Banner Iklan

Membumikan Kepemimpinan Influencer Berbasis Nilai ASWAJA untuk Mewujudkan Sekolah Unggul Berkelanjutan

Admin JSN
22 Juni 2026 | 19.48 WIB Last Updated 2026-06-22T13:18:33Z
Ujian terbuka promosi doktor dijalani Suci Hidayati di Gedung Rumah Singgah Pascasarjana UIN Malang (22/6)./dok.UIN Malang

BATU | JATIMSATUNEWS.COM - Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan komitmennya dalam mengembangkan khazanah keilmuan Manajemen Pendidikan Islam melalui lahirnya doktor baru dari Program Studi Doktor (S3) Manajemen Pendidikan Islam (MPI).

Dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor yang berlangsung pada Senin (22/6/2026) di Gedung Rumah Singgah Pascasarjana UIN Malang, Suci Hidayati berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul 'Pengaruh Kepemimpinan Influencer terhadap Sekolah Unggul Berkelanjutan melalui Kinerja Islami, Dedikasi Islami, dan Nilai Spiritual ASWAJA pada Lembaga Pendidikan di Bawah Naungan LP Ma’arif Kabupaten Malang'.

Promovenda yang juga menjabat sebagai Kepala Sekolah SMPI Pakisaji, Guru IPA MTs Al Ma’arif 02 Singosari, serta dosen Program Studi S1 Manajemen Pendidikan Islam IAI Asy-Syadzili ini berhasil menghadirkan perspektif baru dalam pengembangan kepemimpinan pendidikan Islam yang relevan dengan tantangan lembaga pendidikan pada era digital dan perubahan sosial yang semakin dinamis.

Berangkat dari Kegelisahan Akademik

Penelitian ini lahir dari kegelisahan akademik terhadap fenomena sekolah-sekolah yang memiliki visi, program, sarana, dan sumber daya yang relatif baik, namun belum semuanya mampu mempertahankan keunggulan secara berkelanjutan.

Berbagai penelitian sebelumnya telah menjelaskan pentingnya kepemimpinan transformasional, spiritual, visioner, maupun efektif dalam meningkatkan mutu lembaga pendidikan. Namun demikian, masih ditemukan kesenjangan antara kuatnya nilai-nilai organisasi dengan kemampuan lembaga dalam menjaga keberlanjutan mutu dan keunggulan sekolah.

Di sisi lain, lembaga pendidikan Ma’arif memiliki karakteristik khas berupa nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (ASWAJA) yang selama ini menjadi landasan ideologis dan budaya organisasi. Akan tetapi, belum banyak penelitian yang menjelaskan bagaimana nilai-nilai tersebut bekerja dalam membentuk sekolah unggul yang mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan.

Berangkat dari persoalan tersebut, penelitian ini berupaya menjelaskan bagaimana kepemimpinan influencer mampu menggerakkan kinerja Islami, dedikasi Islami, serta nilai spiritual ASWAJA untuk mewujudkan sekolah unggul berkelanjutan.

Kepemimpinan Influencer sebagai Kekuatan Penggerak

Dalam paparannya, Suci Hidayati menjelaskan bahwa kepemimpinan influencer yang dimaksud dalam penelitian ini bukanlah influencer media sosial sebagaimana yang populer saat ini.

Kepemimpinan influencer dimaknai sebagai kemampuan pemimpin memengaruhi cara berpikir, sikap, perilaku, dan komitmen warga sekolah melalui keteladanan, komunikasi inspiratif, kredibilitas, serta internalisasi nilai-nilai organisasi.

Dalam konteks pendidikan Islam, kepala sekolah tidak hanya berfungsi sebagai administrator yang mengelola program dan sumber daya, tetapi juga sebagai value influencer, yaitu agen penggerak nilai yang mampu mentransformasikan budaya organisasi menuju keunggulan yang berkelanjutan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan influencer berpengaruh signifikan terhadap kinerja Islami, dedikasi Islami, dan nilai spiritual ASWAJA. Selain itu, kinerja Islami dan dedikasi Islami terbukti berpengaruh signifikan terhadap terwujudnya sekolah unggul berkelanjutan.

Temuan Menarik tentang Nilai Spiritual ASWAJA

Salah satu temuan yang menarik dalam penelitian ini adalah bahwa nilai spiritual ASWAJA tidak berpengaruh secara langsung terhadap sekolah unggul berkelanjutan.

Temuan ini menunjukkan bahwa nilai spiritual tidak secara otomatis menghasilkan keunggulan organisasi. Nilai ASWAJA perlu diterjemahkan terlebih dahulu ke dalam perilaku kerja, budaya organisasi, pola kepemimpinan, serta komitmen warga sekolah sebelum mampu menghasilkan keunggulan lembaga.

Dengan kata lain, nilai spiritual ASWAJA berfungsi sebagai kekuatan transformasional yang memperkuat budaya organisasi, membangun karakter kerja Islami, serta mengarahkan perilaku warga sekolah menuju pencapaian mutu yang berkelanjutan.

Temuan ini memperkaya perspektif Manajemen Pendidikan Islam bahwa nilai keislaman tidak cukup berhenti sebagai identitas normatif, tetapi harus diwujudkan dalam praktik manajerial dan budaya kerja yang nyata.

Melahirkan Model SPIRE–LEAD

Penelitian ini menggunakan pendekatan Mixed Methods Embedded Design yang mengintegrasikan data kuantitatif dan kualitatif untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif terhadap fenomena yang diteliti.

Berdasarkan sintesis hasil penelitian, lahirlah dua strategi kepemimpinan baru, yaitu:

ASVIL (Aswaja Spiritual Value Influencer Leadership), yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada penguatan dan internalisasi nilai-nilai ASWAJA dalam organisasi. Dan ASTIL (Aswaja Spiritual Transformative Influencer Leadership), yaitu kepemimpinan yang mampu mentransformasikan nilai spiritual menjadi perilaku kerja, budaya organisasi, dan keunggulan lembaga. Kedua strategi tersebut kemudian disintesiskan ke dalam model baru yang diberi nama SPIRE–LEAD.

Apa Itu SPIRE–LEAD?

SPIRE–LEAD merupakan model kepemimpinan pendidikan Islam yang menggambarkan proses transformasi nilai spiritual menjadi keunggulan sekolah yang berkelanjutan. Model ini dibangun berdasarkan sintesis temuan penelitian yang menunjukkan bahwa keberhasilan sekolah unggul tidak hanya ditentukan oleh sistem manajemen formal, tetapi juga oleh kemampuan pemimpin dalam menginternalisasikan nilai-nilai organisasi, membangun kinerja Islami, dan menumbuhkan dedikasi Islami seluruh warga sekolah.

SPIRE–LEAD bekerja melalui hubungan yang sistematis antara nilai spiritual, kepemimpinan, perilaku organisasi, budaya kerja, dan keunggulan lembaga dalam satu siklus pengembangan mutu yang berkelanjutan.

Landasan Model SPIRE–LEAD

Model ini dibangun atas tiga fondasi utama.

Pertama, landasan nilai berupa nilai-nilai spiritual ASWAJA yang terdiri atas tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i'tidal (adil).

Kedua, sumber daya organisasi yang meliputi kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua, yayasan, LP Ma’arif, masyarakat, serta sistem pendidikan.

Ketiga, landasan filosofis, teoretis, normatif, dan empiris yang menjadi pijakan pengembangan model.

Secara filosofis, SPIRE–LEAD dibangun atas keyakinan bahwa nilai spiritual tidak akan menghasilkan keunggulan organisasi apabila tidak ditransformasikan ke dalam perilaku, budaya kerja, dan sistem organisasi. Oleh karena itu, kepemimpinan berperan sebagai jembatan yang menghubungkan nilai dengan tindakan nyata.

Perspektif Islam dalam SPIRE–LEAD

Sebagai model yang lahir dari tradisi keilmuan Manajemen Pendidikan Islam, SPIRE–LEAD berpijak pada ajaran Islam yang menempatkan kepemimpinan sebagai amanah dan sarana mewujudkan kemaslahatan.

Prinsip kepemimpinan ini selaras dengan firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa' ayat 58 tentang amanah dan keadilan, serta QS. Al-Ahzab ayat 21 tentang keteladanan Rasulullah SAW.

Sementara itu, orientasi keunggulan model ini sejalan dengan QS. Al-Mujadilah ayat 11 yang menegaskan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Dengan demikian, keunggulan sekolah dalam perspektif SPIRE–LEAD dibangun melalui integrasi iman, ilmu, amal, dan akhlak.

Empat Pilar Utama SPIRE–LEAD

1. SPIRIT (Spiritual Values Internalization). Internalisasi nilai-nilai spiritual ASWAJA ke dalam visi sekolah, budaya organisasi, kebijakan, dan perilaku seluruh warga sekolah.

2. INFLUENCE (Influencer Leadership), Kepemimpinan yang menggerakkan organisasi melalui keteladanan, komunikasi inspiratif, kredibilitas, pemberdayaan, dan penguatan budaya organisasi.

3. PERFORMANCE–DEDICATION, Transformasi nilai menjadi perilaku organisasi melalui penguatan kinerja Islami dan dedikasi Islami yang diwujudkan dalam amanah, profesionalisme, integritas, komitmen, dan pengabdian.

4. EXCELLENCE (Sustainable Excellent School), Terwujudnya sekolah unggul berkelanjutan yang ditandai oleh meningkatnya mutu akademik dan non-akademik, budaya mutu, reputasi lembaga, daya saing, serta keberlanjutan keunggulan sekolah.

Karakteristik dan Keunggulan Model

SPIRE–LEAD memiliki karakteristik berbasis nilai ASWAJA, berorientasi pada kepemimpinan pengaruh, holistik, integratif, berbasis budaya organisasi, berorientasi mutu berkelanjutan, adaptif terhadap perubahan zaman, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.

Keunggulan utama model ini terletak pada kemampuannya menjelaskan bagaimana nilai spiritual bekerja dalam organisasi pendidikan Islam. Penelitian ini menemukan bahwa nilai spiritual ASWAJA tidak berpengaruh secara langsung terhadap sekolah unggul berkelanjutan, tetapi bekerja melalui kepemimpinan influencer, kinerja Islami, dan dedikasi Islami.

Dengan demikian, SPIRE–LEAD tidak hanya menjelaskan hubungan antarvariabel, tetapi juga menjelaskan mekanisme transformasi nilai menjadi keunggulan organisasi pendidikan.

Kontribusi bagi Pengembangan Manajemen Pendidikan Islam

Ketua Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Sutiah, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas capaian akademik tersebut.

Menurutnya, lahirnya model SPIRE–LEAD memperkaya khazanah Manajemen Pendidikan Islam, khususnya dalam bidang kepemimpinan pendidikan Islam berbasis nilai.

"Model SPIRE–LEAD memberikan perspektif baru bahwa keunggulan sekolah tidak hanya dibangun melalui sistem manajemen dan sumber daya, tetapi juga melalui kemampuan pemimpin menjadi value influencer yang mampu mentransformasikan nilai spiritual menjadi budaya kerja, kinerja Islami, dan dedikasi Islami," ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Sutiah menegaskan bahwa Program Studi Doktor MPI Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang akan terus mendorong lahirnya penelitian-penelitian inovatif yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan Islam di Indonesia.

Lahirnya model SPIRE–LEAD menjadi bukti bahwa riset doktoral tidak hanya menghasilkan gelar akademik, tetapi juga mampu menghadirkan teori, strategi, dan model baru yang memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan Manajemen Pendidikan Islam serta transformasi pendidikan Islam menuju sekolah yang unggul, berkarakter, berkelanjutan, dan berdaya saing global. ***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Membumikan Kepemimpinan Influencer Berbasis Nilai ASWAJA untuk Mewujudkan Sekolah Unggul Berkelanjutan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now