![]() |
| dok. road test b50 lembang/kumparan.com |
JAKARTA, JATIMSATUNEWS.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan implementasi program mandatori Biodiesel B50 diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang signifikan, mulai dari penghematan devisa negara hingga peningkatan penyerapan tenaga kerja di sektor industri berbasis sawit.
Dalam peluncuran Program B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta–Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (10/7/2026), Bahlil mengatakan penerapan B50 diperkirakan mampu menghemat devisa hingga sekitar Rp170 triliun per tahun. Angka tersebut meningkat dibandingkan manfaat ekonomi yang diperoleh saat Indonesia masih menerapkan program B40.
Selain penghematan devisa, implementasi B50 juga diproyeksikan meningkatkan nilai tambah industri crude palm oil (CPO) dari sekitar Rp20,92 triliun menjadi Rp23,49 triliun.
"Selain itu, meningkatkan penyerapan tenaga kerja dari sekitar 1,8 juta orang pada program B40 menjadi 2,1 juta tenaga kerja dengan B50," ujar Bahlil.
Ia menjelaskan, kebutuhan biodiesel untuk mendukung implementasi B50 diperkirakan mencapai 16,7 hingga 18 juta kiloliter dengan kebutuhan bahan baku minyak sawit sekitar 15,2 hingga 16,3 juta ton. Dari sisi lingkungan, kebijakan tersebut juga diproyeksikan mampu menurunkan emisi gas rumah kaca hingga sekitar 44,46 juta ton CO₂, lebih tinggi dibandingkan capaian program B40.
Menurut Bahlil, pemerintah telah memastikan kesiapan penerapan B50 melalui serangkaian pengujian pada berbagai moda transportasi dan sektor industri, mulai dari kendaraan bermotor, alat berat pertambangan, alat dan mesin pertanian, kereta api, kapal, hingga pembangkit listrik.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa B50 memenuhi standar teknis yang ditetapkan pemerintah serta sesuai dengan spesifikasi yang dipersyaratkan oleh produsen kendaraan, sehingga dinilai layak diterapkan secara luas.
Selain uji laboratorium, implementasi B50 juga telah diuji di sejumlah wilayah dan sektor strategis nasional, di antaranya Kutai Timur, Semarang, Yogyakarta, Cirebon, hingga fasilitas PT Pertamina Patra Niaga di Surabaya.
Bahlil menegaskan, program B50 bukan sekadar meningkatkan kadar campuran biodiesel dalam bahan bakar solar, tetapi menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional melalui optimalisasi sumber daya dalam negeri.
"Launching Program Mandatori B50 bukan sekadar peluncuran sebuah kebijakan, melainkan tonggak bersejarah yang menandai langkah nyata Indonesia dalam memperkuat kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan energi nasional," katanya.
Ia menambahkan, sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut melalui pengembangan energi berbasis biodiesel. Menurutnya, optimalisasi potensi sawit akan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas sekaligus mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?