Banner Iklan

Di Balik Indahnya “Payung Madina”, Kemiskinan Ekstrem di Kota Pasuruan Disebut Terabaikan

Anis Hidayatie
16 Mei 2026 | 12.11 WIB Last Updated 2026-05-16T05:12:08Z

 


Ayi Suhaya, komentari Kemiskinan Ekstrem di Kota Pasuruan Disebut Terabaikan

PASURUAN | JATIMSATUNEWS.COM: Gemerlap pembangunan dan ikon “Payung Madina” di Kota Pasuruan mendadak kontras dengan potret memilukan yang dialami Tri Gandung Warsito (61), warga Kelurahan Randusari, RT 03 RW 01, Kecamatan Gadingrejo. Di tengah kawasan perkotaan, pria yang bekerja sebagai buruh tukang kayu itu harus bertahan hidup di rumah nyaris roboh dengan kondisi yang jauh dari kata layak.

Kondisi memprihatinkan tersebut viral di media sosial dan memicu sorotan publik terhadap penanganan kemiskinan ekstrem di Kota Pasuruan. Rumah yang ditempati Warsito sejak 1989 tampak rapuh dengan dinding retak, plester mengelupas, serta bagian atap kamar yang ambruk sejak setahun lalu akibat lapuk dimakan usia.

Untuk bertahan dari panas dan hujan, Warsito menutup bagian atap dan dinding yang rusak menggunakan triplek bekas dan potongan banner iklan seadanya. Di dalam rumah, ruang tamu dijadikan tempat tidur dengan lantai semen seadanya, sementara bagian belakang rumah masih berupa tanah.

Yang lebih memprihatinkan, rumah tersebut juga tidak memiliki fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) yang memadai. Kamar mandi yang ada tampak berlumut dan tanpa jamban, sehingga keluarga tersebut terpaksa buang air besar di sungai terdekat.

Melihat langsung kondisi itu, Wakil Gubernur Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Jawa Timur, Ayi Suhaya bersama Abdul Aziz dan Zainul Jidoor turun ke lokasi pada Jumat (15/05/2026). Kehadiran mereka disebut sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang dinilai belum tersentuh penanganan maksimal pemerintah daerah.

Dalam keterangannya di lokasi, Ayi Suhaya melontarkan kritik keras kepada Pemerintah Kota Pasuruan dan DPRD Kota Pasuruan. Ia menilai kondisi rumah Warsito menjadi bukti nyata masih adanya kemiskinan ekstrem yang belum tertangani secara serius.

“Ini bukti nyata kemiskinan ekstrem di Kota Pasuruan. Rumah hampir roboh tapi dibiarkan bertahun-tahun. Kalau sampai ambruk dan menimbulkan korban, siapa yang bertanggung jawab?” ujarnya dengan nada tegas.

Ayi juga menyoroti adanya Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (Silpa) Kota Pasuruan yang disebut mencapai Rp95,37 miliar. Menurutnya, anggaran tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan untuk program prioritas seperti bedah rumah bagi warga miskin ekstrem.

“Kita sudah puluhan tahun merdeka, tetapi masih ada warga yang hidup dalam kondisi seperti ini. Anggaran daerah seharusnya berpihak kepada rakyat kecil, bukan hanya habis untuk kegiatan seremonial,” katanya.

Selain itu, ia turut mengkritik fungsi pengawasan DPRD Kota Pasuruan yang dinilai belum berjalan optimal. Menurutnya, persoalan kemiskinan ekstrem semestinya menjadi perhatian serius seluruh pemangku kebijakan daerah.

Ayi Suhaya menegaskan pihaknya akan melayangkan laporan resmi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur hingga pemerintah pusat agar kondisi warga di Kelurahan Randusari mendapat perhatian dan penanganan segera.

Kasus yang menimpa Tri Gandung Warsito kini menjadi cermin ironi di tengah wajah pembangunan kota. Di balik simbol keindahan dan modernisasi, masih ada warga yang hidup dalam keterbatasan ekstrem dan menunggu uluran nyata dari pemerintah maupun para pemangku kepentingan. Ans


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Di Balik Indahnya “Payung Madina”, Kemiskinan Ekstrem di Kota Pasuruan Disebut Terabaikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now