Banner Iklan

Modernisasi vs Tradisi: Bagaimana Menjaga Eksistensi Seni Keramik di Kampung Keramik Dinoyo?

Admin JSN
09 Juni 2026 | 13.23 WIB Last Updated 2026-06-09T06:23:11Z

 

Dokementasi Pribadi


ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM :

Sejarah Kampung Keramik Dinoyo

Bermula pada tahun 1930-an, aktivitas utama masyarakat saat ini adalah memproduksi gerabah. Pada saat itu, pola produk gerabah memiliki pola yang khas yaitu mengikuti cara duduk perempuan. Mulai tahun 1957, kampung ini beralih fungsi dari yang sekadar pembuatan gerabah menjadi sentra keramik. Semenjak saat itu, masyarakat setempat mayoritas berprofesi sebagai pengrajin sekaligus penjual keramik.

Dalam menghadapi persaingan pabrik-pabrik modern, masyarakat akhirnya mengubah fungsi yang awalnya sekadar memasarkan produk menjadi objek edukasi serta pengalaman terutama bagi wisatawan mengenai proses pembuatan kerajinan keramik secara langsung. Hal ini dibuktikan dalam Festival Keramik Dinoyo 2025 melalui penyediaan workshop, pameran, lomba mewarnai keramik, dan sarasehan bagi siswa maupun wisatawan yang diselenggarakan oleh Sentra Industri Keramik Dinoyo berkolaborasi dengan Diskopindag Kota Malang pada hari Kamis (11/12/25).

Di sisi lain, kampung keramik dinoyo mengalami penurunan pengrajin dalam rentang waktu 2011 - 2014. Berdasarkan data Dokumen Sekretariat Paguyuban Pengrajin dan Pedagang Keramik Dinoyo 2014, jumlah tenaga kerja pada tahun 2011 berjumlah 200 orang. Hingga akhirnya, pada tahun 2014 jumlah tenaga kerja menurun hingga 130 orang. Hal ini tentu mempengaruhi eksistensi keberlanjutan dari warisan budaya yang sudah didirikan secara turun temurun dari setiap generasi.

Bagaimana Jika Popularitas Tidak Menjamin Keberlanjutan?

Namun, popularitas yang diraih selama satu dekade ini tidak serta-merta berbanding lurus dengan keberlanjutan. Menurut Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), H. Syamsul Arifin, terdapat tiga tantangan bagi kampung wisata keramik dinoyo yang belum sepenuhnya terselesaikan yaitu penataan kawasan, regenerasi pengrajin, dan jangkauan pasar serta promosi.

Tantangan pertama muncul dari pertumbuhan itu sendiri. Aktivitas wisata dan ekonomi yang pesat justru menciptakan tekanan tersendiri terhadap tata ruang kawasan. Tanpa penataan yang tertib dan terencana, pengalaman pengunjung dapat menurun, daya tarik visual kawasan melemah, dan pada akhirnya citra Kampung Wisata Keramik Dinoyo dapat ikut terdampak.

Sementara itu, dari dalam komunitas pengrajin, ada kekhawatiran yang tak kalah serius, mengenai siapa yang akan melanjutkan tradisi ini. Meskipun para pengrajin keramik secara garis besar merupakan penerus dari tiap generasi, minat generasi muda untuk melanjutkan usaha kerajinan tradisional tidak dapat dipastikan selalu terjaga. Arus modernisasi dan pilihan pekerjaan yang semakin beragam menjadi faktor yang secara perlahan mengancam keberlangsungan regenerasi pengrajin.

Adapun dari sisi pasar, tantangannya bukan pada ketidakpopuleran, melainkan pada keterbatasan jangkauan. Kampung Keramik Dinoyo memang sudah dikenal sebagai sentra kerajinan di tingkat nasional, tetapi pengunjung yang datang masih didominasi oleh konsumen lokal seperti penjual kios, pengecer, dan pembeli langsung. Potensi untuk menjangkau wisatawan mancanegara maupun pasar digital yang lebih luas belum sepenuhnya dioptimalkan, meskipun sejumlah wisatawan asing sudah mulai mengenal dan berkunjung ke kawasan ini.

Menghadapi Tantangan yang Kini Menjadi Hambatan bagi Keberlanjutan Kampung Keramik Dinoyo

Ketiga tantangan tersebut tentu bukan tanpa jalan keluar. Yang dibutuhkan adalah kerja sama yang nyata antara pengrajin, masyarakat, dan pemerintah untuk meresponsnya secara strategis. Untuk persoalan penataan kawasan, pemerintah Kota Malang perlu hadir secara nyata melalui program revitalisasi infrastruktur. Mulai dari perbaikan jalan lingkungan, penataan kios dan galeri keramik yang estetis, hingga penyediaan ruang publik yang nyaman bagi pengunjung. Penataan yang baik bukan hanya soal estetika, tetapi juga investasi jangka panjang dalam menjaga daya saing dan eksistensi kampung wisata ini.

Untuk tantangan regenerasi, pendekatannya perlu lebih dari sekadar pelestarian. Dibutuhkan program pemberdayaan yang menyasar generasi muda secara langsung, seperti pelatihan membuat keramik yang dikemas secara modern dan menarik, kolaborasi dengan sekolah seni atau universitas setempat, serta pemberian apresiasi bagi pemuda yang mau terlibat dalam usaha kerajinan keramik. Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya dirawat, tetapi juga diperbarui agar tetap relevan di mata generasi-generasi berikutnya.

Sementara itu, untuk memperluas jangkauan pasar dan promosi, para pelaku usaha perlu mengoptimalkan strategi digital secara konsisten. Langkah sederhana seperti pembuatan konten kreatif yang menampilkan proses pembuatan keramik, keunikan kawasan, hingga kisah di balik setiap karya bisa menjadi titik awal yang kuat. Kehadiran yang kuat di platform digital tidak hanya meningkatkan visibilitas, tetapi juga membuka peluang pemasaran produk keramik ke pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.

Dalam memperluas jangkauan pasar dan promosi, Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Koperasi dan UKM memiliki peran dalam mengembangkan UMKM kerajinan keramik melalui pelaksanaan pendidikan dan pelatihan dengan empat jenis pelatihan ; legalitas, packaging, manajemen dan akuntansi. Lalu, pengembangan jaringan kerjasama bagi UKM dengan pemerintah, serta pengenalan produk-produk UKM melalui pameran dan promosi. Dengan demikian, kolaborasi antara adaptasi teknologi oleh pengrajin dan pembinaan dari pemerintah diharapkan mampu membawa industri keramik Kota Malang ini semakin meluas hingga ke ranah internasional.

DAFTAR PUSTAKA

Ambarawati, A. Ristya Indah, D. Zahro, A. (2021). Keramik Dinoyo dan Kisahnya. Kota Batu: CV. Beta Aksara.

Arifin, S. (2023, Oktober 4). Sejarah kampung industri keramik Dinoyo Malang di masa lalu dan masa kini. Jatimnet.com. https://jatimnet.com/sejarah-kampung-industri-keramik-dinoyo-malang-di-masa-lalu-dan-masa-kini

Hanifah, Nur. (2014). Peran Pemerintah dalam Upaya Pengembangan UMKM Sentra Kerajinan Keramik Dinoyo di Kota Malang (Studi pada Dinas Koperasi dan UKM Kota Malang). https://repository.ub.ac.id/id/eprint/116982/

RRI Malang. (2025, 12 Desember). Festival Keramik Dinoyo gairahkan kreativitas Malang. RRI.co.id. https://rri.co.id/malang/regional/2036153/festival-keramik-dinoyo-gairahkan-kreativitas-malang


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Modernisasi vs Tradisi: Bagaimana Menjaga Eksistensi Seni Keramik di Kampung Keramik Dinoyo?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now