![]() |
| Ilustrasi Sumber : Pinterest. |
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM - Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Jika dahulu komunikasi dilakukan secara tatap muka atau melalui sirat yang membutuhkan waktu lama, kini informasi dapat diterima dalam hitungan detik melalui media sosial dan internet.
Perubahan tersebut membawa berbagai kemudahan, terutama bagi Generasi Z (Gen-Z), yaitu generasi yang lahir dan tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital.
Sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, saya Ridha Ainur Rahma, Menyusun artikel ini di bawah bimbingan Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A. karena sebagai pribadi yang lahir sebagai Generasi Z, Gen-Z dikenal sebagai digital natives atau generasi yang sejak kecil telah terbiasa menggunakan internet dan teknologi komunikasi. Penelitian menunjukkan bahwa generasi ini memiliki tingkat penggunaan media digital yang sangat tinggi sehingga teknologi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, tingginya intensitas penggunaan teknologi juga membuat Gen-Z menghadapi berbagai tnatangan komunikasi, seperti penyebaran hoaks, banjir informasi (information overload), dan menurunnya etika berkomunikasi di ruang digital.
Di era globalisasi, sistem komunikasi yang baik menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda. Kemampuan berkomunikasi tidak lagi hanya sebatas menyampaikan pesan, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, serta menggunakan media digital secara bertanggung jawab. Oleh karena itu, peran Gen-Z dalam mengahadapi tantangan komunikasi global menjadi isu yang perlu mendapat perhatian serius.
Tantangan komunikasi global yang menciptakan berbagai persoalan akibat arus informasi yang bergerak terlalu cepat. Tantangan tersebut meliputi penyebaran hoaks, misinformasi, ujaran kebencian, hingga information overload atau banjir informasi. Berdasarkan penelitian Syahfitrid dkk. (2026), Generasi Z merupakan kelompok yang paling rentan mengalami information overload atau banjir informasi akibat tingginya intensitas penggunaan media digital dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, menurut Thomas dkk. (2021), menunjukan bahwa rendahnya literasi media digital membuat seseorang lebih mudah mempercayai dan menyebarkan berita palsu (false news) yang beredar di internet.
Pihak yang paling berdampak sekaligus memiliki peran penting dalam menghadapi tnatangan tersebut adalah Gen Z. sebagai generasi yang paling aktif menggunakan teknologi digital, Gen-Z tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga produsen dan penyebar informasi melalui berbagai platform media sosial. Tantangan komunikasi global semakin terasa pada era digital saat ini ketika hampir seluruh aktivitas manusia bergantung pada teknologi informasi dan internet. Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence), algoritma media sosial, dan berbagai platform digital membuat arus informasi menjadi semakin cepat dan sulit untuk dikendalikan yang dimana fenomena tersebut terjadi hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Media sosial seperti Instagram, Tiktok dan berbagai aplikasi pesan instan menjadi ruang utama terjadinya komunikasi global. Melalui platform tersebut, seseorang dapat berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai negara tanpa dibatasi oleh jarak dan waktu.
Untuk menghadapi tantangan komunikasi global, Gen-Z perlu melakukan beberapa langkah untuk mencegah penyalahgunaan sistem komunikasi di era global. Menurut Juliyah dkk. (2025), perkembangan teknologi di era 5.0 menuntut Gen-Z untuk mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi komunikasi yang sangat cepat sekaligus tetap mempertahankan kualitas komunikasi interpersonal.
Selain itu, menurut Safitri dan Desriyeni (2026) mengyngkapkan bahwa terdapat hubungan yang era antara tingkat literasi digital dan etika komunikasi di media sosial. Semakin tinggi literasi digital seseorang, semakin baik pula perilaku komunikasinya di ruang digital.
Dalam kondisi tersebut, Gen-Z memegang peranan penting. Sebagai generasi yang paling dekat dengan teknologi, mereka tidak boleh hanya menjadi pengguna media digital, tetapi juga harus menjadi generasi yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab. Pada akhirnya, sistem komunikasi yang baik bukan hanya soal kemahiran mengoperasikan teknologi, melainkan bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk membangun hubungan yang positif, menyebarkan kebenaran, dan menciptakan perubahan sosial yang berdampak baik.
Daftar Pustaka
Juliyah, J., Siringoringo, R., Rohma, S., & Laksana, A. (2025). Tantangan komunikasi generasi Z dalam perkembangan digital di era teknologi 5.0. Jurnal Ilmu Komunikasi, Administrasi Publik dan Kebijakan Negara, 2(1), 48–59. https://doi.org/10.62383/komunikasi.v2i1.138
Safitri, D., & Desriyeni, D. (2026). The relationship between digital literacy and communication ethics among generation Z on social media. Mikailalsys: Journal of Multidisciplinary Science. https://ejournal.yasinalsys.org/mikailalsys/article/view/9938
Syahfitri, A., Janna, R., Pane Ardini, Y., et.al. (2026). Information overload dan tantangan literasi digital pada generasi Z. Jurnal Kolaboratif Sains, 9(6). https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/JKS/article/view/11322
Thomas, P. B., Barron, D., Ismail, N., & Haryanto, S. (2021). Pilot study suggests online media literacy programming reduces belief in false news in Indonesia. arXiv. https://arxiv.org/abs/2107.08034
Penulis : Ridha Ainur Rahma
Editor : MRF



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?