NASIHAT HAJI YANG MENGGUGAH
KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: Masjid Al-Mabrur, Asrama Haji Sukolilo Surabaya – Sabtu, 25 April 2026
Dalam suasana Subuh yang tenang di Masjid Al-Mabrur, tersampaikan sebuah nasihat sederhana, namun terasa dalam dan menyentuh hati. Nasihat ini bukan sekadar pengingat biasa, tetapi seperti ketukan lembut yang mengajak setiap calon tamu Allah untuk benar-benar mempersiapkan diri—bukan hanya lahir, tetapi juga batin.
Inti pertama yang ditekankan adalah tentang memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Ibadah haji adalah kesempatan emas yang tidak semua orang mendapatkannya, dan belum tentu akan terulang kembali dalam hidup. Waktu di tanah suci memiliki nilai yang sangat istimewa, di mana setiap amal dilipatgandakan pahalanya. Karena itu, setiap jama’ah diingatkan untuk tidak menjalani hari-harinya secara biasa, tetapi dengan kesadaran penuh bahwa setiap detik sangat berharga. Mengatur waktu, merencanakan ibadah, dan menghindari hal-hal iyang tidak bermanfaat menjadi kunci agar perjalanan ini benar-benar bernilai di sisi Allah.
Selain itu, perhatian besar juga diberikan pada pentingnya menjaga kesehatan. Ibadah haji bukanlah perjalanan ringan. Rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina menuntut kesiapan fisik yang kuat. Karena itu, jama’ah diingatkan agar tidak meremehkan hal-hal sederhana seperti makan, minum, dan istirahat. Menjaga kondisi tubuh adalah bagian dari ikhtiar agar ibadah dapat dijalankan dengan sempurna. Kesadaran untuk segera berobat saat merasa kurang sehat juga menjadi hal penting, karena sering kali gangguan kecil yang diabaikan justru dapat menghambat ibadah yang besar.
Nasihat berikutnya yang tidak kalah penting adalah tentang menjaga kesabaran. Dalam perjalanan haji, ujian tidak hanya datang dari kelelahan fisik, tetapi juga dari interaksi dengan sesama. Perbedaan karakter, situasi yang padat, hingga hal-hal kecil yang memicu emosi bisa terjadi kapan saja. Dalam kondisi seperti itu, jama’ah diingatkan untuk menjaga hati, menahan diri, dan memilih untuk bersabar. Tidak semua hal harus dibalas, tidak semua kesalahan harus diperbesar. Justru dalam momen-momen seperti itulah nilai ibadah diuji. Kesabaran, kelapangan dada, dan kemauan untuk memaafkan menjadi bagian penting dari kesempurnaan haji.
Dari rangkaian nasihat tersebut, terasa bahwa ibadah haji bukan hanya tentang menjalankan rukun dan kewajiban, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mengelola waktu, menjaga diri, dan mengendalikan hati. Kesuksesan haji tidak hanya diukur dari terlaksananya rangkaian ibadah, tetapi juga dari perubahan sikap dan kedewasaan dalam menghadapi ujian.
Semoga setiap langkah yang akan ditempuh menjadi langkah yang penuh kesadaran, setiap lelah menjadi bernilai ibadah, dan setiap ujian menjadi jalan menuju kematangan iman. Harapannya, para jama’ah tidak hanya pulang dengan cerita perjalanan, tetapi dengan hati yang lebih bersih, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah—meraih haji yang benar-benar mabrur.
Pewarta : Refan Purba



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?