![]() |
| Pentas Ludruk Meimura menggandeng anak-anak Nganjuk./dok. Istimewa |
NGANJUK | JATIMSATUNEWS.COM - Pentas ludruk Besut Jajah Deso Milangkori hadir di Nganjuk pada Sabtu (25/4) malam kemarin.
Pentas ini menampilkan aksi Meimura (Meijono) di hadapan masyarakat setempat dan menggandeng anak-anak yang antusias mengikuti pentas ini.
Ludruk ini pun bukan sekadar tontonan, melainkan perjumpaan lintas usia yang hangat.
Sejumlah anak-anak menyerbu ke tengah arena, lalu bergantian membaca puisi dengan suara yang lantang, kadang sendiri, kadang bertiga. Ada pula yang berani tampil sendiri dalam monoplay.
Itulah yang terjadi dalam pentas Ludruk Besutan di Rumah Sanggar Ilalang, Desa Karangnongko, Kelutan, Kec. Ngronggot, Kabupaten Nganjuk.
Komunitas ini didirikan dan dipimpin oleh Agus R. Soebagyo yang di kalangan seniman akrab dipanggil Kang Rego. Rego membina ratusan anak usia SD, SMP, SMA, bahkan yang masih TK dan termasuk yang belum mengenyam bangku sekolah.
Sebagai pegiat teater, Rego mengajari anak-anak membaca puisi dan monolog, atau bermain teater. Hasilnya, mereka mampu tampil percaya diri, tidak malu-malu, dan mencetak prestasi bahkan di tingkat nasional.
Meimura, sebagai tokoh Besut, tak lagi sekadar aktor tunggal. Ia memosisikan diri sebagai kakek—figur yang merangkul, bukan mendominasi.
Anak-anak itu pun menjelma cucu-cucu yang riuh, polos, dan penuh rasa ingin tahu. Semua ini selaras dengan tema ludruk garingan malam itu: Besut Sambang Putu—sebuah kunjungan, sebuah pulang, sebuah pelukan yang lama dirindukan.
Ketika ia mengawali penampilannya dari arah jalanan desa—membawa obor yang menyala kecil dan daun pisang yang berdesir pelan—anak-anak langsung berlarian menjemput.
Mereka mengawal langkahnya, seolah menjaga api kecil itu agar tak padam sebelum sampai ke panggung. Ketika Besut menapak arena, suasana berubah menjadi bukan lagi batas antara pemain dan penonton, melainkan lingkaran keluarga.
Maka terjadilah perbincangan akrab antara Besut yang renta dalam peran, namun lincah dalam rasa, dengan anak-anak yang menjadi cermin masa depan.
Mereka bertanya dengan polos, ia menjawab dengan jenaka. Mereka membaca puisi, ia menyulamnya dengan guyonan dan petuah ringan—tanpa menggurui, tanpa jarak.
Besut berbagi pengetahuan seperti apa itu ludruk, apa itu Besut, dan Mei malah mempraktekkan menari remo hanya dengan iringan musik mulutnya sendiri.
Di sanalah ludruk menemukan denyut barunya. Bukan hanya tawa yang dipanen, tapi juga harapan bahwa panggung tradisi masih bisa diwariskan, bukan lewat ceramah panjang, melainkan lewat keakraban yang sederhana.
Malam itu, Besut tidak sekadar tampil—ia menanam benih, diam-diam, di hati anak-anak yang mungkin kelak akan menghidupkan kembali cerita-cerita dari tanah mereka sendiri.
Dan yang mengagumkan, puisi-puisi karya penyair ternama itu mampu dibawakan anak-anak dengan sangat bagus, tak kalah dengan seniman profesional.
Mereka antara lain membacakan puisi karya Taufik Ismail (Membaca Tanda-tanda), karya Hartoyo Andangdjaja, Sutardji Calzoum Bachri (Jembatan), Sapardi Djoko Damono (Selamat Pagi Indonesia).
Salah satu di antara mereka, Sabrina namanya, selain membaca puisi juga tampil memerankan tokoh Rusmini dan berdialog dengan Besut dalam percakapan spontan yang lancar.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap anak-anak yang berani tampil dan bagus itu, masing-masing mendapatkan hadiah buku karya Henri Nurcahyo yang diserahkan sendiri oleh penulisnya.
Dalam kesempatan diskusi, Kang Rego menjelaskan, pada mulanya sanggarnya memang membina anak-anak jalanan sebanyak 300-an, berbasis di Malang.
Pada 2007 Rego kembali ke desanya di Nganjuk, sempat stress selama 2 tahun, hingga akhirnya bangkit tahun 2009 dengan Komunitas Rumah Ilalang.
Rego menyediakan tempat penampungan anak-anak berbakat seni yang tidak tersalurkan di sekolah. Tempat kreativitas dan mengaktualisasikan diri bagi anak-anak.
"Sponsor kami adalah emak-emak yang dengan senang hati memercayakan anak-anak mereka belajar di sanggar ini," ungkap Rego.
Menariknya, sebagian emak-emak itu adalah mantan pegiat teater semasa mahasiswa maupun sesudahnya, di Nganjuk, Kediri, Jombang, juga di Surabaya. Maka tak heran, potensi mereka kini menurun ke anak-anaknya. Nampaknya, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Sementara Autar Abdillah yang juga tampil sebagai narasumber, sangat mengapresiasi acara ini karena telah mampu menciptakan ajang srawung sedulur, untuk menepis kebiasaan anak-anak yang kecanduan gawai.
Ludruk adalah sarana untuk membawakan persoalan-persoalan masyarakat dengan cara-cara yang menghibur. Ludruk mengangkat sejarah lokal yang bisa jadi berbeda dengan sejarah yang ada di buku-buku.
Pentas Ludruk Besutan di Rumah Ilalang ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi ruang pendidikan dan pembinaan generasi muda.
Keterlibatan aktif anak-anak, dukungan komunitas, serta pendekatan ludruk yang cair dan komunikatif menunjukkan bahwa kesenian tradisi tetap relevan sebagai media ekspresi, pembelajaran, dan penguatan kebersamaan di tengah masyarakat.
Program 'Jajah Deso Milangkori' oleh Meimura (Meijono) ini adalah program Pemberdayaan Ruang Publik Kementerian Kebudayaan RI di 10 kota di Jatim.
Setelah Surabaya, Sidoarjo, Jombang, dan Nganjuk, segera menyusul kota Mojokerto pada 7 Mei mendatang, dan akan dijadwalkan pula untuk kota-kota Kediri, Madiun, Blitar, Malang, dan Jember. ***
Editor: YAN




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?