![]() |
| KH. Sholeh Nahrawi (Foto: Surau.ID/Red). |
PROBOLINGGO | JATIMSATUNEWS.COM
Di tengah kehidupan modern yang sering mengukur kesuksesan dari banyaknya harta dan kemewahan, sosok Almarhum KH. Sholeh Nahrawi atau yang lebih dikenal sebagai Nun Kalim Genggong hadir sebagai teladan tentang makna sejati rezeki dan keberkahan, Dikutip dari Surau.ID,Sabttu 20 Juni 2026.Sosok ulama kharismatik dari Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong ini hingga kini masih dikenang oleh ribuan santri dan masyarakat karena kesederhanaan, kearifan, serta kepeduliannya kepada masyarakat kecil.
Nun Kalim bukan hanya dikenal sebagai ulama yang memiliki kedalaman spiritual, tetapi juga sebagai figur yang mengajarkan bagaimana seseorang seharusnya memandang rezeki. Baginya, rezeki bukan sekadar soal banyak atau sedikit, melainkan bagaimana nikmat yang diberikan Allah SWT dapat membawa manfaat, keberkahan, dan kemaslahatan bagi sesama.
Dalam berbagai kisah yang berkembang di lingkungan pesantren dan masyarakat, Nun Kalim dikenal sangat sederhana dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Beliau tidak pernah menempatkan kekayaan materi sebagai ukuran kemuliaan seseorang. Sebaliknya, beliau lebih menghargai kejujuran, kerja keras, kesabaran, dan rasa syukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Kesederhanaan itulah yang membuat sosoknya begitu dekat dengan masyarakat kecil. Banyak warga yang datang meminta doa, nasihat, maupun sekadar ingin bersilaturahmi. Beliau menerima siapa saja tanpa membedakan status sosial, jabatan, ataupun latar belakang ekonomi. Sikap inilah yang membuat Nun Kalim dikenal sebagai sosok yang merakyat dan dicintai berbagai kalangan.
Nama Nun Kalim sendiri tidak dapat dipisahkan dari berbagai kisah karamah yang diwariskan oleh para santri dan keluarga besar Genggong. Salah satu kisah yang paling sering diceritakan adalah kemampuannya memahami berbagai bahasa meskipun beliau dikenal sebagai sosok tuna wicara. Dalam sejumlah kesaksian, Nun Kalim disebut mampu memahami hingga tujuh bahasa, mulai dari bahasa Arab, Inggris, Jerman hingga bahasa Mandarin tanpa pernah menempuh pendidikan formal bahasa tersebut.
Namun di balik berbagai keistimewaan tersebut, masyarakat justru lebih mengenang keteladanan akhlaknya. Beliau selalu mengajarkan pentingnya menghormati rezeki sekecil apa pun. Tidak menyia-nyiakan makanan, tidak hidup berlebihan, serta selalu berbagi kepada mereka yang membutuhkan menjadi bagian dari pesan moral yang terus diwariskan kepada para santri.
Menurut sejumlah tokoh dan keluarga besar Pesantren Genggong, Nun Kalim juga sering memberikan motivasi kepada masyarakat agar tidak putus asa dalam mencari nafkah. Beliau meyakini bahwa setiap orang telah memiliki bagian rezekinya masing-masing dan tugas manusia adalah berikhtiar dengan sungguh-sungguh serta menjaga keikhlasan dalam bekerja.
Warisan nilai tersebut masih terasa hingga saat ini. Setiap pelaksanaan haul KH. Sholeh Nahrawi atau Nun Kalim Genggong, ribuan jamaah dari berbagai daerah datang untuk mengenang jasa, keteladanan, dan perjuangan beliau. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa nilai-nilai kesederhanaan, kepedulian sosial, dan penghargaan terhadap rezeki yang diajarkan Nun Kalim tetap hidup di tengah masyarakat.
Di era ketika banyak orang berlomba mengejar kemewahan dan popularitas, sosok Nun Kalim Genggong mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu lahir dari banyaknya harta. Kebahagiaan justru hadir ketika seseorang mampu mensyukuri apa yang dimiliki, berbagi kepada sesama, dan menjadikan rezeki sebagai jalan untuk menebar manfaat.
Karena itulah, Nun Kalim Genggong layak dikenang sebagai "Maestro Wong Cilik", seorang ulama yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga memberikan teladan nyata tentang arti kesederhanaan, penghormatan terhadap rezeki, dan keberkahan hidup yang sesungguhnya. Sosok yang jejak perjuangannya terus menginspirasi generasi demi generasi.(Red)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?