Budiman Sudjatmiko (foto: Kompas.com)
ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Di tengah derasnya kritik atas keputusannya bergabung dalam pemerintahan, Budiman Sudjatmiko memilih menemui mahasiswa secara langsung dalam forum dialog di Universitas Gadjah Mada (UGM). Langkah tersebut dipandang sebagai upaya membangun komunikasi terbuka sekaligus menunjukkan bahwa ruang dialog tetap menjadi fondasi penting dalam kehidupan demokrasi, Sabtu 20/6/2026.
Dalam dialog tersebut, Budiman menegaskan bahwa kehadirannya di tengah mahasiswa yang kritis merupakan bentuk tanggung jawab moral sebagai pejabat publik untuk mendengar aspirasi secara langsung.
"Keberanian hadir dan berdialog di ruang yang penuh kritik menunjukkan komitmen terhadap demokrasi yang sehat dan keterbukaan terhadap aspirasi mahasiswa," ujar Budiman.
Menurut Budiman, pemerintah tidak boleh menjauh dari kritik. Sebaliknya, komunikasi langsung menjadi cara yang lebih efektif untuk memahami persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya generasi muda, dibandingkan hanya mengandalkan laporan formal ataupun dinamika perdebatan di media sosial.
Fenomena yang dialami Budiman turut mendapat perhatian dari Psikiater/Psikolog sekaligus peneliti Edy Suhardono dalam kolom opini di Kompas.com berjudul Membaca Langkah Budiman Sudjatmiko. Edy menilai perubahan posisi Budiman dari simbol perlawanan menjadi bagian dari pemerintahan tidak cukup dipahami sebagai perubahan sikap politik semata, melainkan juga sebagai proses adaptasi terhadap peran baru.
Menurut Edy, publik sering kali masih melihat Budiman melalui perspektif masa lalunya sebagai aktivis, sementara realitas saat ini menempatkannya pada posisi yang memiliki tanggung jawab dan ruang gerak berbeda.
Ia menjelaskan bahwa seseorang yang memasuki struktur pemerintahan memang menghadapi tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan sistem. Namun, penyesuaian tersebut tidak selalu berarti meninggalkan idealisme. Dalam pandangannya, Budiman justru sedang berupaya menata ulang identitasnya agar nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan tetap memiliki tempat dalam peran barunya.
Edy menilai cara Budiman berbicara, argumentasi yang dibangun, hingga kesediaannya menemui mahasiswa secara langsung merupakan bagian dari upaya menjaga kesinambungan antara identitas lamanya sebagai aktivis dengan tanggung jawabnya sebagai pejabat publik. Strategi demikian, menurutnya, lazim dilakukan banyak aktor politik yang berpindah dari posisi oposisi menuju pemerintahan.
Meski demikian, Edy mengingatkan bahwa kritik publik tetap memiliki peran penting sebagai mekanisme pengawasan terhadap penyelenggara negara. Kritik diperlukan agar setiap kompromi yang dilakukan pejabat publik tetap berada dalam koridor kepentingan masyarakat.
Di sisi lain, ia mengajak publik untuk tidak serta-merta memandang setiap perubahan sebagai bentuk pengkhianatan terhadap idealisme. Dalam politik, setiap aktor berada di persimpangan antara nilai-nilai yang diyakini dan realitas pemerintahan yang menuntut adaptasi.
Melalui forum dialog seperti yang dilakukan Budiman Sudjatmiko, ruang komunikasi antara pemerintah dan mahasiswa diharapkan semakin terbuka. Dialog langsung dinilai bukan hanya menjadi sarana menyampaikan kritik, tetapi juga membangun saling pengertian, memperkaya perspektif, serta memperkuat kualitas demokrasi Indonesia yang mengedepankan keterbukaan dan partisipasi publik.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?