Foto: Dokumentasi bersama dewan penguji
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pengembangan keilmuan Manajemen Pendidikan Islam melalui lahirnya inovasi konseptual di bidang manajemen kurikulum pendidikan Islam. Dalam Ujian Promosi Doktor yang diselenggarakan di Gedung SBY Pascasarjana UIN Malang, Dr. Ibnu Rozak JR berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Manajemen Kurikulum International Islamic Boarding School (IIBS) dalam Pembentukan Karakter Religius Siswa (Studi Kasus di SMP Putri Al-Maahira International Islamic Boarding School Malang)" pada Senin (06) kemarin.
Riset ini lahir dari kegelisahan akademik terhadap tantangan pendidikan Islam modern yang semakin kompleks. Di tengah pesatnya perkembangan sekolah Islam bertaraf internasional, digitalisasi pembelajaran, dan meningkatnya tuntutan daya saing global, pembentukan karakter religius justru menjadi isu fundamental yang belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem pengelolaan kurikulum. Padahal, tujuan utama pendidikan Islam bukan hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga melahirkan pribadi muslim yang memiliki aqīdah salīmah, ṣaḥīḥ al-'ibādah, akhlakul karimah, muamalah yang baik, amanah, jujur (ṣiddīq), disiplin, bertanggung jawab, dan mampu menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Penelitian ini menawarkan solusi melalui manajemen kurikulum yang mengintegrasikan pendidikan sekolah dan boarding school dalam satu sistem yang utuh.
Menjawab Research Gap Manajemen Kurikulum International Islamic Boarding School
Perkembangan International Islamic Boarding School (IIBS) di Indonesia menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Berbagai lembaga telah mengintegrasikan kurikulum nasional, kurikulum internasional, kurikulum diniyah, program tahfiz, penguatan bahasa asing, hingga pembinaan karakter berbasis boarding school. Namun, sebagian besar penelitian masih mengkaji manajemen kurikulum, pendidikan karakter, budaya sekolah, dan pembinaan asrama sebagai aspek yang berdiri sendiri.
Persoalan lain yang masih dijumpai adalah adanya dikotomi antara sistem sekolah formal dan pondok pesantren. Kurikulum akademik sering berjalan sendiri, sedangkan pembinaan karakter di asrama berlangsung secara terpisah. Akibatnya, proses internalisasi nilai-nilai Islam belum sepenuhnya membentuk kepribadian muslim secara utuh. Padahal, karakter religius tidak cukup dibangun melalui pembelajaran di kelas, tetapi memerlukan keteladanan, pembiasaan, budaya religius, pengawasan, dan pengalaman hidup sehari-hari yang berlangsung secara berkelanjutan.
Berangkat dari kesenjangan akademik tersebut, Dr. Ibnu Rozak JR menghadirkan paradigma baru yang memandang kurikulum bukan sekadar dokumen pembelajaran, melainkan sebagai sistem strategis pembentukan karakter religius melalui integrasi seluruh komponen pendidikan Islam.
Al-Maahira IIBS sebagai Lokasi Penelitian
SMP Putri Al-Maahira International Islamic Boarding School (IIBS) Malang dipilih sebagai lokasi penelitian karena merepresentasikan salah satu model pendidikan Islam modern yang berhasil mengintegrasikan sistem sekolah dan boarding school dalam satu ekosistem pendidikan. Lembaga ini mengembangkan kurikulum nasional, kurikulum internasional, kurikulum diniyah, program tahfiz Al-Qur'an, penguatan bahasa Arab dan Inggris, serta pembinaan karakter melalui kehidupan asrama selama dua puluh empat jam.
Secara akademik, Al-Maahira IIBS merupakan information-rich case (kasus yang kaya informasi) karena memiliki sistem kurikulum terpadu yang mengintegrasikan kurikulum nasional, internasional, diniyah, tahfiz, pembelajaran bahasa, serta kehidupan boarding school dalam satu ekosistem pendidikan. Lembaga ini tidak hanya menunjukkan berbagai capaian dalam pengembangan mutu dan pembentukan karakter religius, tetapi juga menghadapi kompleksitas dalam menyelaraskan program sekolah, boarding school, budaya religius, dan tuntutan pendidikan global. Karakteristik tersebut menjadikan Al-Maahira IIBS sebagai best practice yang relevan untuk mengkaji bagaimana manajemen kurikulum mampu mengintegrasikan seluruh komponen pendidikan secara efektif dan berkelanjutan sehingga menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik sekaligus berkarakter religius. Dari praktik inilah lahir Integrated Religious Character Curriculum Institutionalization and Sustainability (IRCCIS) Model, sebagai model manajemen kurikulum berbasis integrasi sekolah dan boarding school.
Sintesis Tiga Temuan Melahirkan IRCCIS Model
Melalui penelitian studi kasus di SMP Putri Al-Maahira International Islamic Boarding School Malang, Dr. Ibnu Rozak JR menghasilkan tiga temuan konseptual yang kemudian disintesiskan menjadi Integrated Religious Character Curriculum Institutionalization and Sustainability (IRCCIS) Model, yaitu model manajemen kurikulum yang mengintegrasikan perencanaan, pelembagaan, dan pengembangan karakter religius dalam satu sistem yang berlangsung secara berkesinambungan (continuous improvement).
Temuan Pertama: Integrated Religious Character Planning
Temuan pertama menghasilkan konsep Integrated Religious Character Planning, yaitu perencanaan kurikulum berbasis integrasi nilai-nilai Islam melalui penetapan visi lembaga, profil lulusan, dan kompetensi karakter religius yang mencakup dimensi aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Kompetensi tersebut diintegrasikan ke dalam kurikulum nasional, kurikulum internasional, kurikulum diniyah, tahfiz, bahasa, budaya sekolah, dan budaya asrama berdasarkan landasan filosofis, religius, dan yuridis.
Temuan Kedua: Religious Character Institutionalization System
Temuan kedua menghasilkan konsep Religious Character Institutionalization System, yaitu sistem pelembagaan karakter religius melalui integrasi seluruh aktivitas sekolah dan boarding school. Implementasi dilakukan melalui pembelajaran formal, program tahfiz, pembiasaan ibadah, pembinaan bahasa, kegiatan kepesantrenan, keteladanan guru dan musyrifah, pengawasan, serta budaya disiplin sehingga nilai-nilai Islam tidak hanya diajarkan, tetapi diinternalisasikan menjadi budaya hidup peserta didik.
Temuan Ketiga: Sustainable Religious Character Development
Temuan ketiga menghasilkan konsep Sustainable Religious Character Development, yaitu penguatan karakter religius secara berkelanjutan yang ditandai dengan berkembangnya aqidah, ketaatan beribadah, kecintaan terhadap Al-Qur'an, akhlakul karimah, amanah, ṣiddīq, disiplin Islami, tanggung jawab, ukhuwah Islamiyah, dan kepedulian sosial peserta didik.
IRCCIS Model: Siklus Manajemen Kurikulum Berkelanjutan
Ketiga temuan tersebut kemudian disintesiskan menjadi Integrated Religious Character Curriculum Institutionalization and Sustainability (IRCCIS) Model. Berbeda dengan model manajemen kurikulum yang bersifat linier, IRCCIS dibangun dalam siklus perbaikan berkelanjutan (continuous improvement cycle). Siklus ini dimulai dari perencanaan karakter religius (Integrated Religious Character Planning), dilanjutkan dengan pelembagaan nilai-nilai Islam dalam seluruh aktivitas sekolah dan boarding school (Religious Character Institutionalization System), kemudian menghasilkan penguatan karakter religius yang berkelanjutan (Sustainable Religious Character Development). Hasil evaluasi dari tahap pengembangan selanjutnya menjadi umpan balik (feedback) untuk memperkuat perencanaan kurikulum berikutnya sehingga proses pembentukan karakter terus mengalami penyempurnaan secara berkelanjutan.
IRCCIS bukan hanya menghasilkan lulusan yang berkarakter religius, tetapi juga membangun budaya mutu karakter (religious character quality culture) yang terus berkembang melalui mekanisme plan–implement–internalize–evaluate–improve, sehingga kurikulum menjadi sistem yang adaptif terhadap perubahan tanpa kehilangan identitas keislamannya. Model ini menempatkan kurikulum sebagai living system yang selalu belajar, memperbaiki diri, dan menjaga kesinambungan pembentukan karakter religius peserta didik.
Perspektif Islam dan Filosofi Manajemen Pendidikan Islam
Dalam perspektif Islam, kurikulum merupakan amanah untuk membentuk insan yang beriman, bertakwa, berakhlakul karimah, dan mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan identitas keislamannya. Oleh karena itu, pengelolaan kurikulum harus mengintegrasikan nilai tauhid, ibadah, akhlak, muamalah, keteladanan, pembiasaan, dan budaya religius sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Secara filosofis, penelitian ini menegaskan pergeseran paradigma dari curriculum as document menuju curriculum as a living system, yaitu kurikulum sebagai sistem kehidupan yang terus berkembang melalui siklus perencanaan–implementasi–internalisasi–evaluasi–perbaikan berkelanjutan (continuous improvement). Dengan paradigma ini, kurikulum tidak hanya menjadi pedoman pembelajaran, tetapi menjadi instrumen strategis yang membentuk budaya lembaga, karakter peserta didik, dan keberlanjutan mutu pendidikan Islam. Model IRCCIS menunjukkan bahwa pembentukan karakter religius bukanlah hasil dari program sesaat, melainkan buah dari proses manajemen yang terintegrasi, adaptif, dan berkelanjutan.
Kontribusi terhadap Body of Knowledge Manajemen Pendidikan Islam
Secara akademik, penelitian ini memperkaya Body of Knowledge Manajemen Pendidikan Islam, khususnya pada bidang Manajemen Kurikulum Pendidikan Islam, melalui lahirnya Integrated Religious Character Curriculum Institutionalization and Sustainability (IRCCIS) Model. Model ini menawarkan paradigma baru yang menggeser pengelolaan kurikulum dari pendekatan administratif menuju manajemen kurikulum berbasis pembentukan karakter religius yang holistik, integratif, dan berkelanjutan. Kurikulum diposisikan sebagai living system yang mengintegrasikan perencanaan, implementasi, pembiasaan, keteladanan, budaya sekolah, boarding school, evaluasi, dan continuous improvement dalam membentuk pribadi muslim yang utuh.
Dalam perspektif Islam, model ini sejalan dengan pesan QS. At-Tahrim [66]:6 tentang tanggung jawab pendidikan, QS. Al-Hasyr [59]:18 mengenai pentingnya perencanaan dan evaluasi, serta QS. Luqman [31]:13–19 yang menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk generasi yang kokoh tauhidnya, benar ibadahnya, mulia akhlaknya, bertanggung jawab, dan beradab. Nilai-nilai Qur'ani tersebut menegaskan bahwa pembentukan karakter harus dikelola secara sistematis dan berkelanjutan dalam seluruh ekosistem pendidikan.
Prof. Sutiah menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak cukup dipandang sebagai persoalan pedagogik atau hanya menjadi tanggung jawab mata pelajaran agama. Karakter harus dikelola sebagai sistem manajemen pendidikan yang terintegrasi sejak input, proses, output, hingga outcome. Artinya, pembentukan karakter harus menjadi orientasi dalam seleksi peserta didik, desain kurikulum, proses pembelajaran, keteladanan pendidik, budaya sekolah dan boarding school, hingga menghasilkan lulusan yang memiliki aqīdah salīmah, ṣaḥīḥ al-'ibādah, akhlakul karimah, amanah, integritas, kepemimpinan Islami, dan mampu menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
"Kekuatan utama IRCCIS Model adalah menempatkan karakter religius bukan sebagai program tambahan, tetapi sebagai inti seluruh sistem pendidikan. Kurikulum menjadi living system yang mengintegrasikan sekolah dan boarding school untuk membentuk lulusan yang unggul secara akademik sekaligus kokoh akidahnya, benar ibadahnya, mulia akhlaknya, serta siap menjadi rahmat bagi masyarakat," ujar Prof. Sutiah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?