MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dituntut tidak hanya tajam secara intelektual, tetapi juga harus memiliki spiritualitas yang kokoh. Sebagai organisasi kemahasiswaan berbasis Ahlussunnah wal Jamaah, kader PMII diingatkan untuk tidak melupakan tradisi spiritual pesantren di tengah padatnya arus gerakan sosial-politik.
Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang, M Faisol Fatawi, saat mengisi rutinan kajian kitab kuning di Kantor Pengurus Cabang (PC) PMII Kota Malang.
Kiai Faisol, sapaan pria asal Bungah, Gresik, yang juga alumnus PMII Yogyakarta dan Pondok Pesantren Ihyaul Ulum Dukun, Gresik ini, hadir untuk membedah kitab klasik karya Imam Al-Ghazali yang monumental, Ayyuhal Walad.
Dalam kajian tersebut, Kiai Faisol menekankan pentingnya menyelaraskan antara ilmu dan amal nyata. Menurutnya, ilmu yang didapatkan di bangku kuliah maupun organisasi akan sia-sia jika tidak diimplementasikan untuk kemaslahatan masyarakat.
"Orang tidak bisa hanya mengandalkan ilmu tanpa praktik nyata atau amal. Di sinilah letak relevansi kuatnya dengan konsep harakah (pergerakan) yang menjadi doktrin utama kita di PMII," ujar Kiai Faisol di hadapan puluhan kader yang menyimak dengan takzim.
Ia menambahkan, setiap gerakan, advokasi, hingga diskusi intelektual yang dilakukan oleh kader harus diniatkan sebagai ibadah dan pengabdian nyata kepada masyarakat.
Selain mengulas tentang amal, Kiai Faisol memberikan catatan penting bagi aktivis mahasiswa saat ini. Di tengah kesibukan mengawal isu-isu sosial dan politik, ia mewanti-wanti agar kader tidak menjauhi aktivitas spiritual, khususnya dzikir.
"Kader PMII jangan sampai anti dzikir. Intelektualitas itu sangat penting, tetapi tanpa dzikir, pergerakan kita akan kehilangan berkah dan ruh perjuangannya," tegas akademisi yang kini aktif mengabdi di PCNU Kota Malang tersebut.
Secara ilmiah, Kiai Faisol mengaitkan aktivitas dzikir dengan konsep psikologi modern, yaitu well-being (kesejahteraan psikologis dan batin).
Ia menjelaskan bahwa manusia yang mampu menyeimbangkan kapasitas intelektual (ilmu), kontribusi sosial (amal), dan ketenangan batin (dzikir) akan memiliki kesehatan mental yang jauh lebih stabil.
Bagi seorang aktivis, dzikir berfungsi sebagai jangkar spiritual agar tetap ikhlas, rendah hati, dan terhindar dari kejenuhan batin (burnout) di tengah kerasnya dinamika pergerakan mahasiswa.
Kajian rutin kitab Ayyuhal Walad di Kantor PC PMII Kota Malang ini diharapkan menjadi oase spiritual yang konsisten bagi para aktivis mahasiswa di Malang yang tergabung di organisasi PMII.
Melalui rutinan ini, PC PMII Kota Malang berkomitmen untuk terus mencetak kader ulul albab, kader yang tidak hanya kritis dan berani di ruang-ruang publik, namun juga tunduk, tenang, dan syahdu dalam untaian doa serta dzikir kepada Allah SWT.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?