![]() |
| Dr. Tutik Sulistyowati, M.Si., selaku Tim Dewan Pakar PSP2A Universitas Muhammadiyah Malang dalam webinar nasional IWD 2026./dok. UMM |
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM - Salah satu pakar dari tim Pusat Studi Pemberdayaan Perempuan dan Anak Universitas Muhammadiyah Malang, Tutik Sulistyowati mengungkapkan bagaimana cara perempuan dapat berkontribusi nyata di lingkungan masyarakat.
Pembuktian tersebut menjadi upaya untuk menepis tajuk pemberdayaan perempuan (women empowerment) hanya berhenti sebagai tren bukan implementasi nyata dan berkelanjutan.
Pernyataan ini disampaikan Tutik dalam webinar nasional bertajuk 'Give to Gain: Membangun Akses dan Partisipasi Bermakna bagi Perempuan', pada Kamis, 12 Maret lalu.
Webinar ini diselenggarakan dalam momentum International Women’s Day yang kembali dimanfaatkan sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen untuk memperluas akses dan partisipasi perempuan di berbagai sektor.
Mewujudkan hal tersebut, Pusat Studi Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PSP2A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) serta Asosiasi Studi Wanita dan Gender Indonesia (ASWGI) untuk menggelar webinar ini.
Agenda ini mendapat dukungan penuh dari Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, M.Si., dan dihadiri oleh ratusan akademisi, mahasiswa, peneliti, dan pegiat isu gender dari seluruh Indonesia.
Kegiatan ini dibuka oleh Rektor UMJ, Prof. Ma'mun Murod, M.Si., yang menegaskan tanggung jawab perguruan tinggi dalam menghadirkan ruang inklusif.
"Kampus harus memberikan kesempatan setara bagi perempuan. Esensi kesetaraan gender adalah memperluas peran perempuan agar memiliki akses setara terhadap sumber daya, pendidikan, hingga pengambilan keputusan," ujar Ma'mun, yang dikutip dari rilis UMM (15/4).
Diskusi utama dalam webinar ini memfokuskan secara tajam pada urgensi pendidikan sebagai instrumen utama pemberdayaan perempuan.
Tim Dewan Pakar PSP2A UMM, Dr. Tutik Sulistyowati, M.Si., menegaskan bahwa akses pendidikan adalah langkah awal yang tidak bisa ditawar dalam membangun kapasitas perempuan.
"Pendidikan dan partisipasi bermakna adalah fondasi paling esensial dalam mewujudkan kesetaraan. Pendidikan merupakan kunci utama untuk membangun kapasitas perempuan, sehingga mereka tidak hanya sekadar hadir, tetapi benar-benar mampu berperan aktif dan memberikan dampak nyata di berbagai sektor kehidupan," beber Tutik.
Isu tersebut kemudian diperdalam oleh Dr. Rita Pranawati, S.S., M.A., Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Ia menyoroti secara khusus krusialnya realisasi pemerataan akses pendidikan tersebut hingga ke pelosok negeri yang kerap luput dari perhatian.
"Kita tidak boleh menutup mata terhadap berbagai tantangan di wilayah 3T, mulai dari keterbatasan infrastruktur, kondisi geografis, hingga hambatan sosial budaya yang masih membatasi kesempatan perempuan untuk belajar. Memperluas akses pendidikan bagi perempuan di wilayah terpencil dan tertinggal bukanlah sebuah pilihan, melainkan bagian mutlak dari agenda pembangunan yang inklusif," ungkap Rita.
![]() |
| Webinar nasional yang dihelat dalam momen International Women's Day 2026./dok. UMM |
Sesi diskusi berlangsung sangat dinamis. Salah satu peserta, Trisakti Handayani, memantik dialog komprehensif mengenai bagaimana cara mengukur kemajuan kesetaraan gender dalam pendidikan agar sesuai dengan target Sustainable Development Goals (SDGs).
Ia juga menyoroti ketersediaan dukungan anggaran pemerintah serta peran krusial masyarakat sipil dalam mengawasi implementasi kebijakan tersebut di lapangan.
Melalui kolaborasi lintas lembaga ini, PSP2A UMM, PSGA UMJ, dan ASWGI berharap sinergi yang terbangun tidak berhenti pada forum diskusi akademik semata.
Lebih dari itu, gagasan ini diharapkan mampu bertransformasi menjadi langkah nyata dalam memperluas akses pendidikan dan memperkuat partisipasi perempuan demi mewujudkan bangsa yang inklusif, setara, dan berkeadilan. ***
Editor: YAN




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?