Banner Iklan

Muharram: Jejak Sejarah, Napas Budaya

Admin JSN
15 Juni 2026 | 20.21 WIB Last Updated 2026-06-15T13:21:34Z
Artikel opini Muharram: Jejak Sejarah, Napas Budaya karya Prof Triyo Supriyatno./dok.istimewa

OPINI | JATIMSATUNEWS.COM:

Muharram: Jejak Sejarah, Napas Budaya
Oleh. Prof Triyo Supriyatno, Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Muharram: Dari Peristiwa Sejarah Menuju Tradisi Budaya

Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Allah SWT memasukkan Muharram ke dalam empat bulan haram (al-asyhur al-hurum) yang dimuliakan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an. Dalam perjalanan sejarah Islam, Muharram tidak hanya menjadi penanda pergantian tahun Hijriah, tetapi juga menjadi ruang refleksi spiritual, memori sejarah, dan ekspresi budaya umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara.

Asia Tenggara merupakan kawasan dengan populasi Muslim yang besar dan beragam. Islam yang berkembang di kawasan ini tidak hanya membawa ajaran agama, tetapi juga berinteraksi dengan tradisi lokal sehingga melahirkan berbagai bentuk budaya Islam yang khas. Muharram menjadi salah satu contoh bagaimana ajaran Islam bertemu dengan budaya lokal tanpa kehilangan substansi nilai-nilai keislamannya.

Dimensi Historis Muharram

Secara historis, kalender Hijriah mulai ditetapkan pada masa pemerintahan Umar bin Khattab sekitar tahun 17 Hijriah. Penetapan tahun Hijriah didasarkan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, sebuah peristiwa yang menjadi titik balik peradaban Islam. Meskipun hijrah terjadi pada bulan Rabiul Awal, Muharram dipilih sebagai awal tahun karena merupakan bulan yang menandai dimulainya tekad kaum Muslimin untuk berhijrah setelah Baiat Aqabah.

Dalam sejarah Islam, Muharram juga dikenang melalui peristiwa besar di Karbala pada tanggal 10 Muharram tahun 61 H, ketika Husain bin Ali gugur bersama para pengikutnya. Peristiwa ini menjadi simbol perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan yang dikenang oleh umat Islam dengan berbagai cara sesuai tradisi masing-masing.

Selain itu, tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura memiliki makna tersendiri. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun. Karena itu, puasa Asyura menjadi salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan.

Penyebaran Islam dan Tradisi Muharram di Asia Tenggara

Islam masuk ke Asia Tenggara melalui jalur perdagangan, dakwah ulama, dan jaringan intelektual yang menghubungkan kawasan ini dengan Timur Tengah, India, dan Persia. Bersamaan dengan proses tersebut, tradisi-tradisi peringatan Muharram turut berkembang.

Pada masa kerajaan-kerajaan Islam seperti Kesultanan Aceh, Kesultanan Demak, dan Kesultanan Malaka, kalender Hijriah menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial dan pemerintahan. Tahun baru Hijriah diperingati sebagai momentum spiritual sekaligus administratif.

Interaksi dengan pedagang dan ulama dari Gujarat, Persia, serta Arab turut memengaruhi bentuk-bentuk perayaan Muharram yang berkembang di berbagai wilayah Asia Tenggara. Namun, masyarakat lokal kemudian mengadaptasinya sesuai dengan karakter budaya masing-masing.

Tradisi Muharram di Indonesia

Indonesia memiliki kekayaan tradisi Muharram yang sangat beragam.

1. Bubur Suro
Di Jawa, masyarakat mengenal tradisi membuat Bubur Suro pada malam 1 Muharram. Bubur ini melambangkan rasa syukur, kebersamaan, dan harapan akan keberkahan pada tahun yang baru. Tradisi ini sering diiringi doa bersama dan pengajian.

2. Malam Satu Suro
Dalam budaya Jawa, 1 Muharram dikenal sebagai Malam Satu Suro. Tradisi ini merupakan hasil pertemuan kalender Islam dengan budaya Jawa yang disusun pada masa Sultan Agung. Masyarakat mengisinya dengan tirakat, muhasabah, dzikir, dan doa untuk memperbaiki diri pada tahun berikutnya.

3. Tabuik dan Tabot
Di Pariaman terdapat tradisi Tabuik, sedangkan di Bengkulu dikenal tradisi Tabot. Tradisi ini berasal dari pengaruh komunitas Muslim keturunan India yang datang pada masa kolonial Inggris. Prosesi tersebut mengenang perjuangan Husain bin Ali di Karbala dan telah berkembang menjadi warisan budaya yang menarik perhatian masyarakat luas.

Tradisi Muharram di Malaysia dan Brunei

Di Malaysia dan Brunei, Muharram lebih banyak diperingati melalui kegiatan keagamaan seperti pembacaan doa awal dan akhir tahun, ceramah, zikir, serta program sosial kemasyarakatan.

Pemerintah dan lembaga keagamaan menjadikan tahun baru Hijriah sebagai momentum memperkuat identitas Islam dan pembangunan moral masyarakat. Tema hijrah sering dikaitkan dengan transformasi diri, integritas, dan peningkatan kualitas kehidupan.

Tradisi Muharram di Thailand Selatan dan Filipina Selatan

Di wilayah Muslim seperti Pattani dan Mindanao, Muharram diperingati melalui pengajian, pembacaan sejarah Islam, santunan anak yatim, dan kegiatan sosial. Meskipun bentuknya sederhana, tradisi tersebut menunjukkan kuatnya identitas Islam sebagai perekat komunitas Muslim minoritas di kawasan tersebut.

Muharram sebagai Ruang Dialog Agama dan Budaya

Kajian antropologis menunjukkan bahwa tradisi Muharram di Asia Tenggara merupakan hasil proses akulturasi yang unik. Nilai-nilai Islam yang universal bertemu dengan kearifan lokal sehingga melahirkan ekspresi budaya yang beragam.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa Islam di Asia Tenggara berkembang secara damai dan adaptif. Tradisi-tradisi Muharram tidak semata-mata menjadi ritual keagamaan, tetapi juga sarana memperkuat solidaritas sosial, mempererat hubungan keluarga, serta melestarikan warisan budaya masyarakat.

Namun demikian, para ulama senantiasa mengingatkan agar berbagai tradisi tersebut tetap berada dalam koridor syariat. Esensi Muharram tidak terletak pada kemeriahan acara, melainkan pada peningkatan ketakwaan, muhasabah, dan semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.

Muharram: Perekat Interaksi Syariat dan Budaya Lokal

Muharram di Asia Tenggara merupakan contoh nyata bagaimana sejarah, agama, dan budaya saling berinteraksi secara harmonis. Dari hijrah Nabi Muhammad SAW, tragedi Karbala, hingga berbagai tradisi lokal seperti Bubur Suro, Tabuik, dan doa awal tahun, semuanya menunjukkan kekayaan pengalaman keislaman masyarakat Asia Tenggara.

Pada akhirnya, pesan utama Muharram tetap sama sepanjang zaman: mengajak manusia melakukan hijrah spiritual dari keburukan menuju kebaikan, dari perpecahan menuju persaudaraan, dan dari kelalaian menuju kedekatan kepada Allah SWT. Di tengah perubahan dunia yang semakin cepat, Muharram hadir sebagai pengingat bahwa sejarah bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan sumber hikmah untuk membangun masa depan yang lebih bermakna bagi semesta. ***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Muharram: Jejak Sejarah, Napas Budaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now