![]() |
| Dr. H. Miftahul Huda, SHI.,M.H., Dosen Fakultas Syariah UIN Malang./dok.istimewa |
OPINI | JATIMSATUNEWS.COM:
Menghitung Waktu, Merajut Makna: Refleksi Akhir Tahun 1447 H bagi Generasi Muda
Oleh: Dr.H.Miftahul Huda, SHI.,M.H., Dosen Fakultas Syariah UIN Malang.
Menjelang berakhirnya tahun 1447 H, umat Islam kembali dihadapkan pada momentum penting untuk melakukan refleksi diri. Pergantian tahun dalam kalender Hijriah bukan sekadar pergantian angka pada lembaran kalender. Ia adalah penanda perjalanan waktu yang terus bergerak, mengingatkan bahwa usia manusia bertambah, sementara jatah waktunya di dunia semakin berkurang.
Di tengah kesibukan menjalani pendidikan, membangun karier, dan merancang masa depan, akhir tahun Hijriyah menjadi momentum berharga untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan yang telah dilalui, lalu menata kembali arah langkah yang akan ditempuh.
Kalender Hijriah mengajarkan bahwa hidup tidak hanya tentang mencapai tujuan-tujuan duniawi. Setiap pergantian tahun menghadirkan ruang muhasabah untuk menilai bagaimana waktu telah digunakan.
Apakah hari-hari yang telah berlalu dipenuhi dengan ilmu, amal, dan karya yang bermanfaat? Ataukah justru habis tersita oleh kesibukan yang tidak memberi nilai bagi pertumbuhan diri maupun kebermanfaatan bagi orang lain?
Refleksi semacam ini semakin penting di tengah derasnya arus digital dan kompetisi kehidupan yang semakin ketat. Generasi muda hari ini hidup dalam dunia yang bergerak sangat cepat.
Media sosial kerap menghadirkan potret keberhasilan orang lain yang tampak sempurna, sehingga tanpa disadari banyak anak muda merasa tertinggal, cemas, bahkan kehilangan rasa syukur atas proses yang sedang dijalani. Budaya instan pun perlahan membentuk pola pikir yang lebih menghargai hasil daripada proses.
Dalam dunia pendidikan, misalnya, tidak sedikit yang berorientasi pada nilai dan kelulusan semata tanpa diimbangi penguasaan kompetensi yang mendalam. Sementara di dunia kerja, tekanan untuk segera sukses, memiliki jabatan tinggi, atau memperoleh penghasilan besar sering kali menimbulkan kegelisahan ketika kenyataan tidak berjalan sesuai harapan. Akibatnya, banyak yang sibuk mengejar pencapaian, tetapi lupa memberi ruang bagi refleksi diri.
Padahal, keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari indeks prestasi, jabatan, atau jumlah penghasilan. Keberhasilan juga tercermin dari kualitas karakter, integritas, kemampuan memberi manfaat, serta kedekatan seseorang dengan Allah SWT. Sebab, kesuksesan yang tidak disertai ketenangan batin dan nilai-nilai kebaikan sering kali hanya menghadirkan kepuasan yang bersifat sementara.
Bagi generasi muda yang mulai memasuki dunia profesional, refleksi akhir tahun Hijriyah menjadi semakin relevan. Dunia kerja memang menuntut kompetensi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi yang tinggi.
Namun, di balik semua tuntutan tersebut, terdapat kebutuhan yang tidak kalah penting, yakni menjaga keseimbangan antara produktivitas dan makna hidup. Tidak sedikit orang yang berhasil dalam kariernya, tetapi merasa kosong karena kehilangan tujuan yang lebih besar dari sekadar pencapaian materi.
Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-'Ashr bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Pesan singkat namun mendalam ini menunjukkan bahwa waktu bukan sekadar sarana untuk bekerja dan menghasilkan, melainkan amanah yang harus diisi dengan hal-hal yang bernilai dan berdampak.
Muhasabah akhir tahun Hijriah juga mengajak kita mengevaluasi dua hubungan utama dalam kehidupan. Pertama, hubungan dengan Allah SWT (habluminallah). Sudahkah kualitas ibadah, syukur, dan ketaatan kita meningkat dibandingkan tahun sebelumnya? Kedua, hubungan dengan sesama manusia (habluminannas).
Sudahkah kehadiran kita membawa manfaat, menebarkan kebaikan, menghargai perbedaan, serta memperkuat semangat kolaborasi di tengah masyarakat?
Dalam konteks dunia kerja, nilai-nilai tersebut memiliki makna yang sangat nyata. Profesionalisme tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan dan keterampilan teknis, tetapi juga oleh kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, serta kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Karakter yang baik sering kali menjadi modal yang lebih berharga dan bertahan lebih lama dibandingkan gelar, sertifikat, maupun pengalaman kerja.
Semangat hijrah yang menjadi ruh kalender Hijriyah juga perlu terus hidup dalam diri generasi muda. Hijrah bukan hanya perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, melainkan proses transformasi menuju pribadi yang lebih baik. Setiap kegagalan adalah pelajaran, setiap kesalahan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, dan setiap tantangan adalah sarana untuk bertumbuh menjadi lebih kuat dan bijaksana.
Karena itu, akhir tahun Hijriah bukan sekadar penutup perjalanan waktu, melainkan titik evaluasi untuk merajut makna kehidupan. Pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah seberapa sibuk kita menjalani hari-hari, melainkan seberapa besar manfaat yang telah kita berikan, seberapa baik karakter yang berhasil kita bangun, dan seberapa dekat hubungan kita dengan Allah SWT. Di sanalah letak keberhasilan yang sesungguhnya.
Memasuki Tahun Baru Hijriah 1448, generasi muda tidak cukup hanya menyusun daftar resolusi dan target pencapaian. Yang lebih penting adalah membangun komitmen untuk terus belajar, bertumbuh, memperbaiki diri, memperkuat fondasi spiritual, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar. Sebab, keberhasilan hidup tidak semata-mata diukur dari tingginya jabatan yang diraih atau besarnya penghasilan yang diperoleh, melainkan dari seberapa bermakna waktu yang telah Allah SWT amanahkan kepada kita.
Tahun boleh berganti, usia terus berkurang, dan zaman akan terus berubah. Namun, semangat hijrah menuju pribadi yang lebih baik tidak boleh padam. Setiap detik yang berlalu adalah kesempatan untuk menanam kebaikan, memperluas manfaat, dan meninggalkan jejak amal yang kelak akan menjadi bekal terbaik di hadapan-Nya.
Manusia tidak akan dihisab berdasarkan banyaknya waktu yang dimiliki, melainkan berdasarkan bagaimana waktu itu digunakan. Maka, mari menjadikan pergantian tahun Hijriah sebagai momentum untuk tidak hanya menghitung perjalanan waktu, tetapi juga merajut makna kehidupan yang lebih bernilai, lebih bermanfaat, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?