Banner Iklan

Nilai dan Problem Kesadaran Modern: Antara Tindakan, Pengetahuan, dan Kehilangan Substansi Manusia

Admin JSN
15 Mei 2026 | 09.41 WIB Last Updated 2026-05-15T02:41:42Z
Nilai dan Problem Kesadaran Modern: Antara Tindakan, Pengetahuan, dan Kehilangan Substansi Manusia ditulis oleh Saiful Anam./dok. Istimewa

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM:

Nilai dan Problem Kesadaran Modern: Antara Tindakan, Pengetahuan, dan Kehilangan Substansi Manusia
Oleh: Saiful Anam

Salah satu krisis terbesar manusia modern adalah kecenderungannya mereduksi realitas pada apa yang tampak di permukaan.

Kehidupan dinilai berdasarkan gejala lahiriah, sementara dimensi batiniah yang justru menentukan kualitas eksistensial manusia perlahan disingkirkan dari ruang kesadaran. Dalam situasi semacam ini, manusia akhirnya gagal membedakan antara tindakan dan makna, antara simbol dan substansi, antara citra dan hakikat.

Padahal secara filosofis, tindakan tidak pernah berdiri sebagai entitas yang netral. Setiap tindakan selalu lahir dari struktur kesadaran tertentu, dari horizon psikologis tertentu, serta dari orientasi nilai yang membentuknya. Karena itu, dua tindakan yang tampak identik secara empiris belum tentu identik secara ontologis maupun moral.

Sedekah dan pemborosan, misalnya, dapat menghasilkan manifestasi sosial yang serupa yakni sama-sama mengeluarkan harta dalam jumlah besar. Akan tetapi keduanya berasal dari fondasi kesadaran yang berbeda secara radikal.

Sedekah merupakan ekspresi transendensi diri—suatu gerak keluar dari ego menuju pengakuan atas keberadaan orang lain. Sementara pemborosan justru sering kali merupakan bentuk pelampiasan hasrat konsumtif yang berpusat pada pemuasan diri. Pada titik ini, tindakan lahiriah kehilangan relevansinya sebagai ukuran tunggal moralitas.

Fenomena yang sama dapat ditemukan pada relasi antara hemat dan pelit. Secara fenomenologis, keduanya tampak identik karena sama-sama menahan pengeluaran. Namun hemat merupakan artikulasi rasionalitas etik yaitu kemampuan menempatkan kebutuhan dalam proporsi yang tepat.

Sedangkan pelit merupakan ekspresi keterikatan patologis terhadap kepemilikan. Dengan kata lain, hemat lahir dari kesadaran akan tanggung jawab, sedangkan pelit lahir dari kecemasan eksistensial terhadap kehilangan.

Begitu pula dalam pengabdian sosial. Apa yang dalam kehidupan sehari-hari disebut 'cari muka' atau 'ngatok' (b. Jawa) sering kali memiliki bentuk yang sulit dibedakan dari pengabdian yang autentik.

Keduanya dapat menghasilkan kerja sosial yang sama, memperoleh apresiasi yang sama, bahkan tercatat dalam sejarah sosial yang sama. Namun secara eksistensial, keduanya bergerak dari pusat kesadaran yang berbeda.

Pengabdian autentik lahir dari kesadaran etik terhadap makna keberadaan bersama, sedangkan pencitraan sosial lahir dari kebutuhan akan pengakuan simbolik.

Di sinilah tampak keterbatasan epistemologi masyarakat modern yakni manusia terlalu percaya pada fakta empiris, tetapi kehilangan sensitivitas terhadap dimensi intensional dari tindakan manusia.

Peristiwa memang dapat dilihat oleh mata, dan cerita dapat didengar oleh telinga, tetapi niat, rasa, dan struktur psikologis manusia berada dalam ruang batin yang tidak sepenuhnya dapat direduksi menjadi fakta objektif.

Karena itu, nilai menjadi sesuatu yang fundamental. Nilai bukan sekadar norma sosial atau aturan moral, melainkan horizon makna yang memungkinkan manusia membedakan antara tindakan yang autentik dan tindakan yang semu.

Nilai bekerja sebagai parameter ontologis yang memberi kualitas pada tindakan manusia. Tanpa nilai, tindakan hanya menjadi gerak mekanis yang kehilangan ruh eksistensialnya.

Persoalan ini menjadi makin mendalam ketika dikaitkan dengan hakikat pengetahuan. Dalam tradisi filsafat klasik maupun modern, pengetahuan sering dianggap sebagai sesuatu yang meninggikan manusia. Akan tetapi problem terbesar bukan terletak pada keberadaan pengetahuan itu sendiri, melainkan pada kenyataan bahwa pengetahuan bukan kualitas alami dari jiwa.

Pengetahuan bukan substansi esensial manusia. Ia lebih menyerupai aksiden—sesuatu yang melekat tetapi tidak inheren. Karena itu, pengetahuan dapat berubah, bergeser, bahkan memudar.

Analogi paling sederhana adalah warna pada pakaian. Warna bukanlah hakikat dari kain tersebut, ia hanyalah lapisan yang menempel pada permukaan. Oleh sebab itu, warna dapat memudar ketika berhadapan dengan panas matahari dan perjalanan waktu.

Demikian pula pengetahuan manusia. Ia dapat tampak terang dalam situasi tertentu, tetapi dapat kehilangan intensitasnya ketika manusia terputus dari refleksi dan nilai.

Pengetahuan tanpa nilai pada akhirnya hanya melahirkan kecerdasan instrumental berupa kemampuan teknis tanpa arah moral. Manusia mengetahui banyak hal, tetapi tidak memahami makna keberadaannya sendiri.

Inilah paradoks besar peradaban modern. Di satu sisi, manusia mengalami ledakan informasi dan perkembangan teknologi yang luar biasa. Namun di sisi lain, manusia justru mengalami kekosongan makna. Pengetahuan berkembang secara kuantitatif, tetapi kesadaran moral mengalami kemunduran secara kualitatif.

Akibatnya, manusia modern menjadi makhluk yang semakin terampil membangun citra, tetapi semakin gagal membangun substansi diri. Ia mampu menampilkan moralitas di ruang publik, tetapi kehilangan kedalaman etik dalam ruang batinnya sendiri.

Kehidupan akhirnya berubah menjadi pertunjukan simbolik, tempat penampilan lebih dihargai daripada ketulusan, dan pengakuan sosial lebih penting daripada integritas eksistensial.

Karena itu, problem utama manusia bukan sekadar kebodohan intelektual, melainkan krisis nilai. Sebab tanpa nilai, pengetahuan hanya menjadi cahaya semu yang mudah pudar di hadapan ambisi, ego, dan kepentingan. Dan ketika nilai kehilangan tempat dalam kesadaran manusia, maka peradaban hanya akan melahirkan manusia-manusia cerdas yang miskin kebijaksanaan.

Pada akhirnya, kualitas manusia tidak pernah ditentukan semata oleh apa yang tampak dalam tindakannya, melainkan oleh kedalaman kesadaran yang melatarbelakanginya. Sebab sejarah mungkin hanya mencatat peristiwa, tetapi makna sejati kehidupan selalu lahir dari dimensi batin yang tidak seluruhnya dapat dilihat oleh dunia. (Rof)

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Nilai dan Problem Kesadaran Modern: Antara Tindakan, Pengetahuan, dan Kehilangan Substansi Manusia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now