Foto: Suasana forum diskusi
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Program Studi Magister Pendidikan Matematika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong transformasi pendidikan Indonesia melalui penyelenggaraan Guest Lecture Webinar Nasional bertajuk “Mendesain Pembelajaran dengan Pendekatan Deep Learning: Sinergi Kurikulum Cinta dan Kurikulum Merdeka Menuju Pendidikan Berdampak”, yang diselenggarakan secara daring pada Kamis (9/7/2026).
Webinar Nasional ini menjadi ruang akademik yang mempertemukan dosen, guru, mahasiswa, peneliti, dan praktisi pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia untuk mendiskusikan paradigma baru pembelajaran matematika yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga mampu membangun karakter, spiritualitas, kreativitas, serta kecintaan peserta didik terhadap proses belajar.
Acara kemudian dibuka secara resmi melalui sambutan Wakil Dekan Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan Dr. Muhamad Yunus, M.Si. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa transformasi pendidikan saat ini membutuhkan perubahan paradigma pembelajaran yang tidak hanya berpusat pada penguasaan materi, tetapi juga mampu membentuk manusia yang utuh melalui perpaduan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial.
Menurutnya, implementasi Deep Learning menjadi salah satu pendekatan strategis untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna. Ketika dipadukan dengan semangat Kurikulum Merdeka dan nilai-nilai Kurikulum Cinta, pendidikan akan melahirkan generasi yang tidak sekadar cerdas, tetapi juga memiliki kepedulian, integritas, serta karakter kemanusiaan yang kuat.
Memasuki sesi utama, diskusi dipandu secara interaktif oleh Dr. Elly Susanti, M.Sc., Ketua Program Studi Magister Pendidikan Matematika FITK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Narasumber pertama, Dr. Ahmad Hanif Asyhar, M.Si. dari UIN Sunan Ampel Surabaya, mengangkat tema “Implementasi Kurikulum Cinta dalam Pembelajaran Matematika.” Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa pembelajaran matematika perlu dibangun melalui hubungan emosional yang positif antara guru dan peserta didik. Menurutnya, pendekatan Kurikulum Cinta mampu mengubah persepsi bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit menjadi proses belajar yang menyenangkan, bermakna, dan memerdekakan.
Pemateri menekankan bahwa pembelajaran mendalam (Deep Learning) hanya dapat tercipta ketika peserta didik merasa dihargai, dipercaya, dan memiliki motivasi intrinsik untuk belajar. Oleh karena itu, guru tidak cukup hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga berperan sebagai fasilitator yang menghadirkan rasa aman, nyaman, dan penuh kasih dalam proses pembelajaran.
Sesi berikutnya menghadirkan Dr. Abdussakir, M.Pd., dosen sekaligus pakar Pendidikan Matematika dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yang membawakan materi bertajuk “Belajar Matematika Secara Mendalam Karena dan Untuk Cinta.” Dalam paparannya, Dr. Abdussakir mengajak peserta melihat matematika dari perspektif yang lebih filosofis. Menurutnya, matematika bukan sekadar kumpulan angka, rumus, atau simbol, melainkan sarana untuk memahami keteraturan alam semesta sebagai manifestasi kebesaran Allah SWT. Ia menjelaskan bahwa Deep Learning tidak hanya berbicara tentang kedalaman penguasaan konsep, tetapi juga menyentuh dimensi makna dan nilai. Ketika peserta didik belajar karena cinta terhadap ilmu pengetahuan dan belajar untuk cinta demi memberikan manfaat bagi sesama, maka proses pembelajaran akan menghasilkan pengalaman belajar yang jauh lebih bermakna dibanding sekadar mengejar nilai akademik.
Diskusi yang berlangsung selama hampir empat jam tersebut dipenuhi antusiasme peserta. Ratusan guru, dosen, mahasiswa, peneliti, serta praktisi pendidikan dari berbagai provinsi aktif berdialog mengenai implementasi Deep Learning, strategi penguatan karakter dalam pembelajaran matematika, pemanfaatan teknologi digital, hingga tantangan implementasi Kurikulum Merdeka di berbagai satuan pendidikan.
Melalui forum ilmiah ini, peserta memperoleh perspektif baru bahwa Kurikulum Merdeka menyediakan ruang fleksibilitas dalam pembelajaran, sedangkan Kurikulum Cinta menghadirkan fondasi nilai yang membangun hubungan humanis antara pendidik dan peserta didik. Sinergi keduanya diyakini mampu melahirkan pembelajaran yang lebih mendalam, reflektif, kontekstual, sekaligus berdampak bagi kehidupan nyata.
Penyelenggaraan Guest Lecture Webinar Nasional ini sekaligus mempertegas komitmen Program Studi Magister Pendidikan Matematika FITK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam membangun ekosistem akademik yang adaptif terhadap perkembangan pendidikan abad ke-21. Melalui forum-forum ilmiah yang menghadirkan para pakar nasional, program studi terus memperkuat budaya riset, inovasi pembelajaran, serta kolaborasi akademik lintas perguruan tinggi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?