Foto: Dokumentasi bersama
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM - Suasana kelas pada Kamis, 23 April 2026, di SLB Putra Jaya Malang tampak berbeda dari biasanya. Di sudut kelas, tersusun sebuah toko mini dengan berbagai makanan ringan. Siswa tidak hanya duduk mendengarkan, tetapi aktif terlibat dalam aktivitas jual beli sederhana, memegang uang mainan, memilih barang, hingga mencoba menghitung perubahan jumlah uang yang mereka miliki.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat hasil kerja sama antara Universitas Negeri Malang (UM) dan SLB Putra Jaya Malang. Program ini diawali dengan workshop pembelajaran matematika berbasis Realistic Mathematics Education (RME) serta pelatihan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) pada 16 Maret 2026. Selanjutnya, para guru mengikuti pendampingan penyusunan perangkat pembelajaran secara asinkron melalui grup WhatsApp dalam empat kelompok kecil yang masing-masing didampingi oleh dosen dan mahasiswa UM.
Foto: Siswa praktek jual beli
Tahap praktik pembelajaran ini menjadi puncak dari seluruh rangkaian kegiatan. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk mini lesson study yang terdiri dari tiga tahapan: plan, do, dan see. Siti Maria Ulfah, S.Pd.K bertindak sebagai guru model, sementara dua guru lainnya berperan sebagai observer.
Pada tahap plan, guru model bersama observer dan tim pengabdi mendiskusikan perangkat pembelajaran yang telah disusun. Perangkat tersebut dirancang khusus untuk karakteristik siswa tunagrahita yang membutuhkan pembelajaran konkret, visual, dan berulang.
Tahap do menjadi momen implementasi di kelas. Pembelajaran dimulai dengan konteks yang sangat dekat dengan kehidupan siswa, yaitu aktivitas jual beli. Guru membuka “toko kelas” dan menyediakan uang mainan sebagai alat transaksi. Siswa diberi kesempatan untuk membeli barang, kemudian menjual kembali dengan harga yang berbeda.
Melalui kegiatan ini, siswa tidak langsung diajarkan rumus tentang laba dan rugi. Mereka mengalami sendiri prosesnya. Ketika uang yang dimiliki bertambah setelah menjual barang, mereka mulai memahami makna “laba”. Sebaliknya, ketika uang berkurang karena barang dijual lebih murah atau rusak, mereka mulai mengenali konsep “rugi”.
“Pelatihan RME hingga tahap praktik pembelajaran ini sangat bermanfaat bagi kami. Insya Allah akan kami terapkan dalam pembelajaran yang sesungguhnya di kelas,” ujar Siti Maria Ulfah, S.Pd.K selaku guru model.
Namun, praktik pembelajaran di kelas siswa tunagrahita tidak lepas dari tantangan. Guru perlu menyesuaikan tempo pembelajaran karena setiap siswa memiliki kebutuhan dan kecepatan belajar yang berbeda. Beberapa siswa membutuhkan pengulangan instruksi, sementara yang lain memerlukan bantuan visual atau pendampingan langsung.
Di sisi lain, aktivitas simulasi seperti toko mini justru membantu siswa lebih mudah memahami konsep. Pembelajaran menjadi lebih konkret dan bermakna dibandingkan dengan pendekatan yang bersifat abstrak.
Tahap see menjadi ruang refleksi bersama antara guru model, observer, dan tim pengabdi dari UM. Diskusi ini membahas jalannya pembelajaran secara menyeluruh, baik dari sisi keberhasilan maupun tantangan yang dihadapi di kelas.
Foto: Diskusi pada tahap “see” setelah Praktik pembelajaran
Kepala SLB Putra Jaya Malang, Nur Hidayah, S.Pd., M.Kes, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut. “Alhamdulillah praktik pembelajaran RME berjalan dengan lancar. Di sekolah kami, RME merupakan hal baru. Kami selalu menyambut baik kerja sama dengan perguruan tinggi sebagai wadah peningkatan kompetensi guru-guru di sekolah kami,” ujarnya.
Ketua tim pengabdian, Lathiful Anwar, S.Si., M.Sc., Ph.D menyampaikan harapannya agar program ini dapat terus berlanjut.
“Kami berharap pembelajaran berbasis RME ini tidak berhenti pada pelatihan saja, tetapi dapat berlanjut melalui praktik dan refleksi, sehingga guru memperoleh pengalaman nyata untuk terus memperbaiki pembelajaran secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis konteks nyata sangat efektif untuk siswa berkebutuhan khusus, khususnya siswa tunagrahita. Penggunaan simulasi, benda konkret, dan aktivitas langsung terbukti membantu siswa memahami konsep matematika secara lebih sederhana dan bermakna.
Selain itu, peran AI juga memberikan kontribusi penting, terutama pada tahap perencanaan. Guru memanfaatkan AI untuk membantu menyusun perangkat pembelajaran, seperti merancang skenario pembelajaran dan lembar kerja siswa. Namun demikian, guru tetap menjadi penentu utama dalam menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa. Pemikiran kritis sangat diperlukan dalam penggunaan AI ini.
Program ini menegaskan bahwa perubahan dalam pembelajaran tidak cukup hanya melalui pelatihan, tetapi perlu dilanjutkan dengan pendampingan dan praktik nyata di kelas. Pendekatan lesson study memberikan ruang bagi guru untuk belajar bersama, merefleksikan praktik, dan terus meningkatkan kualitas pembelajaran.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?