Banner Iklan

Taklukkan Gunung Pundak, Siswa Mudipat Porong Tempa Jiwa Pemimpin dan Pecinta Lingkungan

07 Juni 2026 | 11.19 WIB Last Updated 2026-06-07T04:19:41Z
Jatimsatunews,com, Sidoarjo - Langkah demi langkah menapaki jalur terjal Gunung Pundak menjadi pengalaman berharga bagi lebih dari 100 siswa SMP Muhammadiyah 4 Porong (Mudipat Porong). Melalui kegiatan Eco Creative Camp dan Survival Camp Hizbul Wathan yang digelar pada 21–22 Mei 2026, para pelajar diajak belajar langsung tentang keberanian, ketangguhan, kepemimpinan, serta kepedulian terhadap lingkungan hidup.

Sejak Kamis pagi, rombongan siswa bersama para guru pendamping berangkat dari sekolah menuju kawasan Pacet, Mojokerto. Perjalanan ini tidak sekadar bertujuan mencapai puncak gunung, melainkan menjadi ruang pembelajaran terbuka yang menghadirkan banyak pelajaran kehidupan.

Dalam apel pelepasan, Kepala SMP Muhammadiyah 4 Porong, Rozaq Akbar mengingatkan bahwa setiap langkah pendakian memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar aktivitas fisik.

"Perjalanan ini bukan hanya tentang sampai di puncak, tetapi tentang bagaimana kita belajar berani, saling menjaga, dan tetap bersyukur dalam keadaan apa pun," ujarnya.

Menariknya, kegiatan tahun ini juga menjadi sarana kaderisasi kepemimpinan bagi siswa kelas 9. Kepanitiaan kegiatan sebagian besar dipercayakan kepada mereka, mulai dari melakukan survei lokasi, menyiapkan rute pendakian, mengatur kebutuhan teknis, hingga membantu memastikan keamanan dan keselamatan peserta selama kegiatan berlangsung.

Melalui amanah tersebut, para siswa belajar secara langsung bagaimana merencanakan kegiatan, mengambil keputusan, bekerja sama dalam tim, serta bertanggung jawab terhadap keberhasilan sebuah program. Mereka tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga menjadi penggerak kegiatan.

Di sisi lain, para guru turut mendampingi seluruh rangkaian kegiatan, termasuk saat pendakian menuju puncak Gunung Pundak. Kehadiran mereka bukan sekadar sebagai pengawas, melainkan sebagai pionir keteladanan dalam ketangguhan, kedisiplinan, dan semangat pantang menyerah. Guru dan siswa berjalan bersama, saling menguatkan dan menghadapi tantangan yang sama di jalur pendakian.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Khusnul Abidin, menjelaskan bahwa kaderisasi yang dibangun sekolah bertumpu pada budaya keteladanan dan penghormatan antargenerasi.

"Senioritas di sini dibentuk dengan saling memberi teladan dan saling menghormati. Guru memberi contoh kepada siswa, siswa kelas 9 memberi contoh kepada adik-adiknya. Mereka belajar memimpin bukan dengan memerintah, tetapi dengan melayani dan bertanggung jawab. Inilah kaderisasi," ujarnya.

Pesan tersebut tampak hidup sepanjang perjalanan. Medan yang menanjak dengan akar-akar pohon yang melintang sempat menguras tenaga para peserta. Namun suasana kebersamaan khas Hizbul Wathan begitu terasa. Siswa yang lebih kuat membantu temannya yang mulai kelelahan. Mereka saling menyemangati, berbagi bekal dan air minum, hingga memperlambat langkah demi memastikan tidak ada anggota rombongan yang tertinggal.

Perjuangan itu akhirnya terbayar ketika seluruh rombongan berhasil mencapai puncak Gunung Pundak sekitar pukul 12.00 WIB. Rasa lelah seakan sirna berganti kebanggaan saat hamparan pegunungan terlihat dari ketinggian.

Usai pendakian, kegiatan berlanjut di Bumi Perkemahan Indreng Genitri, Pacet. Di lokasi ini, para siswa mengikuti rangkaian Eco Creative Camp yang memadukan edukasi lingkungan dengan penguatan kreativitas.

Malam hari menjadi momen yang tak kalah berkesan. Suasana dingin perkemahan berubah hangat melalui pentas seni yang ditampilkan para peserta. Beragam penampilan mulai dari bernyanyi bersama hingga drama kreatif menghadirkan tawa dan keakraban di antara siswa.

Keesokan harinya, peserta mendapatkan pembelajaran khusus tentang pengelolaan sampah dan gaya hidup ramah lingkungan (eco living). Dalam sesi ini, siswa diajak memahami bahwa menjaga bumi tidak cukup hanya dengan membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga melalui kebiasaan sehari-hari yang selalu mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan.

Mereka belajar memilah sampah organik dan anorganik, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, serta memahami prinsip reduce, reuse, dan recycle. Para siswa juga diajak menyadari bahwa setiap aktivitas manusia, sekecil apa pun, memiliki konsekuensi terhadap kelestarian alam.

Materi eco living sengaja diberikan agar peserta memahami bahwa kepedulian lingkungan bukan sekadar program sesaat, melainkan cara berpikir dan gaya hidup yang harus dibiasakan. Karena itu, pembelajaran tersebut tidak berhenti di lokasi perkemahan. Setiap kelompok siswa akan membawa hasil pembelajaran tersebut menjadi proyek nyata di lingkungan sekolah.

Proyek tersebut antara lain berupa gerakan pemilahan sampah, kampanye pengurangan sampah plastik, penguatan budaya bersih, serta berbagai inovasi sederhana yang mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang lebih hijau dan berkelanjutan. Dengan demikian, pengalaman belajar di alam tidak berhenti menjadi kenangan, tetapi berlanjut menjadi aksi nyata yang memberi dampak bagi lingkungan sekitar.

Sebelum kegiatan berakhir, seluruh peserta melaksanakan salat Jumat berjamaah dan melakukan aksi bersih-bersih area perkemahan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan yang telah menjadi tempat belajar mereka selama dua hari.

Menariknya, saat upacara penutupan berlangsung, hujan deras mengguyur lokasi kegiatan. Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat para siswa. Mereka tetap mengikuti rangkaian penutupan hingga selesai dengan penuh antusias. Guyuran hujan justru menjadi penanda akhir perjalanan yang sulit dilupakan.

Bagi para peserta, dua hari di alam terbuka bukan hanya tentang mendaki gunung atau berkemah. Lebih dari itu, mereka belajar tentang arti kerja sama, ketangguhan menghadapi tantangan, kepemimpinan yang lahir dari keteladanan, rasa syukur atas nikmat Allah SWT, serta tanggung jawab sebagai generasi yang turut menjaga bumi.

Ketika rombongan kembali ke Porong, mereka mungkin membawa tubuh yang lelah. Namun di dalam diri mereka tumbuh pengalaman, persahabatan, jiwa kepemimpinan, dan kesadaran baru bahwa mencintai lingkungan bukan sekadar slogan, melainkan tindakan nyata yang dimulai dari kebiasaan sehari-hari.

Penulis: Abu Azzam

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Taklukkan Gunung Pundak, Siswa Mudipat Porong Tempa Jiwa Pemimpin dan Pecinta Lingkungan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now