![]() |
| Sumber:https://www.wearemania.net/ |
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM - Kota Malang mengalami transformasi sosiologis dan demografis yang
sangat masif dalam dua dekade terakhir. Sematan sebagai "Kota
Pendidikan" bukan lagi sekadar slogan administratif, melainkan sebuah
realitas empiris. Setiap tahunnya, puluhan ribu mahasiswa baru dari berbagai
penjuru Nusantara berbondong-bondong memadati koridor-koridor akademik di kota
ini. Kehadiran gelombang kaum muda kaum intelektual ini membawa dampak ganda:
di satu sisi memicu pertumbuhan ekonomi kreatif dan dinamika akademis, namun di
sisi lain membawa arus globalisasi dan hibridasi budaya yang sangat kuat.
Di tengah derasnya penetrasi budaya kosmopolitan tersebut,
eksistensi kesenian tradisional lokal, khususnya Ludruk Malang, berada dalam
posisi yang kian terdesak. Sebagai teater rakyat yang lahir dari rahim
kesadaran kelas pekerja dan masyarakat agraris, Ludruk secara historis
berfungsi sebagai media hiburan, kritik sosial, sekaligus perekat identitas
kultural
masyarakat Jawa
Timuran. Namun, ketika ruang urban Kota Malang mengalami modenisasi dan
didominasi oleh kultur pemuda pendatang, Ludruk seolah kehilangan panggung
utamanya. Pertanyaan akademis yang kemudian muncul adalah bagaimana kesenian
tradisional seperti Ludruk dapat mempertahankan eksistensinya di hadapan
generasi muda yang kiblat estetikanya telah terglobalisasi? Artikel ini akan
mengurai tantangan tersebut melalui pendekatan sosiologi budaya dan menawarkan
resolusi strategis berbasis kolaborasi akademis.
Sejarah Singkat dan Ciri Khas Ludruk Malang
Untuk memahami mengapa Ludruk Malang sangat penting untuk
dilestarikan, kita perlu melihat kembali sejarah dan ciri khasnya yang unik.
Berbeda dengan Ludruk dari Surabaya atau Jombang, Ludruk Malang memiliki
keunikan tersendiri. Keunikan ini terletak pada musik pengiringnya
(Gending-Gending Malangan) serta gaya bicaranya yang lebih ceplas-ceplos,
jujur, dan menggunakan bahasa khas daerah Malang (Hariyono, 2014).
Jika dilihat dari fungsinya di masyarakat, Ludruk adalah seni pertunjukan yang bersifat dua arah antara pemain dan penonton. Sejak zaman penjajahan hingga setelah kemerdekaan, Ludruk berfungsi sebagai tempat hiburan sekaligus wadah untuk menyampaikan keluh kesah masyarakat. Melalui sesi Kidungan (pantun yang dinyanyikan) dan Dagelan (lawakan), para pemain Ludruk sering menyuarakan penderitaan rakyat kecil dan mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak adil. Nilai-nilai inilah yang membuat Ludruk sangat berharga. Ludruk bukan sekadar tontonan biasa, melainkan cerminan dari sejarah dan suara jujur masyarakat bawah. Oleh karena itu, jika kesenian ini ditinggalkan oleh generasi muda, Kota Malang tidak hanya kehilangan sebuah hiburan, tetapi juga kehilangan identitas asli dan wadah untuk saling mengkritik secara sehat.
Faktor-Faktor yang Menyebabkan Turunnya Eksistensi Ludruk
Tingkat ketertarikan anak muda yang semakin menurun terhadap
Ludruk Malang tidak terjadi begitu saja, melainkan dipicu oleh gabungan
beberapa faktor utama yang saling berkaitan. Faktor pertama adalah adanya
anggapan bahwa Ludruk merupakan kesenian yang ketinggalan zaman. Menurut
penelitian Fabiola dan Wardani (2022), arus globalisasi dan internet telah
membentuk standar hiburan baru yang serba cepat dan menarik secara visual,
seperti K-Pop atau film Hollywood. Akibatnya, muncul jarak generasi yang besar
karena anak muda menganggap format asli Ludruk terlalu lambat, kuno, dan
durasinya terlalu lama.
Faktor kedua adalah kendala bahasa yang dihadapi oleh mahasiswa
pendatang. Sebagai Kota Pendidikan, mayoritas anak muda di Malang adalah
perantau dari luar daerah yang tidak memahami dialek khas Malangan atau pantun
kidungan yang menjadi roh pertunjukan Ludruk
(Suryo, 2021).
Hambatan komunikasi ini membuat mereka merasa asing dan sulit menikmati jalan
cerita atau lawakan yang dibawakan.
Terakhir, faktor ketiga adalah berubahnya tempat nongkrong anak
muda akibat pembangunan kota yang cenderung mengutamakan tempat modern seperti
kafe kekinian dan pusat perbelanjaan. Tempat pertunjukan tradisional seperti
panggung rakyat atau gedung kesenian kini semakin sepi dan kurang terawat.
Jarangnya Ludruk terlihat di ruang publik perkotaan ini membuat kesenian
tersebut perlahan-lahan terlupakan dari kehidupan sehari-hari para mahasiswa di
Malang.
Cara Menghidupkan Kembali Ludruk Lewat Kerja Sama Kampus
Melihat masalah ini, kita tidak bisa lagi memaksa anak muda
menonton Ludruk hanya karena alasan "wajib melestarikan budaya". Cara
yang lebih tepat adalah mengemas ulang penampilan Ludruk dengan memanfaatkan
kreativitas yang ada di kota pelajar ini. Menurut Wibowo (2023), agar bisa
bertahan hidup di zaman modern, kesenian tradisional harus mau menyesuaikan
diri dengan perkembangan zaman tanpa membuang ciri khas aslinya.
Salah satu solusi nyata yang bisa dilakukan adalah mengubah format
tampil menjadi lebih ringkas. Acara Ludruk yang biasanya diadakan semalam
suntuk bisa dipotong menjadi lebih singkat, sekitar 45 sampai 60 menit saja
agar penonton tidak bosan. Tema ceritanya juga harus diganti dengan masalah
sehari-hari yang dialami anak muda zaman sekarang, seperti stres kuliah,
susahnya mengatur keuangan anak kos, hingga tren media sosial. Lalu, untuk
mengatasi masalah perbedaan bahasa, pertunjukan bisa dibawakan dengan campuran
bahasa Jawa dan Indonesia, serta dibantu dengan teks terjemahan pada layar di samping
panggung.
Dukungan dari Pemerintah dan Pemain Ludruk Senior
Selain bantuan dari kampus, peran pemerintah daerah dan kelompok
seni juga sangat penting. Pemerintah Kota Malang perlu memberikan tempat tampil
gratis, misalnya mengizinkan pemain Ludruk manggung di tempat wisata, taman
kota, atau acara festival tahunan. Pemerintah juga bisa membantu memberikan
bantuan dana agar pertunjukan bisa terus berjalan.
Di sisi lain, para pemain Ludruk yang sudah senior juga harus mau membuka diri. Mereka tidak boleh pelit ilmu dan harus sabar saat mengajari anak-anak muda yang ingin belajar. Jika ada bantuan modal, tempat yang layak, dan bimbingan langsung dari para senior, usaha menyelamatkan Ludruk ini tidak akan terasa berat karena dikerjakan bersama-sama oleh semua pihak.
Daftar Pustaka
Saputra, A. D.,
& Purwanto, E. (2020). "Eksistensi Kesenian Tradisional Ludruk di Era
Modern". Jurnal Budaya Nusantara.
Fabiola, S.,
& Wardani, N. K. (2022). Retorika pemuda dan keengganan mengapresiasi
kesenian tradisional di era digital. Jurnal Budaya Nusantara.
Hariyono. (2014).
Melacak akar budaya Malangan: Karakter, egalitarianisme, dan kesenian rakyat.
Malang: Universitas Negeri Malang Press.
Suryo, S. (2021).
Malang sebagai kota pendidikan dan komodifikasi ruang budaya. Jurnal Sosiologi
Perkotaan.
Wibowo, A.
(2023). Strategi kebudayaan di tengah arus globalisasi. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Penulis : Noval Fadilan Tarigan



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?