nilai Rahmatan lil 'Alamin.
Implementasi Model CINTA–GREEN Teacher dalam pembekalan mahasiswa Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) dirancang melalui pendekatan Learning by Designing, Learning by Doing, dan Learning by Reflecting. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori pembelajaran, tetapi secara bertahap berlatih menganalisis Capaian Pembelajaran (CP), menyusun Tujuan Pembelajaran (TP), mengembangkan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), merancang materi ajar, Modul Ajar, LKPD, media, serta asesmen autentik yang mengintegrasikan nilai-nilai Pedagogi Kasih Sayang (Compassion Pedagogy), Ecotheology, deep learning, dan kompetensi abad ke-21.
Menyiapkan Guru yang Dicintai Murid
Prof. Sutiah juga mengingatkan bahwa kewibawaan guru pada era digital tidak lagi dibangun melalui ketakutan, melainkan melalui keteladanan, empati, kompetensi, dan kemampuan membangun hubungan yang positif dengan peserta didik.
"Guru masa depan bukan yang paling banyak berbicara, tetapi yang paling banyak menginspirasi. Bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi menghadirkan pengalaman belajar yang mengubah karakter peserta didik."
Ia menambahkan bahwa kecerdasan akademik tanpa karakter dapat melahirkan penyalahgunaan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, pendidikan Islam harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga amanah, peduli, berakhlak mulia, serta bertanggung jawab terhadap sesama manusia dan lingkungan.
Kontribusi bagi Pendidikan Nasional
Melalui pembekalan PLP ini, UNIRA Malang menunjukkan komitmennya dalam menyiapkan calon guru yang relevan dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21. Integrasi antara pedagogi kasih sayang, ecotheology, literasi digital, dan pembelajaran transformatif diharapkan mampu melahirkan guru-guru profesional yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?