Banner Iklan

Ngobrol Bareng “Lestari Alamku Jaya Negeriku”, Sejumlah Tokoh Soroti Pelestarian Hutan hingga Peran Budaya dan Film dalam Menjaga Alam

Admin JSN
18 Juni 2026 | 21.25 WIB Last Updated 2026-06-18T14:38:13Z

Dokumentasi Foto Bersama Kegiatan Ngobrol Bareng bertema “Lestari Alamku Jaya Negeriku”


MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan menjadi perhatian berbagai kalangan dalam kegiatan Ngobrol Bareng bertema “Lestari Alamku Jaya Negeriku” yang digelar di kawasan wisata Taman Kemesraan, Pujon, Kabupaten Malang, Rabu (18/6/2026). Diskusi terbuka yang dipandu Direktur Jatimsatunews, Anis Hidayatie, tersebut menghadirkan narasumber dari berbagai bidang, mulai dari hukum, spiritualitas, perfilman, hingga seni dan budaya.

Praktisi hukum dan kebijakan publik, Alim Mustofa, S.Sos., S.H., M.H., menilai persoalan pelestarian lingkungan tidak bisa dilepaskan dari aspek kebijakan pemerintah. Menurutnya, hingga kini isu reboisasi maupun penyegaran kawasan hutan belum menjadi agenda yang secara serius diusung secara politik.

“Belum ada penyampaian yang kuat secara politis mengenai program reboisasi maupun pelestarian hutan. Program lingkungan justru tidak menjadi prioritas dan cenderung ditinggalkan. Pada akhirnya, persoalan kerusakan lingkungan kembali pada kebijakan yang dibuat,” ujarnya.

Sementara itu, tokoh spiritual Choirul Sholeh, M.A. mengajak masyarakat untuk memandang alam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam karena manusia sendiri memiliki keterkaitan yang erat dengan unsur-unsur yang ada di alam.

“Hutan dan alam adalah satu kesatuan dengan manusia. Air merupakan unsur yang sangat penting bagi kehidupan, bahkan sebagian besar unsur tubuh manusia terdiri dari air. Alam telah menyediakan unsur hara yang asli dan baik, namun manusialah yang sering kali menjadi penyebab kerusakan,” ungkapnya.

Dari perspektif industri kreatif, produser film profesional Pandu Adiputra menyoroti pentingnya pesan moral dalam sebuah karya perfilman. Menurutnya, film dapat lahir dari kegelisahan lokal yang khas sesuai dengan karakter daerah masing-masing.

“Film seharusnya tidak sekadar menampilkan cerita, tetapi juga menghadirkan pesan yang baik bagi penonton. Etika perfilman berada pada tanggung jawab produser dan seluruh pihak yang terlibat. Nilai kemanusiaan harus menjadi prioritas,” katanya.

Pandu juga menyinggung polemik yang muncul dari film Pesta Babi sebagai contoh pentingnya etika dalam proses produksi film. Menurutnya, sebuah karya seharusnya tidak hanya mengejar sisi dramatik, tetapi juga memperhatikan aspek kemanusiaan dan dampaknya terhadap pihak-pihak yang terlibat. Ia menilai terdapat persoalan etika yang kurang mendapat perhatian dalam produksi film tersebut, sehingga memunculkan kontroversi dan membuat salah satu pemerannya, Mama Yasinta, merasa dieksploitasi setelah film tersebut menjadi viral.

Menurut Pandu, tanggung jawab seorang produser tidak berhenti pada penyelesaian karya, tetapi juga mencakup perlindungan terhadap para pemeran dan seluruh unsur yang terlibat. Karena itu, nilai-nilai kemanusiaan dan etika harus menjadi prioritas dalam industri perfilman.

Pada kesempatan yang sama, Ketua LESBUMI PCNU Kabupaten Malang, Abdul Aziz Syafi’i, S.Hi., menegaskan pentingnya pelestarian seni dan budaya lokal sebagai bagian dari upaya menjaga warisan Nusantara yang selaras dengan nilai-nilai keislaman.

Ia menilai seni dan budaya bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sebaliknya, budaya dapat menjadi media yang lembut dalam menyampaikan pesan-pesan kebaikan kepada masyarakat.

“Islam adalah rahmatan lil alamin. Melalui budaya, nilai-nilai Islam dapat hadir secara membumi dan menenangkan,” ujarnya.

Abdul Aziz menambahkan, salah satu program yang tengah dijalankan LESBUMI adalah pemberian bibit pohon kepada masyarakat sebagai simbol pelestarian lingkungan yang terinspirasi dari warisan para Wali Songo.

Kegiatan ini menjadi ruang dialog lintas bidang untuk membangun kesadaran bersama bahwa keberlanjutan lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat, tokoh agama, pelaku seni, dan industri kreatif dalam menjaga alam demi masa depan bangsa.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ngobrol Bareng “Lestari Alamku Jaya Negeriku”, Sejumlah Tokoh Soroti Pelestarian Hutan hingga Peran Budaya dan Film dalam Menjaga Alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now