Banner Iklan

Jaga Well-Being di PMII dengan Dzikir

Admin JSN
15 Juli 2026 | 22.44 WIB Last Updated 2026-07-15T15:44:49Z
Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang, Prof. Dr. KH. M. Faisol Fatawi, memberikan peringatan keras sekaligus pesan mendalam kepada para aktivis mahasiswa.

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang, Prof. Dr. KH. M. Faisol Fatawi, memberikan peringatan keras sekaligus pesan mendalam kepada para aktivis mahasiswa. Beliau menegaskan agar seluruh kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Malang senantiasa menyelaraskan ketajaman intelektual dengan spiritualitas pesantren yang kokoh.

Sebagai organisasi kemahasiswaan berbasis Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), PMII dinilai tidak boleh melulu fokus pada gerakan sosial-politik semata, melainkan wajib merawat tradisi spiritualitas kepesantrenan.

"Kader PMII jangan sampai anti-dzikir. Intelektualitas itu memang sangat penting, tetapi tanpa diiringi dengan dzikir, maka gerakan kita akan kehilangan berkah serta ruh perjuangannya," tegas Kiai Faisol saat mengisi kajian rutin kitab kuning Ayyuhal Walad karya Imam Al-Ghazali di Kantor PC PMII Kota Malang.

Dalam kajian yang dihadiri oleh puluhan kader tersebut, akademisi sekaligus guru besar asal Bungah, Gresik ini mengingatkan pentingnya mengimplementasikan setiap ilmu yang didapat dari bangku kuliah maupun proses berorganisasi. Kiai Faisol menggarisbawahi bahwa ilmu tanpa pengamalan yang nyata adalah kesia-siaan, dan sebaliknya, beramal tanpa landasan ilmu akan kehilangan arah perjuangan.

"Orang tidak bisa hanya mengandalkan ilmu yang bertumpuk di kepala tanpa ada praktik nyata atau amal. Di sinilah relevansi kuatnya dengan konsep Harakah (pergerakan) yang menjadi doktrin utama kita di PMII," tutur alumnus PMII Yogyakarta dan Pondok Pesantren Ihyaul Ulum Dukun, Gresik tersebut.

Menurutnya, setiap aksi, advokasi, dan diskusi intelektual yang dilakukan oleh kader harus diniatkan sebagai wujud nyata pengamalan ilmu demi kemaslahatan masyarakat luas, sehingga pergerakan PMII tidak kering dari nilai ibadah. Aktivisme yang padat sering kali membuat mahasiswa melupakan esensi penataan batin.

Secara ilmiah, Kiai Faisol mengaitkan pentingnya integrasi antara ilmu, amal, dan dzikir dengan konsep psikologi modern, yaitu well-being (kesejahteraan psikologis dan batin).

Berdasarkan kajian psikologi positif, manusia yang mampu menyelaraskan kapasitas kognitif (ilmu), kontribusi sosial (amal), dan ketenangan batin (dzikir) akan mencapai tingkat kepuasan hidup serta kesehatan mental yang optimal.

Bagi para aktivis mahasiswa, dzikir dinilai bukan sekadar rutinitas lisan, melainkan jangkar spiritual agar tetap membumi, ikhlas, dan tidak mudah mengalami kelelahan batin (burnout) di tengah kerasnya arus pergerakan.

Kajian rutin ini pun diharapkan dapat menjadi oase spiritual bagi para aktivis mahasiswa. Lewat agenda ini, PC PMII Kota Malang berkomitmen untuk terus mencetak kader Ulul Albab, kader yang tidak hanya kritis di jalanan dan ruang akademis, tetapi juga tunduk dan syahdu dalam untaian doa kehadirat Allah SWT.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Jaga Well-Being di PMII dengan Dzikir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now