Banner Iklan

Sistem Komunikasi Indonesia di Era Digital Menakar Dampak Fenomena Begadang Terhadap Kualitas Interaksi

Admin JSN
30 Juni 2026 | 11.31 WIB Last Updated 2026-06-30T05:38:18Z

 

Ilustrasi Sumber : Pinterest.

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM - Perkembangan teknologi digital saat ini telah mengubah paradigma masyarakat Indonesia dalam memproduksi, mendistribusikan, dan mengonsumsi pesan secara fundamental. Kehadiran ruang siber yang melampaui batas ruang dan waktu menawarkan saluran interaksi tanpa henti, yang memicu pergeseran pola adaptasi kultural secara masif. Di lingkungan urban, konvergensi media tidak hanya mempercepat arus sirkulasi informasi makro, tetapi juga merombak total manajemen waktu personal pada tingkat mikro. Aktivitas sosial, koordinasi organisasi, hingga konsumsi konten hiburan yang kini  berbasis platform digital kerap kali menggeser prioritas istirahat malam, sehingga melahirkan fenomena begadang yang kian lumrah terjadi di berbagai lapisan masyarakat kontemporer.

Sebagai bagian dari civitas akademika Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, saya, Nayla Zahra Ainun Setiawan, menyusun kajian ilmiah yang komprehensif ini di bawah bimbingan Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A. guna menelaah dinamika tersebut dari kacamata sistem komunikasi interpersonal dan kelompok. Fokus utama dalam analisis ini adalah bagaimana kebiasaan begadang secara sistemis mendistorsi kualitas interaksi sosial mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ekosistem digital, malam hari sering kali dianggap sebagai waktu paling "premium" dan produktif untuk berinteraksi di ruang virtual. Namun, jika ditinjau dari sudut pandang sosiologi komunikasi dan psikologi sosial, pengurangan waktu tidur ini memicu konsekuensi yang sangat serius terhadap efektivitas proses penyampaian serta penerimaan pesan.

Dalam lanskap ilmu komunikasi, interaksi virtual yang intensif pada malam hari dapat dianalisis melalui teori Computer-Mediated Communication (CMC). Gawai dan media sosial menyediakan apa yang disebut sebagai ruang siber ekstensif, tempat di mana hambatan jarak fisik dapat dieliminasi secara mutlak. Mahasiswa, sebagai kelompok digital natives, memanfaatkan ruang ini untuk membangun jaringan sosial tanpa batas. Sayangnya, kemudahan teknis ini menciptakan efek ketergantungan yang destruktif terhadap waktu biologis mereka. Sindrom Fear of Missing Out (FOMO)-atau ketakutan psikologis akan tertinggal arus informasi di grup obrolan digital seperti WhatsApp atau Discord, memaksa mahasiswa untuk menunda waktu tidur mereka demi menjaga eksistensi virtual tetap aktif hingga dini hari. 

Secara mendasar, kurang tidur yang dipicu oleh tingginya durasi penggunaan gawai pada malam hari berbanding lurus dengan timbulnya gangguan fungsi kognitif yang disebut sleep deprivation. Mahasiswa yang konsisten mengalami pemotongan waktu istirahat biologis akan mengalami penurunan stabilitas emosional yang drastis. Ketika kondisi fisik berada pada titik kelelahan ekstrem, mekanisme pertahanan psikologis manusia dalam mengontrol emosi menjadi rapuh. Akibatnya, dalam komunikasi interpersonal, mereka menjadi pribadi yang lebih sensitif, mudah tersinggung, egois dan kurang mampu menoleransi perbedaan pendapat. Ketidakstabilan psikologis ini bertindak sebagai hambatan emosional nyata (psychological noise) yang merusak keharmonisan hubungan sosial di lingkungan keluarga maupun internal organisasi.

Selain merusak aspek stabilitas emosional, fenomena kurang tidur ini juga secara eksponensial melemahkan daya konsentrasi serta kemampuan mendengar aktif (active listening). Proses komunikasi yang efektif membutuhkan konsentrasi penuh dari kedua belah pihak agar proses penyandian balik pesan (decoding) berjalan selaras dengan intensi komunikator. Ketika koordinasi kuliah atau rapat organisasi berlangsung pada pagi hari, mahasiswa yang kelelahan akibat begadang sering kali gagal menangkap esensi pesan teks maupun verbal secara utuh. Kegagalan fokus inilah yang memicu terjadinya salah tafsir makna (miscommunication) dan memicu riak konflik internal yang kontraproduktif. Kualitas interaksi yang awalnya diharapkan berjalan efektif, kaya, dan harmonis justru mengalami degradasi kualitas akibat berkurangnya kapasitas kognitif sang penerima pesan.

Kendati demikian, dalam perspektif determinisme teknologi, fenomena penggeseran waktu interaksi ini tidak dapat dinilai secara hitam-putih atau dipandang negatif sepenuhnya. Ruang siber pada malam hingga dini hari bagi sebagian mahasiswa telah bertransformasi menjadi laboratorium kolaborasi kreatif yang sangat demokratis. Di jam-jam sepi tersebut, kelompok-kelompok mahasiswa sering kali menemukan iklim diskusi yang jauh lebih cair dan bebas dari tekanan birokrasi fisik yang kaku. Melalui platform obrolan daring, mereka bertukar ide-ide visioner, menyusun rancangan program kerja organisasi, hingga mengeksekusi proyek akademik bersama dengan fokus yang lebih tinggi karena minimnya gangguan fisik atau interupsi sosial dari lingkungan luar.

Namun, ruang kolaboratif malam hari ini tetap menyisakan paradoks komunikasi yang mendalam. Efisiensi mekanis yang ditawarkan oleh teknologi digital pada akhirnya harus dibayar mahal oleh penurunan kualitas hubungan humanis yang bersifat tatap muka (face-to-face communication). Mahasiswa yang terjebak dalam siklus begadang cenderung mengalami isolasi sosial di dunia nyata; mereka hadir secara fisik dalam lingkungan sosialnya tetapi secara mental terdistraksi oleh kelelahan kognitif atau layar gawai mereka sendiri. Gejala ini memperlemah kepekaan empati sosial yang menjadi fondasi utama dalam membangun interaksi kemasyarakatan yang sehat di Indonesia.

Secara konklusif, kebiasaan begadang yang dipicu oleh keterikatan tinggi pada arus tegnologi informasi memiliki pengaruh deterministik yang kuat terhadap efektivitas "Sistem Komunikasi Indonesia" pada level mikro pada mahasiswa. Fleksibilitas berinteraksi selama 24 jam penuh di era disrupsi digital ini pada hakikatnya merupakan pisau bermata dua. Kemudahan teknis tersebut tidak boleh mengorbankan aspek humanis, ketajaman pesan, serta kesehatan mental penggunanya. Oleh karena itu, penanaman literasi digital yang bijak serta menejemen waktu yang seimbang menjadi persyaratan mutlak yang tidak bisa ditawar lagi, agar generasi muda mampu mempertahankan pola komunikasi interpersonal secara sehat, produktif, efektif dan harmonis demi kemajuan bangsa di masa depan.

Daftar Pustaka

Ahmad, K. R., Amir, L. S., & Hapipi, M. (2024). Pengaruh media sosial terhadap pola komunikasi dan hubungan sosial dalam kalangan generasi Z. Sanskara Ilmu Sosial Dan Humaniora, 1(02), 85–94. https://doi.org/10.58812/sish.v1i02.364

Amanda, D., Saragih, I. B., Azizi, M. R., Lapasatu, M., & Arsyandi, N. (2025). Dampak kurang tidur akibat begadang terhadap fungsi kognitif dan konsentrasi pada mahasiswa. Jurnal Pendidikan dan Sastra Inggris, 5(2), 93–101. https://doi.org/10.55606/jupensi.v5i2.5160 

Maulinda, N. D., Priasmoro, D. P., & Fani, R. T. (2025). Hubungan intensitas penggunaan media sosial dengan kualitas tidur pada remaja. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, 10(1), 106–113. https://doi.org/10.30651/jkm.v10i1.25321

Permatasari, J. F., Alkatiri, N. R., & Irandhy, A. Z. (2024). Terjebak di dunia FOMO: Tantangan mental Generasi Z di era media sosial. Prosiding Seminar Nasional Ilmu Ilmu Sosial (SNIIS), 3, 929–936. https://proceeding.unesa.ac.id/index.php/sniis/article/view/3878/1161 


Penulis : Nayla Zahra Ainun Setiawan

Editor : MRF


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Sistem Komunikasi Indonesia di Era Digital Menakar Dampak Fenomena Begadang Terhadap Kualitas Interaksi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now