Banner Iklan

Pembuatan Tempe Khas Malang sebagai Pengetahuan Tradisional: Menjaga Warisan Kuliner Lokal di Tengah Modernisasi

Admin JSN
09 Juni 2026 | 14.31 WIB Last Updated 2026-06-09T07:31:17Z

 

Sumber Foto : https://hiling.indozone.id/

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM : Keripik tempe menjadi salah satu kearifan lokal yang sampai kini tetap autentik di Malang raya. Berjalannya waktu keripik tempe tetap menjadi salah satu oleh-oleh dari Malang yang banyak dicari oleh orang-orang dalam kota maupun luar kota. Cita rasanya yang gurih dan renyah, dipadukan dengan proses pembuatan tradisional, menjadikan makanan ini memiliki daya tarik tersendiri di tengah maraknya makanan modern.

Tidak hanya sekadar camilan, keripik tempe juga mencerminkan kreativitas dan ketahanan ekonomi masyarakat lokal. Berawal dari usaha rumahan sederhana, kini keripik tempe berkembang menjadi produk unggulan yang mampu mendukung perekonomian warga, khususnya di kawasan Sanan, Malang. Berbagai inovasi rasa dan kemasan terus dilakukan agar tetap diminati berbagai kalangan tanpa menghilangkan ciri khas tradisionalnya.

Keberadaan keripik tempe menunjukkan bahwa kuliner tradisional dapat bertahan dan bersaing di era modern apabila terus dijaga kualitas serta keasliannya. Oleh karena itu, keripik tempe bukan hanya sekadar oleh-oleh, tetapi juga bagian dari identitas budaya Malang yang patut dilestarikan dan dibanggakan.

Sejarah pembuatan keripik tempe sebagai salah satu UKM

Awalnya masyarakat Sanan di Kota Malang hanya memproduksi tempe biasa yang digunakan sebagai lauk sehari-hari. Tempe dibuat dari kedelai yang difermentasi menggunakan ragi tempe melalui proses tradisional, seperti perebusan kedelai, pengupasan kulit, perendaman semalaman, pencampuran ragi, hingga fermentasi selama kurang lebih dua hari. Cara tradisional ini masih dipertahankan hingga sekarang karena dianggap mampu menghasilkan cita rasa yang khas dan autentik. Seiring waktu, produksi tempe menjadi bagian penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat Sanan.

Perkembangan industri tempe di Sanan mulai meningkat pesat pada tahun 1970-an. Banyak warga mendirikan industri rumahan dan menjadikan produksi tempe sebagai mata pencaharian utama keluarga. Namun, saat krisis ekonomi tahun 1998 terjadi, harga kedelai mengalami kenaikan yang cukup tinggi sehingga penjualan tempe menurun. Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk berinovasi dengan mengolah tempe menjadi keripik tempe agar memiliki nilai jual lebih tinggi dan tahan lama. Tempe diiris tipis, diberi adonan tepung berbumbu, lalu digoreng hingga renyah. Dari inovasi inilah keripik tempe khas Malang mulai dikenal luas sebagai oleh-oleh daerah.

Seiring perkembangan zaman, keripik tempe di Malang tidak hanya menjadi makanan khas, tetapi juga berkembang sebagai usaha mikro masyarakat untuk mempertahankan dan meningkatkan nilai jual tempe. Banyak pelaku usaha mulai melakukan inovasi rasa, kemasan, hingga pemasaran digital agar mampu bersaing di era modern. Selain itu, penggunaan teknologi seperti mesin pengiris tempe juga mulai diterapkan untuk mempercepat proses produksi dan menjaga kualitas produk. Hal ini menunjukkan bahwa keripik tempe tidak hanya memiliki nilai kuliner, tetapi juga berperan penting dalam mendukung perekonomian masyarakat lokal di Malang.

Proses pembuatan keripik tempe di Sanan

Proses pembuatan keripik tempe khas Malang dimulai dari tempe yang sudah matang dan siap diolah. Tempe kemudian diiris tipis-tipis agar menghasilkan tekstur yang renyah saat digoreng. Ketebalan irisan menjadi salah satu faktor penting karena memengaruhi cita rasa dan kerenyahan keripik tempe itu sendiri.

Setelah diiris, tempe dibaluri dengan adonan tepung yang telah dicampur berbagai bumbu rempah, seperti bawang putih, ketumbar, telur, dan daun jeruk. Perpaduan bumbu tersebut menghasilkan aroma khas dan rasa gurih yang menjadi ciri utama keripik tempe Malang. Penggunaan daun jeruk juga memberikan sensasi harum yang membuat keripik tempe semakin diminati oleh masyarakat.

Tahap terakhir adalah proses penggorengan menggunakan minyak panas dalam jumlah banyak agar tempe matang secara merata. Proses ini membuat keripik tempe memiliki tekstur renyah dan warna keemasan yang menggugah selera. Dari proses sederhana inilah lahir keripik tempe khas Malang yang hingga kini tetap menjadi salah satu camilan tradisional favorit dan oleh-oleh khas daerah.

Bagaimana keripik tempe tetap bertahan ditengah berkembangnya zaman

Keripik tempe khas Malang dapat tetap bertahan hingga sekarang karena para pelaku usaha di kawasan Sanan mampu menjaga kualitas produk sekaligus mempertahankan cita rasa khas yang menjadi identitas kuliner daerah. Rasa gurih dan renyah yang dihasilkan dari resep tradisional membuat keripik tempe tetap diminati oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Selain itu, pelaku usaha juga terus menjaga kualitas bahan baku dan proses produksi agar konsumen tetap percaya terhadap produk yang mereka beli.

Selain menjaga kualitas rasa, para pelaku usaha juga memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggan. Sikap ramah, menjaga hubungan baik dengan konsumen, serta mempertahankan kepercayaan pelanggan menjadi salah satu faktor penting dalam keberlangsungan usaha keripik tempe. Hubungan kerja sama antara pelaku usaha, pekerja, rekan bisnis, hingga konsumen juga menciptakan jaringan usaha yang kuat sehingga keripik tempe tetap dikenal luas sebagai oleh-oleh khas Malang.

Di sisi lain, perkembangan zaman mendorong pelaku usaha untuk terus melakukan inovasi dalam proses produksi dan pemasaran. Penggunaan teknologi seperti mesin pengiris tempe membantu meningkatkan kualitas dan efisiensi produksi, sementara pemasaran digital dan e-commerce memperluas jangkauan penjualan hingga ke luar daerah. Dengan inovasi rasa, kemasan yang lebih menarik, serta pemanfaatan teknologi modern, keripik tempe khas Malang mampu tetap bersaing di tengah perkembangan industri makanan modern tanpa kehilangan ciri khas tradisionalnya.

DAFTAR PUSTAKA

Rattih Poerwarini, M. Lukman Zaini, Priska Wulan Ndari, (2023, Januari 1), Pemberdayaan Usaha Mikro Keripik Tempe Malang Sebagai Upaya Peningkatan Kapasitas Proses Produksi.

Taupan Muhamad Hapiz, (2011), Hubungan Tingkat Modal Sosial Terhadap Tingkat Pendapatan Pelaku UKM.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pembuatan Tempe Khas Malang sebagai Pengetahuan Tradisional: Menjaga Warisan Kuliner Lokal di Tengah Modernisasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now