Banner Iklan

Senator Lia Istifhama Refleksikan Hari Kartini: Perempuan Bisa Jadi Pemimpin di Era Modern?

Admin JSN
22 April 2026 | 12.18 WIB Last Updated 2026-04-22T05:19:22Z
Senator DPD RI Lia Istifhama saat menerima penghargaan dari media atas sepak terjangnya sebagai penyambung aspirasi masyarakat ke Senayan./dok. Istimewa

SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Senator DPD RI Lia Istifhama merefleksikan momen Hari Kartini 2026 pada Selasa, 21 April untuk memikirkan lagi tentang kepemimpinan perempuan di era modern.

Menurut Anggota Komite III DPD RI, Lia Istifhama, peringatan Hari Kartini dapat menjadi ruang refleksi atas peran strategis perempuan di tengah perubahan zaman yang semakin dinamis.

Pada era modern, perempuan tidak lagi ditempatkan sebagai objek pembangunan, melainkan telah bertransformasi menjadi subjek utama, bahkan pengarah dalam berbagai sektor kehidupan.

Melihat hal ini, Lia Istifhama menilai kemajuan kesetaraan gender saat ini sudah semakin nyata. Perempuan kini tampil sebagai pengambil keputusan, pemimpin, sekaligus penggerak perubahan di berbagai bidang.

Perempuan Sudah Maju, Namun Tantangan Solidaritas Masih Nyata

Pada dialog Aspirasi edisi Hari Kartini di Pro1 RRI Surabaya, Selasa (21/4), Lia mengungkapkan bahwa ruang bagi perempuan untuk berkembang kini makin terbuka lebar.

"Kalau kita lihat saat ini, perempuan sudah banyak yang berada di posisi strategis. Mereka memimpin organisasi, menjadi menteri, kepala dinas, hingga terlibat langsung dalam pengambilan kebijakan," ungkapnya.

Walau demikian, ia menegaskan bahwa tantangan perempuan masa kini telah bergeser. Bukan lagi soal akses atau kesempatan, melainkan pada aspek solidaritas yang dinilai masih perlu diperkuat.

"Yang menjadi tantangan saat ini adalah dukungan antarperempuan yang belum optimal. Padahal, ketika perempuan saling menguatkan, dampaknya akan jauh lebih besar," lanjutnya.

Konsep I’m, I Can, I Have: Cara Membangun Perempuan Berdaya

Guna menjawab tantangan tersebut, Lia memperkenalkan pendekatan sederhana namun fundamental melalui konsep I’m, I can, dan I have sebagai fondasi perempuan berdaya.

Menurutnya, kesadaran diri menjadi titik awal yang krusial. Perempuan perlu memahami identitas dan potensi yang dimiliki sebagai dasar membangun kepercayaan diri.

“I’m adalah bagaimana perempuan mengenali dirinya sendiri. Dari sana, akan tumbuh keyakinan untuk melangkah dan berkembang," jelasnya.

Kemudian, konsep I can menekankan pentingnya keberanian untuk bertindak dan berkontribusi.

"I can berarti perempuan harus berani bergerak, mengambil peran, dan menciptakan perubahan, baik untuk dirinya maupun lingkungan sekitarnya," sambungnya.

Lalu, I have menjadi pilar dalam membangun kekuatan kolektif antarperempuan.

"I have adalah kemampuan untuk saling mendukung. Perempuan tidak bisa berjalan sendiri, tetapi harus bersama-sama saling menguatkan," imbuh senator yang akrab disapa Ning Lia ini.

Dari Kartini ke Masa Kini, Perempuan Harus Jadi 'Aktor dan Sutradara'

Perempuan masa kini menurut Lia harus mengambil peran lebih besar, tidak hanya sebagai pelaku, tetapi juga sebagai pengarah dalam kehidupan sosial dan pembangunan.

Menurutnya, perempuan harus berani menjadi 'aktor sekaligus sutradara' dalam perjalanan hidupnya sendiri. Artinya, perempuan tidak hanya menjalankan peran, tetapi juga menentukan arah dan keputusan yang berdampak luas.

Ia juga mengangkat nilai-nilai Kartini sebagai refleksi karakter perempuan modern, mulai dari kebaikan hati, kemampuan beradaptasi, sikap saling menghormati, ketangguhan, kecerdasan, kelincahan, hingga integritas.

"Perempuan harus terus bermimpi, karena mimpi adalah awal dari kepemimpinan. Dari sanalah lahir keberanian untuk melangkah dan membawa perubahan," ucapnya.

Hari Kartini Jadi Momentum Perempuan Terus Berkarya dan Berdampak

Lia melanjutkan, momentum Hari Kartini harus dimaknai sebagai titik penguatan peran perempuan agar tidak hanya hadir, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi lingkungan.

Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini menjadi pengingat bahwa perubahan besar dimulai dari kesadaran dan keberanian untuk bertindak.

"Perempuan punya peran besar. Teruslah menyala, perkuat karya, dan jangan pernah berhenti bermimpi," tegasnya.

Dengan memperkuat solidaritas dan kolaborasi, perempuan diyakini Lia mampu menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan masyarakat yang lebih adil, setara, dan berkelanjutan. ***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Senator Lia Istifhama Refleksikan Hari Kartini: Perempuan Bisa Jadi Pemimpin di Era Modern?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now