![]() |
| Didampingi Kadisperpusip Jawa Timur, Tiat S. Suwardi, Senator Lia Istifhama mengajak perempuan menjadi produsen pengetahuan di era digital./dok. Istimewa |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI Lia Istifhama mengajak perempuan Indonesia mengambil peran lebih besar dalam membangun peradaban melalui literasi.
Menurut Lia, di tengah derasnya arus transformasi digital, perempuan dinilai tidak cukup hanya menjadi konsumen informasi, tetapi harus naik kelas menjadi produsen pengetahuan yang menghadirkan gagasan, inspirasi, dan pengaruh positif bagi masyarakat.
Lia menyampaikan ajakan ini saat menjadi narasumber podcast bertema 'Perempuan sebagai Penggerak Literasi Keluarga Menuju Indonesia Emas 2045' di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Rabu (29/4).
Siniar ini digelar dalam rangka memperingati Hari Kartini, yang kemudian dijadikan Lia sebagai momen untuk mengajak perempuan dapat menjadi aktor dalam perkembangan digital dewasa ini.
Menurut Lia, era digital telah membuka ruang sangat luas bagi publik untuk menyuarakan pemikiran. Bahkan, opini yang dibangun di ruang digital dapat memengaruhi cara pandang global terhadap isu kemanusiaan, keadilan, hingga perdamaian dunia.
Maka, ia juga mendorong perempuan untuk hadir membawa narasi yang mencerahkan, berbasis pengetahuan, serta menebarkan nilai humanisme global.
"Netizen hari ini bisa memengaruhi negara lain. Maka perempuan harus hadir membawa narasi humanisme global—tentang keadilan, perdamaian, dan nilai kemanusiaan universal. Jangan hanya menjadi penonton di ruang digital, tapi jadilah pengarah arus perubahan," ucap Lia.
Politisi 42 tahun yang dikenal aktif menyuarakan isu sosial dan pendidikan ini menegaskan, fondasi utama agar perempuan mampu menjadi penggerak perubahan adalah budaya membaca.
Menurutnya, buku bukan sekadar bacaan, melainkan instrumen membangun cara berpikir, memantik gagasan, dan membentuk karakter.
"Pena lebih tajam dari pedang. Sebuah buku mampu membangun cara berpikir, melakukan brainstorming, lalu diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Dari situlah lahir peradaban," ujarnya.
Rendahnya budaya membaca di Indonesia juga disorot Lia karena masih menjadi pekerjaan rumah besar. Padahal, bonus demografi dan kecerdasan generasi muda Indonesia merupakan kekuatan besar menuju Indonesia Emas 2045 jika ditopang budaya literasi yang kuat.
Mendukung dorongan dari Lia Istifhama, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur Ir. Tiat S. Suwardi, M.Si turut menegaskan bahwa semangat Kartini di era modern harus dimaknai sebagai perjuangan memperluas akses perempuan terhadap ilmu pengetahuan dan ruang aktualisasi intelektual.
"Literasi adalah ujung tombak pembangunan manusia menuju Indonesia Emas 2045. Ketika perempuan kuat secara intelektual, keluarga akan kuat, masyarakat menjadi cerdas, dan bangsa memiliki daya saing global," ungkapnya.
Tiat berharap banyak perempuan Jawa Timur makin aktif untuk membaca, menulis, berdiskusi, dan memanfaatkan ruang literasi sebagai sarana memperkuat kontribusi sosial di tengah perubahan zaman. ***
Editor: YAN
Baca juga: Perpus Jatim Berubah, Lia Apresiasi Beragam Inovasi Literasi Disperpusip



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?