![]() |
| Artikel opini Berkorban: Membangun Cinta Dua Arah kepada Allah dan Sesama karya Roibin, Dosen Fakultas Syariah & Pascasarjana UIN Malang./dok.istimewa |
OPINI | JATIMSATUNEWS.COM:
Berkorban: Membangun Cinta Dua Arah kepada Allah dan Sesama
Oleh: Prof.Dr.H.Roibin,M.HI., Dosen Fakultas Syariah & Pascasarjana UIN Malang
Gema takbir, tahmid, dan tasbih kembali memenuhi langit dunia. Jutaan umat Islam dari berbagai bangsa, suku, dan budaya merayakan Idul Adha sebagai momentum spiritual yang menghadirkan rasa syukur sekaligus kepasrahan total kepada Allah SWT.
Pada saat yang sama, jutaan jamaah haji berkumpul di Padang Arafah, menunaikan rukun-rukun ibadah haji sebagai simbol ketundukan manusia di hadapan Sang Pencipta.
Iduladha bukan sekadar ritual tahunan penyembelihan hewan kurban. Di balik itu, terdapat pesan besar tentang cinta, pengorbanan, kemanusiaan, dan pembangunan peradaban.
Kisah Nabi Ibrahim AS menjadi fondasi utama dari spirit tersebut. Ribuan tahun silam, di tengah gurun tandus Makkah, Ibrahim menanamkan cita-cita besar tentang lahirnya sebuah peradaban yang aman, damai, dan bertauhid.
Dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 35, beliau berdoa agar negeri itu menjadi negeri yang aman sentosa dan dijauhkan dari kemusyrikan.
Cita-cita Ibrahim tidak berhenti pada pembangunan fisik dan sosial. Ia ingin membangun peradaban manusia yang berakar pada spiritualitas. Karena itu, beliau menempatkan Siti Hajar dan Ismail AS di lembah tandus dekat Baitullah.
Pilihan itu bukan tanpa tujuan. Ibrahim ingin menanamkan karakter tauhid, keteguhan ibadah, dan kemandirian hidup kepada generasinya.
Di tempat yang tampak tidak menjanjikan secara material itulah justru lahir pusat peradaban dunia Islam. Makkah kemudian menjadi titik temu lintas bangsa dan budaya, tempat manusia belajar tentang persaudaraan, kesetaraan, dan pengabdian kepada Tuhan.
Puncak keteladanan Ibrahim tampak ketika beliau diuji untuk mengorbankan putra tercintanya, Ismail AS. Ujian itu bukan sekadar tentang penyembelihan, melainkan tentang kualitas cinta dan loyalitas seorang hamba kepada Allah.
Ibrahim telah menunggu puluhan tahun untuk memperoleh keturunan. Ketika Ismail hadir sebagai cahaya kebahagiaan, Allah justru memerintahkan agar putra itu dikorbankan. Di sinilah letak ujian terbesar seorang ayah yaitu memilih antara cinta kepada anak atau cinta kepada Tuhan.
Namun, kisah itu juga menunjukkan bahwa pengorbanan dalam Islam tidak dibangun di atas kekerasan, melainkan dialog dan kesadaran. Ibrahim tidak memaksakan kehendak kepada Ismail. Ia mengajak putranya berdiskusi.
Ismail pun menjawab dengan penuh ketundukan, "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."
Dialog tersebut memperlihatkan nilai pendidikan Islam yang humanis, terbuka, dan penuh penghormatan. Tidak ada otoritarianisme dalam keluarga Ibrahim. Yang ada adalah keteladanan, komunikasi, dan kesadaran spiritual bersama.
Pada akhirnya, Allah mengganti Ismail dengan seekor hewan kurban. Peristiwa ini mengandung pesan penting bahwa Islam menolak pengorbanan manusia. Tradisi jahiliyah yang menjadikan manusia sebagai tumbal dihapuskan dan diganti dengan penyembelihan hewan ternak yang halal serta bermanfaat bagi sesama, terutama kaum dhuafa.
Karena itu, hakikat kurban sesungguhnya bukan terletak pada darah dan daging hewan yang dipersembahkan, melainkan pada ketakwaan dan keikhlasan manusia. Al-Qur’an menegaskan, "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaanmulah yang dapat mencapainya." (QS. Al-Hajj: 37)
Di tengah kehidupan modern hari ini, pesan kurban menjadi semakin relevan. Dunia sedang menghadapi krisis kemanusiaan yakni kekerasan atas nama agama, konflik sosial, diskriminasi, fitnah, eksploitasi, hingga pembunuhan karakter yang terus berlangsung di ruang publik maupun media sosial.
Dalam situasi seperti ini, semangat kurban seharusnya tidak berhenti pada ritual seremonial tahunan. Nilai berkorban harus ditransformasikan ke dalam kehidupan nyata: mengorbankan egoisme, keserakahan, kebencian, dan nafsu kekuasaan yang merusak kemanusiaan.
Kurban juga mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus melahirkan cinta kepada sesama manusia. Kesalehan vertikal tidak akan sempurna tanpa kesalehan sosial. Hubungan kepada Allah (hablum minallah) harus berjalan seiring dengan hubungan kepada manusia (hablum minannas).
Bangsa Indonesia sangat membutuhkan spirit ini. Di tengah polarisasi sosial dan meningkatnya sikap intoleran, Iduladha dapat menjadi momentum untuk memperkuat kembali nilai persaudaraan, gotong royong, empati, dan kepedulian sosial.
Masyarakat yang religius sejatinya bukan masyarakat yang gemar mempertontonkan simbol-simbol keagamaan semata, melainkan masyarakat yang mampu menghadirkan nilai agama dalam kehidupan nyata: jujur, adil, ramah, terbuka, dan menghargai sesama.
Berkurban bukan hanya tentang menyembelih hewan. Berkurban adalah keberanian menyembelih sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia seperti kesombongan, kerakusan, kebencian, dan egoisme. Dari situlah lahir manusia yang lebih utuh, lebih beradab, dan lebih dekat kepada Tuhan sekaligus lebih mencintai sesama.
Idul Adha mengajarkan bahwa cinta sejati selalu membutuhkan pengorbanan. Dan pengorbanan tertinggi adalah ketika manusia mampu menghadirkan cinta dua arah, cinta kepada Allah dan cinta kepada sesama makhluk. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?