![]() |
| Sumber Foto : https://hiling.indozone.id/ |
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM : Keripik tempe menjadi salah satu kearifan lokal yang sampai kini tetap autentik di Malang raya. Berjalannya waktu keripik tempe tetap menjadi salah satu oleh-oleh dari Malang yang banyak dicari oleh orang-orang dalam kota maupun luar kota. Cita rasanya yang gurih dan renyah, dipadukan dengan proses pembuatan tradisional, menjadikan makanan ini memiliki daya tarik tersendiri di tengah maraknya makanan modern.
Tidak hanya sekadar camilan, keripik
tempe juga mencerminkan kreativitas dan ketahanan ekonomi masyarakat lokal.
Berawal dari usaha rumahan sederhana, kini keripik tempe berkembang menjadi
produk unggulan yang mampu mendukung perekonomian warga, khususnya di kawasan
Sanan, Malang. Berbagai inovasi rasa dan kemasan terus dilakukan agar tetap
diminati berbagai kalangan tanpa menghilangkan ciri khas tradisionalnya.
Keberadaan keripik tempe menunjukkan
bahwa kuliner tradisional dapat bertahan dan bersaing di era modern apabila
terus dijaga kualitas serta keasliannya. Oleh karena itu, keripik tempe bukan
hanya sekadar oleh-oleh, tetapi juga bagian dari identitas budaya Malang yang
patut dilestarikan dan dibanggakan.
Sejarah pembuatan keripik tempe
sebagai salah satu UKM
Awalnya masyarakat Sanan di Kota
Malang hanya memproduksi tempe biasa yang digunakan sebagai lauk sehari-hari.
Tempe dibuat dari kedelai yang difermentasi menggunakan ragi tempe melalui
proses tradisional, seperti perebusan kedelai, pengupasan kulit, perendaman
semalaman, pencampuran ragi, hingga fermentasi selama kurang lebih dua hari. Cara
tradisional ini masih dipertahankan hingga sekarang karena dianggap mampu
menghasilkan cita rasa yang khas dan autentik. Seiring waktu, produksi tempe
menjadi bagian penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat Sanan.
Perkembangan industri tempe di Sanan
mulai meningkat pesat pada tahun 1970-an. Banyak warga mendirikan industri
rumahan dan menjadikan produksi tempe sebagai mata pencaharian utama keluarga.
Namun, saat krisis ekonomi tahun 1998 terjadi, harga kedelai mengalami kenaikan
yang cukup tinggi sehingga penjualan tempe menurun. Kondisi tersebut mendorong
masyarakat untuk berinovasi dengan mengolah tempe menjadi keripik tempe agar
memiliki nilai jual lebih tinggi dan tahan lama. Tempe diiris tipis, diberi
adonan tepung berbumbu, lalu digoreng hingga renyah. Dari inovasi inilah
keripik tempe khas Malang mulai dikenal luas sebagai oleh-oleh daerah.
Seiring perkembangan zaman, keripik
tempe di Malang tidak hanya menjadi makanan khas, tetapi juga berkembang
sebagai usaha mikro masyarakat untuk mempertahankan dan meningkatkan nilai jual
tempe. Banyak pelaku usaha mulai melakukan inovasi rasa, kemasan, hingga
pemasaran digital agar mampu bersaing di era modern. Selain itu, penggunaan
teknologi seperti mesin pengiris tempe juga mulai diterapkan untuk mempercepat
proses produksi dan menjaga kualitas produk. Hal ini menunjukkan bahwa keripik
tempe tidak hanya memiliki nilai kuliner, tetapi juga berperan penting dalam
mendukung perekonomian masyarakat lokal di Malang.
Proses pembuatan keripik tempe di
Sanan
Proses pembuatan keripik tempe khas
Malang dimulai dari tempe yang sudah matang dan siap diolah. Tempe kemudian
diiris tipis-tipis agar menghasilkan tekstur yang renyah saat digoreng.
Ketebalan irisan menjadi salah satu faktor penting karena memengaruhi cita rasa
dan kerenyahan keripik tempe itu sendiri.
Setelah diiris, tempe dibaluri
dengan adonan tepung yang telah dicampur berbagai bumbu rempah, seperti bawang
putih, ketumbar, telur, dan daun jeruk. Perpaduan bumbu tersebut menghasilkan
aroma khas dan rasa gurih yang menjadi ciri utama keripik tempe Malang.
Penggunaan daun jeruk juga memberikan sensasi harum yang membuat keripik tempe
semakin diminati oleh masyarakat.
Tahap terakhir adalah proses
penggorengan menggunakan minyak panas dalam jumlah banyak agar tempe matang
secara merata. Proses ini membuat keripik tempe memiliki tekstur renyah dan
warna keemasan yang menggugah selera. Dari proses sederhana inilah lahir
keripik tempe khas Malang yang hingga kini tetap menjadi salah satu camilan
tradisional favorit dan oleh-oleh khas daerah.
Bagaimana keripik tempe tetap
bertahan ditengah berkembangnya zaman
Keripik tempe khas Malang dapat
tetap bertahan hingga sekarang karena para pelaku usaha di kawasan Sanan mampu
menjaga kualitas produk sekaligus mempertahankan cita rasa khas yang menjadi
identitas kuliner daerah. Rasa gurih dan renyah yang dihasilkan dari resep
tradisional membuat keripik tempe tetap diminati oleh masyarakat dari berbagai
kalangan. Selain itu, pelaku usaha juga terus menjaga kualitas bahan baku dan
proses produksi agar konsumen tetap percaya terhadap produk yang mereka beli.
Selain menjaga kualitas rasa, para
pelaku usaha juga memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggan. Sikap ramah,
menjaga hubungan baik dengan konsumen, serta mempertahankan kepercayaan
pelanggan menjadi salah satu faktor penting dalam keberlangsungan usaha keripik
tempe. Hubungan kerja sama antara pelaku usaha, pekerja, rekan bisnis, hingga
konsumen juga menciptakan jaringan usaha yang kuat sehingga keripik tempe tetap
dikenal luas sebagai oleh-oleh khas Malang.
Di sisi lain, perkembangan zaman
mendorong pelaku usaha untuk terus melakukan inovasi dalam proses produksi dan
pemasaran. Penggunaan teknologi seperti mesin pengiris tempe membantu
meningkatkan kualitas dan efisiensi produksi, sementara pemasaran digital dan
e-commerce memperluas jangkauan penjualan hingga ke luar daerah. Dengan inovasi
rasa, kemasan yang lebih menarik, serta pemanfaatan teknologi modern, keripik
tempe khas Malang mampu tetap bersaing di tengah perkembangan industri makanan
modern tanpa kehilangan ciri khas tradisionalnya.
DAFTAR PUSTAKA
Rattih Poerwarini, M. Lukman Zaini,
Priska Wulan Ndari, (2023, Januari 1), Pemberdayaan Usaha Mikro Keripik
Tempe Malang Sebagai Upaya Peningkatan Kapasitas Proses Produksi.
Taupan Muhamad Hapiz, (2011), Hubungan
Tingkat Modal Sosial Terhadap Tingkat Pendapatan Pelaku UKM.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?