Banner Iklan

4 Ciri Haji Mabrur: Refleksi Khotbah Jumat di Musala Hotel 412 Al Ahbab Raudhah

Admin JSN
15 Mei 2026 | 17.53 WIB Last Updated 2026-05-15T10:53:55Z
Khotbah Jumat (15/5) di Al Ahbab Raudhah, Arab Saudi yang dihadiri jamaah haji Indonesia asal Jawa Timur./dok. Istimewa

RAUDHAH | JATIMSATUNEWS.COM - Suasana Musala Hotel 412 Al Ahbab wilayah Raudhah terasa begitu khidmat.

Jamaah dari kloter SUB 14, SUB 15, dan SUB 74 Surabaya Jawa Timur memenuhi musala dengan wajah teduh dan hati yang larut dalam nasihat.

Bertindak sebagai bilal, Abah Mardjoko, sementara khotbah dan imam dipimpin oleh KH Bibit Hariyanto Dai, pembimbing KBIHU Al-Makarim Pakis Malang.

Khotbah berlangsung penuh sentuhan ruhani. Kadang lirih mengajak jamaah merenung, namun sesekali menggelegar penuh semangat, membakar hati jamaah agar benar-benar mempersiapkan diri menjadi tamu Allah yang pulang membawa kemabruran.

Khatib mengawali khutbah dengan mengingatkan bahwa beberapa hari lagi umat Islam akan memasuki bulan suci Zulhijah. Bulan yang sangat mulia, saat jutaan kaum muslimin dari seluruh dunia memenuhi Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji.

Haji bukanlah perjalanan biasa. Haji adalah perjalanan suci

Perjalanan iman, kepatuhan, pengorbanan, dan ketundukan kepada Allah SWT. Ibadah yang diwajibkan sekali seumur hidup bagi yang mampu. Karena itu, setiap jamaah harus menanamkan harapan besar agar hajinya menjadi haji mabrur.

Rasulullah ﷺ bersabda:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
"Tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa agung kedudukan haji mabrur. Bukan hanya diterima, tetapi diganjar langsung dengan surga Allah SWT.

1. Niat Ikhlas karena Allah SWT

Ciri pertama haji mabrur adalah niat yang ikhlas semata-mata karena Allah SWT, bukan karena gengsi, pujian, status sosial, atau ingin dipanggil 'Pak Haji'.

Allah SWT berfirman:
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ
"Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah."
(QS. Al-Baqarah: 196)

Khatib menegaskan bahwa seluruh amal bergantung pada niatnya. Jika niat sejak awal sudah lurus karena Allah, maka perjalanan haji akan bernilai ibadah yang agung. Tetapi bila dicampuri riya dan pamer, maka kemabruran akan sulit diraih.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, jamaah diajak terus memperbaiki hati. Saat thawaf, sai, wukuf, maupun ibadah lainnya, semua dilakukan hanya demi mencari ridha Allah SWT.

Jamaah haji Indonesia menyimak dengan sungguh-sungguh khotbah salat Jumat di Raudhah (15/5) yang penuh pesan penting./dok. Istimewa

2. Ibadah Sesuai Tuntunan Rasulullah ﷺ

Ciri kedua haji mabrur adalah melaksanakan seluruh rangkaian ibadah sesuai tuntunan Nabi Muhammad ﷺ.

Rasulullah ﷺ bersabda:
خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ
"Ambillah dariku tata cara manasik hajimu."
(HR. Muslim)

Haji bukan sekadar semangat ibadah, tetapi juga harus benar tata caranya. Karena itu jamaah harus taat kepada sunah Rasulullah ﷺ, mengikuti bimbingan manasik, dan tidak membuat tata cara sendiri.

Khatib mengingatkan bahwa kemabruran tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari kesesuaian amal dengan tuntunan Nabi. Semakin ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ, semakin besar harapan memperoleh haji mabrur.

3. Menjauhi Perbuatan Tercela

Ciri ketiga haji mabrur adalah meninggalkan segala bentuk perbuatan tercela selama berhaji.

Allah SWT berfirman:
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
"Haji itu pada bulan-bulan yang telah diketahui. Barang siapa menetapkan niat berhaji pada bulan itu, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam masa haji."
(QS. Al-Baqarah: 197)

Khatib menjelaskan tentang larangan:
Rafats: ucapan dan perbuatan yang mengarah pada syahwat dan perkataan kotor.
Fusuq: maksiat dan pelanggaran kepada Allah.
Jidal: pertengkaran dan perdebatan yang tidak perlu.

Ibadah haji mendidik umat Islam menjadi pribadi yang sabar dan mampu mengendalikan emosi. Di tengah jutaan manusia dengan berbagai karakter, jama’ah diuji untuk tetap tenang, santun, dan menjaga akhlak.

Ketika seseorang benar-benar datang karena Allah, maka ia harus meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah.

4. Bertambah Amal Saleh dan Akhlakul Karimah

Ciri terakhir haji mabrur adalah adanya perubahan nyata setelah pulang dari Tanah Suci. Khatib menyampaikan ungkapan yang sangat menyentuh, "Berangkat taubat, jangan kembali kumat."

Haji mabrur bukan hanya terlihat saat di Makkah dan Madinah, tetapi tampak setelah kembali ke rumah. Ibadahnya semakin rajin, akhlaknya semakin baik, lebih dermawan, lebih santun lisannya, dan lebih peduli kepada sesama.

Allah SWT berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
"Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa."
(QS. Al-Hujurat: 13)

Khatib juga menggambarkan simbol indah seorang haji mabrur yakni bukan hanya kopiah putihnya, tetapi hatinya juga bersih, lisannya baik, dan perbuatannya mulia sampai akhir hayat.

Harapannya, sepulang dari haji, jamaah menjadi insan kamil—pribadi yang semakin dekat kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi sesama.

Khutbah ditutup dengan doa yang penuh harapan, semoga seluruh jamaah diberikan haji yang diterima Allah SWT, diteguhkan iman dan Islamnya, dianugerahi anak-anak yang saleh, rezeki halal penuh berkah, serta diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.

Seluruh jamaah haji Indonesia, khususnya kloter SUB 14, SUB 15, dan SUB 74 Surabaya Jawa Timur, juga diharapkan oleh semua jamaah salat Jumat di Raudhah tersebut benar-benar dapat menjadi tamu Allah yang pulang membawa cahaya kemabruran. ***

Pewarta: REFAN PURBA
Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • 4 Ciri Haji Mabrur: Refleksi Khotbah Jumat di Musala Hotel 412 Al Ahbab Raudhah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now