Banner Iklan

Prof. Yudi Purnomo, Guru Besar Fakultas Kedokteran UNISMA, Harapan Baru Penanganan Diabetes dari Herbal Nusantara

Anis Hidayatie
16 Mei 2026 | 11.09 WIB Last Updated 2026-05-16T04:14:37Z

 


Prof. Yudi Purnomo dengan extract pulutan 
SAPA TOKOH | JATIMSATUNEWS.COM: Tasyakuran pengukuhan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang (FK UNISMA) menjadi momentum penting bagi dunia kesehatan dan riset herbal Indonesia. Sosok yang dikukuhkan, Prof. Apt. Dr. H. Yudi Purnomo, S.Si., M.Kes, bukan hanya dikenal sebagai akademisi dan perintis FK UNISMA sejak awal berdiri pada 2005, tetapi juga peneliti yang konsisten mengembangkan terapi herbal untuk diabetes melitus.

Di tengah meningkatnya ancaman diabetes di Indonesia, penelitian Prof. Yudi hadir membawa optimisme baru. Ia menyoroti bahwa Indonesia kini berada di peringkat kelima dunia dalam jumlah penderita diabetes melitus. Lebih memprihatinkan lagi, angka kematian akibat komplikasi diabetes menempatkan Indonesia di posisi keenam dunia.

“Sebagian besar kasus diabetes di Indonesia adalah diabetes melitus tipe 2. Yang menjadi perhatian saya bukan hanya kadar gula darah, tetapi mekanisme inflamasi metabolik yang memperparah penyakit dan memicu komplikasi multi-organ,” ujar Prof. Yudi dalam wawancara usai pengukuhannya, Selasa (12/5/2026).

Menurutnya, selama ini pengobatan diabetes banyak berfokus pada pengendalian glukosa darah, baik melalui peningkatan sensitivitas insulin maupun sekresi insulin. Namun, penelitian yang ia kembangkan justru membidik akar lain yang sering luput diperhatikan, yakni inflamasi metabolik.

Meneliti Pulutan, Herbal Lokal yang Menarik Perhatian Jepang

Penelitian Prof. Yudi menggunakan tanaman herbal pulutan atau Urena lobata, tanaman yang cukup banyak ditemukan di Indonesia. Dari tanaman ini, ia meneliti kandungan metabolit sekunder yang berpotensi menekan inflamasi pada penderita diabetes.

Perjalanan riset tersebut tidak singkat. Ketertarikan Prof. Yudi terhadap diabetes sudah dimulai sejak menempuh pendidikan S2 dan S3. Setelah menyelesaikan studi doktoralnya, fokus risetnya berkembang dari pengendalian glukosa darah menuju inflamasi metabolik.

Penelitiannya bahkan mendapat dukungan dari Jepang melalui kolaborasi bersama Ritsumeikan University College of Pharmaceutical Sciences. Selama tiga bulan di Jepang, ia melakukan pengujian terhadap kultur sel hepatosit mencit untuk melihat efek antiinflamasi ekstrak pulutan.

“Hasilnya menunjukkan aktivitas antiinflamasi yang cukup baik. Dari beberapa fraksi yang diuji, ada satu fraksi yang paling kuat. Setelah diuji lebih lanjut, ternyata senyawa gosipin memiliki efek lebih kuat dalam menekan inflamasi dibanding senyawa lainnya,” jelasnya.

Temuan itu menjadi menarik karena membuka kemungkinan baru dalam terapi diabetes berbasis herbal Indonesia. Jika selama ini diabetes hanya dipahami dari sisi gula darah, penelitian Prof. Yudi menunjukkan bahwa inflamasi memiliki peran besar dalam memperparah resistensi insulin dan komplikasi penyakit.

Dari Laboratorium Menuju Industri Herbal

Meski masih berada dalam tahap pengembangan, penelitian tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk masuk ke industri herbal nasional. Bahkan, Prof. Yudi mengaku telah membuat prototipe produk berupa kapsul ekstrak pulutan.

Namun ia menyadari, perjalanan menuju industri farmasi modern masih membutuhkan tahapan panjang, terutama dalam proses isolasi senyawa murni seperti gosipin dan gosipetin.

“Kalau untuk ekstrak herbal sebenarnya masyarakat Indonesia cukup menerima. Tapi untuk industri farmasi modern, mereka biasanya menginginkan single compound atau senyawa tunggal yang benar-benar spesifik,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa ekstrak herbal memiliki kelebihan karena mengandung banyak komponen yang dapat bekerja secara sinergis. Akan tetapi, tantangannya adalah menentukan secara pasti senyawa mana yang paling dominan memberikan efek terapi.

Karena itu, penelitian lanjutan masih diperlukan, mulai dari standarisasi bahan baku, metode ekstraksi, uji toksisitas, hingga uji klinis yang lebih komprehensif.

Meski demikian, hasil awal penelitian menunjukkan tanda positif. Uji toksisitas terhadap ikan zebra dan kultur sel menunjukkan bahwa ekstrak tersebut relatif aman dan memiliki tingkat toksisitas rendah.

Mengedukasi Masyarakat Lewat Publikasi dan Penyuluhan

Di luar laboratorium, Prof. Yudi juga aktif mengampanyekan pentingnya pemanfaatan herbal berbasis riset ilmiah. Selama ini ia melakukan publikasi ilmiah sekaligus penyuluhan kepada masyarakat mengenai potensi tanaman obat Indonesia.

Menurutnya, edukasi menjadi langkah penting agar masyarakat tidak hanya mengenal herbal sebagai jamu tradisional, tetapi juga memahami bahwa tanaman lokal dapat dikembangkan secara ilmiah menjadi produk kesehatan modern.

“Pulutan atau Urena lobata sebenarnya sudah banyak dijual di marketplace dalam bentuk kapsul. Tapi kita ingin pengembangannya lebih terstandar, lebih ilmiah, dan memiliki bukti keamanan serta efektivitas yang kuat,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa jika produk masih dalam bentuk jamu atau ekstrak herbal terstandar, penggunaannya relatif lebih mudah dipasarkan. Namun untuk naik kelas menjadi fitofarmaka atau obat modern berbasis herbal, diperlukan penelitian lebih mendalam hingga tahap klinis.




Guru Besar yang Tetap Rendah Hati

Di balik capaian akademik dan penelitiannya, Prof. Yudi tetap dikenal sebagai sosok sederhana yang telah mengabdi sejak awal berdirinya FK UNISMA pada 2005. Pengukuhan guru besar yang diselenggarakan penuh khidmat itu menjadi simbol perjalanan panjang seorang akademisi yang tekun meneliti demi menjawab persoalan kesehatan masyarakat.

Melalui riset herbal diabetes berbasis tanaman lokal, Prof. Yudi tidak hanya membawa nama FK UNISMA ke panggung internasional, tetapi juga membuka harapan bahwa kekayaan hayati Indonesia dapat menjadi solusi kesehatan masa depan.

Dari daun pulutan yang tumbuh liar di tanah Nusantara, lahir sebuah harapan baru bagi jutaan penderita diabetes di Indonesia. Ans


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Prof. Yudi Purnomo, Guru Besar Fakultas Kedokteran UNISMA, Harapan Baru Penanganan Diabetes dari Herbal Nusantara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now