BLITAR | JATIMSATUNEWS.COM: Program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya Kelompok 61 di Desa Bangsri, Kabupaten Blitar, menjadikan digitalisasi UMKM sebagai salah satu fokus kegiatan. Dari 70 UMKM aktif di desa, lima diantaranya dipilih untuk dilaksanakan pendampingan intensif, sebuah proses yang membuka mata pada persoalan yang lebih besar dari sekadar pemasaran digital namun kearifan lokal yang perlahan kehilangan penerusnya.
Pendampingan Kelompok 61 tidak berhenti pada sosialisasi, melainkan langsung menyentuh praktik. Mahasiswa duduk bersama pelaku usaha dan mendampingi pembuatan akun Shopee, mulai dari pengaturan profil toko, unggah foto produk, deskripsi, hingga harga dan opsi pengiriman, hal-hal teknis yang selama ini jadi hambatan bagi pelaku usaha yang belum terbiasa berjualan daring.
Selain itu, dilakukan juga pemasangan titik lokasi usaha di Google Maps agar UMKM yang sebelumnya tidak terdaftar secara daring bisa ditemukan pembeli dari luar desa tanpa harus dicari door to door. Pelatihan branding sederhana turut diberikan, mencakup pembuatan logo, penataan foto produk, dan penyusunan narasi singkat tentang cerita di balik produk, penting mengingat usaha seperti gula kelapa dan kerupuk sermier sebenarnya punya nilai historis yang belum pernah dikomunikasikan sebagai nilai jual.
Kelompok 61 juga menyusun pendataan menyeluruh seluruh UMKM aktif di Bangsri, mencakup nama usaha, jenis produk, lokasi, kontak, dan tautan akun digital yang dimiliki. Data ini rencananya dirangkum dalam satu profil Linktree resmi desa, etalase digital tunggal yang memuat tautan ke seluruh UMKM sekaligus. Dengan begitu, calon pembeli atau pemangku kepentingan luar tidak perlu mencari satu per satu akun yang tersebar, cukup satu tautan yang dikelola desa. Pendataan ini juga menjadi bentuk dokumentasi yang lebih permanen dibanding data yang hanya tersimpan di ponsel masing-masing pelaku usaha.
Dari kelima UMKM yang didampingi, usaha gula kelapa menyita perhatian khusus. Menurut Pak Supeni selaku Kepala Desa Bangsri, usaha gula kelapa mengalami penurunan drastis selama tujuh tahun terakhir, bukan karena kualitas atau permintaan pasar yang menurun, melainkan karena semakin sedikit generasi muda yang mau menekuni sektor agraria. Mayoritas anak muda Bangsri kini memilih merantau ke kota untuk bekerja di bidang teknik atau perkantoran, pilihan yang perlahan mengikis regenerasi pengrajin gula kelapa.
Namun jejak kejayaannya masih terasa, pohon kelapa masih rimbun, rumah-rumah masih memproduksi gula kelapa secara tradisional, lengkap dengan aroma gula yang direbus dan suara ketukan cetakan bambu. Di balik pemandangan yang tampak "masih hidup" ini tersimpan kecemasan yaitu siapa yang akan melanjutkan ketika generasi pengrajin saat ini menua? Dalam konteks inilah pendampingan digital, dari akun Shopee, titik lokasi Google Maps, branding, hingga Linktree desa, menemukan maknanya yang lebih dalam. Bukan sekadar menaikkan omzet, langkah ini adalah upaya memberi visibilitas baru pada produk yang selama ini dianggap "biasa saja" oleh generasi muda, agar persepsinya bergeser dari warisan yang terlupakan menjadi potensi ekonomi yang relevan bagi masa kini.
Digitalisasi semata tentu tidak cukup menjawab akar persoalan regenerasi, akun Shopee dan titik lokasi Google Maps tidak serta-merta menghadirkan generasi muda yang mau menyadap nira dan mengolah gula kelapa. Namun sebagai bagian dari program MMD UB Kelompok 61, rangkaian langkah ini menjadi upaya awal yang berdampak bagi pelaku usaha memiliki jejak digital yang jelas, sekaligus mendokumentasikan cerita di balik produk sebelum kearifan ini benar-benar tinggal kenangan. Pendataan dan Linktree desa juga diharapkan menjadi warisan yang bertahan lebih lama dari masa penugasan MMD itu sendiri, modal bagi desa untuk melanjutkan promosi secara mandiri setelah mahasiswa Kelompok 61 kembali ke kampus.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?