Banner Iklan

Rupiah Kembali Menguat di Bawah Rp 18.000 per Dolar AS, Kepercayaan Pasar Mulai Pulih

Anis Hidayatie
12 Juni 2026 | 16.47 WIB Last Updated 2026-06-12T09:48:04Z
Rupiah kembali menguat di bawah Rp 18.000 per Dolar AS, kepercayaan pasar mulai pulih./Instagram @kemenkeuri

JAKARTA, JATIMSATUNEWS.COM: Upaya stabilisasi ekonomi yang dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) mulai menunjukkan hasil positif. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami penguatan dan kini kembali berada di bawah level Rp18.000 per dolar AS.

Kondisi ini menjadi sinyal meningkatnya kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi.

Penguatan rupiah tersebut tidak terlepas dari berbagai langkah strategis yang ditempuh Bank Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. BI telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,5 persen, meningkatkan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta memperkuat instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik minat investor dan menjaga stabilitas pasar keuangan.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan bahwa kebijakan tersebut mulai memberikan dampak positif terhadap arus modal asing yang masuk ke Indonesia.

"Hal ini tercermin dari meningkatnya aliran masuk modal asing ke instrumen SRBI pasca lelang SRBI pada 10 Juni 2026. Geliat aliran masuk modal asing juga mulai kembali terjadi di pasar SBN, terutama pada tenor pendek dan menengah," ujar Ramdan dalam keterangan resminya yang diterima pada Jumat (12/6/2026).

Menurutnya, meningkatnya minat investor asing terhadap instrumen keuangan domestik menunjukkan kepercayaan pasar yang semakin membaik terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Arus modal yang kembali masuk turut memberikan dukungan terhadap penguatan nilai tukar rupiah.

"Sejalan dengan perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami penguatan dan kembali berada di bawah level Rp18.000 per dolar AS," tambahnya.

Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan akan tetap menjaga kewaspadaan terhadap berbagai dinamika global yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar. Ketidakpastian arah kebijakan moneter negara maju, ketegangan geopolitik, hingga perlambatan ekonomi global masih menjadi faktor yang perlu dicermati secara serius.

Untuk menjaga momentum penguatan rupiah, BI memastikan akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen stabilisasi yang dimiliki. Langkah tersebut dilakukan melalui intervensi pasar valuta asing baik di pasar domestik maupun offshore.

"Bank Indonesia juga akan terus mengoptimalkan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi NDF (Non-Deliverable Forward) di pasar offshore serta transaksi spot dan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) di pasar domestik secara konsisten dan terukur," tegas Ramdan.

Penguatan rupiah yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menjadi kabar positif bagi perekonomian nasional. Selain mampu menjaga daya beli masyarakat terhadap barang impor, stabilitas nilai tukar juga menjadi faktor penting dalam menjaga inflasi dan menciptakan iklim investasi yang kondusif.

Para pelaku pasar menilai tren penguatan rupiah saat ini menunjukkan bahwa kombinasi kebijakan moneter yang tepat serta meningkatnya kepercayaan investor mulai membuahkan hasil. Namun demikian, kehati-hatian tetap diperlukan mengingat kondisi ekonomi global yang masih penuh tantangan.

Dengan terus mengedepankan stabilitas ekonomi dan memperkuat koordinasi kebijakan, pemerintah dan Bank Indonesia optimistis ketahanan ekonomi Indonesia dapat terus terjaga di tengah dinamika perekonomian dunia yang bergerak cepat. ***


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Rupiah Kembali Menguat di Bawah Rp 18.000 per Dolar AS, Kepercayaan Pasar Mulai Pulih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now