Mahasiswa Ilmu Komunikasi UB Gandeng Oase Cafe dalam Kampanye Menumbuhkan Minat Literasi Generasi Muda
ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Arus informasi digital yang semakin cepat telah mengubah pola konsumsi informasi generasi muda. Kebiasaan mengakses media sosial dan hiburan digital secara terus-menerus turut memengaruhi rentang perhatian, kemampuan berpikir kritis, serta minat baca masyarakat. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan literasi di Indonesia, di mana minat membaca dan keterlibatan masyarakat dalam aktivitas literasi mendalam masih tergolong rendah.
Di Kota Malang, berbagai komunitas literasi dan ruang baca alternatif terus berupaya menumbuhkan budaya membaca di tengah masyarakat. Namun, upaya tersebut menghadapi tantangan yang tidak mudah. Salah satunya dialami Oase Cafe & Literacy, yang mencatat penurunan jumlah pengunjung yang memanfaatkan fasilitas membaca dalam beberapa tahun terakhir.
Budaya Literasi yang Kian Menurun Berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan pengelola Oase Cafe & Literacy, terjadi penurunan pada aktivitas membaca di ruang literasi tersebut. Jika sebelum pandemi rata-rata terdapat sekitar 10 pengunjung per hari yang memanfaatkan koleksi buku untuk membaca, kini jumlahnya menurun menjadi sekitar 2–3 orang per hari.
Sebagian besar pengunjung lebih banyak memanfaatkan fasilitas WiFi, bermain game, atau mengakses media sosial dibandingkan membaca buku yang tersedia secara gratis.
Menurunnya aktivitas membaca di Oase Cafe & Literacy menjadi salah satu gambaran tantangan literasi yang masih dihadapi masyarakat.
Hasil PISA 2022 menempatkan kemampuan membaca Indonesia pada peringkat ke-71 dari 81 negara. Sementara itu, tingkat literasi Kota Malang pada 2021 tercatat sebesar 60 persen, lebih rendah dari standar ideal 80 persen.
Berangkat dari fenomena tersebut, Kelompok 3 Mata Kuliah Manajemen Program dan Kampanye Public Relations menghadirkan kampanye audiovisual bertajuk "Menanggalkan Asing: Sebuah Refleksi Literasi di Kota Malang."
Kampanye ini merupakan upaya komunikasi publik yang bertujuan meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya literasi sebagai sarana refleksi diri di tengah dunia digital yang semakin bising.
Menghidupkan Pesan Literasi Melalui Cerita
Berbeda dari kampanye literasi pada umumnya yang menekankan pentingnya membaca melalui pendekatan edukatif, kampanye ini memilih pendekatan storytelling emosional melalui film pendek berdurasi 2–3 menit.
Video tersebut mengisahkan perjalanan seorang mahasiswa bernama Fatih yang terjebak dalam rutinitas bermain game dan menghabiskan waktu di media sosial. Meski dikelilingi hiburan digital, Fatih perlahan merasakan kekosongan dan keterasingan terhadap dirinya sendiri ketika melihat teman-temannya mulai berkembang dan menemukan tujuan hidup mereka.
Pertemuannya dengan buku-buku di Oase Cafe & Literacy menjadi titik balik yang mengantarkannya kembali pada ruang refleksi yang selama ini hilang. Melalui cerita tersebut, kampanye ini mengajak publik melihat membaca sebagai cara sederhana untuk kembali mendengar suara diri sendiri.
Pemilihan format audiovisual dilakukan sebagai strategi Public Relations untuk menjembatani pesan literasi dengan pola konsumsi media generasi muda saat ini. Ketika mayoritas mahasiswa lebih banyak menghabiskan waktu di platform digital seperti Instagram, TikTok, dan YouTube, kampanye ini berupaya menghadirkan pesan literasi melalui medium yang dekat dengan keseharian mereka tanpa kehilangan kedalaman makna yang ingin disampaikan.
Kolaborasi dengan Oase Cafe & Literacy
Kolaborasi dengan Oase Cafe & Literacy dilakukan karena kesamaan visi dalam mengembangkan budaya literasi di Kota Malang. Sejak berdiri pada tahun 2017, Oase telah berkembang menjadi ruang publik alternatif yang memadukan fungsi kafe dengan perpustakaan komunitas serta menjadi tempat bertemunya berbagai pegiat literasi, akademisi, dan komunitas sosial. Namun di tengah perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, Oase juga menghadapi tantangan untuk menjaga relevansi budaya membaca di kalangan generasi muda.
Melalui kolaborasi ini, tim kampanye tidak hanya ingin membantu meningkatkan visibilitas Oase Cafe & Literacy sebagai ruang literasi alternatif, tetapi juga menunjukkan bahwa membaca tidak harus identik dengan aktivitas yang kaku dan berat. Literasi dapat hadir dalam suasana yang santai, hangat, dan dekat dengan gaya hidup anak muda masa kini.
Pesan dan Harapan
Kampanye "Menanggalkan Asing" mengusung pesan utama bahwa "Literasi adalah cara kita berhenti menjadi asing terhadap diri sendiri." Pesan tersebut diharapkan mampu mengajak publik, khususnya mahasiswa dan generasi Z untuk kembali menemukan ruang refleksi di tengah dunia yang terus bergerak cepat.
Melalui distribusi video di platform Instagram, kampanye ini diharapkan dapat menjadi langkah kecil yang mendorong tumbuhnya kesadaran baru bahwa membaca bukan sekadar aktivitas memperoleh informasi, melainkan cara manusia memahami diri, merawat pikiran, dan menemukan jati dirinya kembali.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?