![]() |
| Kisah inspiratif, Muhammad Umar (kiri), warga Pasir Pakis Kabupaten Malang yang menjalankan ibadah haji dari usaha tahu dengan berbagai lika-liku./dok. Istimewa |
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM:
Kisah Inspiratif
Di sebuah sudut sederhana di Desa Pasir, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, hidup seorang lelaki sepuh bernama M Umar.
Usianya 61 tahun. Tubuhnya tidak tinggi. Wajahnya sederhana. Tangannya kasar oleh panas tungku dan pekerjaan berat selama puluhan tahun.
Bersama istrinya, ia menjalani hidup yang jauh dari kemewahan. Dua anak dan empat cucu menjadi penyejuk hati di masa senjanya.
Namun siapa sangka, dari tangan seorang penjual tahu pasar kecamatan, Allah memperjalankan langkah menuju tanah suci.
Pak Umar bukan orang yang lahir dari keluarga berada. Ia hanya lulusan SD.
Setelah masa kecilnya berlalu, hidup langsung mengajarinya kerasnya perjuangan. Ia pernah mencari rumput di kampung, menjadi buruh tani padi, hingga merantau bekerja sebagai buruh ukir di Dinoyo Malang.
Apa saja ia kerjakan. Bukan untuk kaya, tetapi agar dapur tetap mengepul.
Kadang, hasil kerja hanya cukup untuk makan sehari. Kadang, tubuh lelah lebih besar daripada uang yang dibawa pulang.
Namun Pak Umar menjalani semuanya dengan sabar. Ia percaya, rezeki halal sekecil apa pun akan membawa keberkahan.
Setelah menikah, ada seseorang yang mengenalkannya pada usaha tahu. Ia pun belajar membuat tahu dari nol. Awalnya hanya mampu mengolah sekitar 8 kilogram kedelai. Dikerjakan sendiri. Dijual sendiri. Untungnya sangat kecil.
Tetapi, lelaki ini memiliki satu sifat yang jarang dimiliki banyak orang yaitu telaten.
Hari demi hari ia jalani tanpa mengeluh. Tahun demi tahun berlalu. Sedikit demi sedikit usahanya berkembang. Dari 8 kilogram menjadi puluhan kilogram, hingga akhirnya kini mencapai sekitar 2 kwintal kedelai setiap hari.
Namun ternyata bukan itu mimpi terbesar dalam hidupnya. Di balik kesibukan membuat tahu, Pak Umar menyimpan cita-cita yang sangat besar yakni bisa berhaji bersama istrinya. Cita-cita itu tidak datang sebentar, namun dipendam puluhan tahun.
Selama itu pula ia menabung dengan cara yang sangat sederhana. Sedikit hasil keuntungan tahu disimpan.
Kadang bukan berupa uang, melainkan ternak sapi. Ada yang dipelihara sendiri, ada pula yang dititipkan kepada orang lain. Pernah suatu waktu, ia memiliki delapan ekor sapi.
Tetapi ada peristiwa yang membuat orang-orang terharu ketika mendengarnya. Di rumah sederhana Pak Umar, anak-anak kampung rutin datang mengaji.
Semakin lama semakin banyak. Tempatnya tidak lagi cukup. Lalu Pak Umar mengambil keputusan yang tidak semua orang mampu melakukannya.
Kandang sapi miliknya dibongkar. Tempat yang biasanya menghasilkan uang itu diubah menjadi tempat mengaji santri kecil kampung.
Ia lebih rela kehilangan kandang daripada kehilangan suara anak-anak membaca Al-Qur’an. Mungkin di situlah rahasia keberkahan hidupnya.
Ketika niat berhaji mulai benar-benar kuat, Pak Umar sempat merasa pesimis. Biaya haji terasa sangat besar untuk ukuran penjual tahu desa. Tetapi istrinya terus menguatkannya.
"Kalau niat karena Allah, Allah pasti memberi jalan."
Kalimat itu sederhana, tetapi menjadi tenaga besar dalam hidup mereka. Dan sejak saat itu, perlahan keajaiban demi keajaiban datang.
Jualan tahunya semakin laris. Pelanggan bertambah banyak. Bahkan saat beliau berangkat ke tanah suci pun, usaha tahu itu tetap berjalan lancar ditangani anak-anaknya.
Lalu datang ujian besar. Musim virus sapi melanda. Banyak sapi mati. Harga sapi jatuh sangat murah. Sapi yang roboh dan tidak mampu berdiri hanya dihargai sekitar enam juta rupiah.
Suatu hari salah satu sapi Pak Umar terlihat sakit. Ada orang datang hendak membeli murah.
"Enam juta ya Pak."
Pak Umar menolak halus. "Besok saja datang lagi."
Padahal di dalam hati, beliau pasrah. Sapi itu sebenarnya sudah diniatkan menjadi tambahan biaya haji.
Malam itu beliau hanya bisa berdoa. Dan esok harinya, sesuatu yang nyaris tak dipercaya terjadi. Sapinya kembali berdiri. Kembali makan. Kembali sehat.
Beberapa waktu kemudian, sapi itu terjual dengan harga sekitar dua puluh delapan juta rupiah.
Pak Umar berkali-kali mengatakan bahwa Allah benar-benar menunjukkan pertolongan-Nya kepada hamba yang bersungguh-sungguh berharap.
Namun ujian belum selesai. Karena faktor usia, Pak Umar mengidap beberapa penyakit kronis. Ia takut tidak lolos pemeriksaan kesehatan.
Hari-hari menjelang pelunasan biaya haji menjadi sangat menegangkan baginya. Beliau sudah pasrah dan mengatakan pada istrinya, kamu saja yang berangkat. Saya tidak perlu dihiraukan.
Ia hanya bisa berdoa. Hingga akhirnya, tepat satu hari menjelang pelunasan, pengumuman keluar.
Beliau dinyatakan istitha’ah. Layak berangkat haji. Air matanya jatuh.
Puluhan tahun perjuangan, lelah, doa, dan kesabaran seperti terjawab dalam satu kabar itu. Kini penjual tahu desa itu benar-benar berdiri di tanah suci bersama istrinya.
Ada satu hal yang membuat banyak orang kagum. Walaupun usia sudah lanjut. Walaupun kondisi fisik tidak sempurna. Walaupun jarak hotel ke Masjidil Haram cukup jauh — sekitar 4,5 kilometer dari wilayah Raudhah dan masih harus berjalan cukup jauh dari terminal — Pak Umar hampir tak pernah menyia-nyiakan kesempatan.
Pagi pergi ke masjid. Siang pergi lagi. Malam kembali lagi.
Langkahnya memang pelan. Nafasnya kadang berat. Tetapi semangat ibadahnya seakan tidak mengenal usia.
Ketika ditanya mengapa begitu kuat berjalan berkali-kali ke Masjidil Haram, beliau hanya tersenyum.
"Mumpung diberi kesempatan."
Lalu beliau menyampaikan satu nasihat yang sangat membekas bagi orang-orang di sekitarnya. "Haji itu ada dua panggilan," katanya pelan.
"Panggilan Allah dan panggilan setan." Orang-orang terdiam mendengarkan.
Beliau melanjutkan, "Kalau panggilan Allah, sepulang haji hidupnya semakin baik. Ibadahnya semakin rajin. Akhlaknya semakin lembut. Rezekinya makin berkah. Semakin dekat kepada Allah."
"Tapi kalau panggilan setan, setelah haji tetap buruk. Bahkan kadang semakin buruk. Hajinya hanya sampai gelar, tidak sampai hati."
Kalimat sederhana itu keluar dari mulut seorang penjual tahu desa. Tetapi terasa sangat dalam. Sebab beliau tidak sedang bicara teori. Beliau sedang bicara tentang perjalanan hidupnya sendiri.
Tentang bagaimana haji bukan sekadar mampu datang ke tanah suci. Tetapi bagaimana seseorang pulang dengan jiwa yang berubah.
Pak Umar memahami betul bahwa Ka’bah bukan tujuan akhir. Paling penting adalah apakah hati benar-benar kembali kepada Allah.
Dari kisah beliau, kita belajar bahwa keajaiban tidak selalu datang kepada orang kaya atau berpendidikan tinggi.
Kadang Allah memberikannya kepada orang sederhana yang sabar bekerja halal, tekun beribadah, memuliakan Al-Qur’an, dan tidak pernah berhenti berharap.
Mungkin, ada doa-doa polos anak-anak kampung yang dulu mengaji di bekas kandang sapinya, yang diam-diam menjadi jalan langit terbuka untuk Pak Umar menuju Baitullah. ***
Pewarta: Refan Purba
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?