![]() |
| Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan dilaksanakan MPR-DPR RI kepada Pemuda Persis (26/4)./dok. Istimewa |
BANDUNG | JATIMSATUNEWS.COM - Majelis Permusyawaratan dan Dewan Perwakilan Rakyat Rakyat Republik Indonesia bekerja sama dengan Pimpinan Pusat Pemuda Persatuan Islam untuk sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan pada Minggu, 26 April 2026 di Bandung.
Agenda yang berlangsung sejak pagi dihadiri Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI M. Hoerudin Amin, S.Ag., M.H (F-PAN Jabar XI), Anggota Badan Sosialisasi MPR RI Aanya Rina Casmayanti, S.E (DPR RI Provinsi Jabar), Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Persatuan Islam, Ibrahim Nasrul Haq Al Famhi, Anggota Komisi VIII DPR RI F-PAN H. Syaiful Nuri, dan peserta Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan.
Menjadi salah satu pengisi sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, Syaiful Nuri mengajak Pemuda Persis dan pemuda pada umumnya untuk punya sikap tepa salira yaitu sikap tenggang rasa, empati, atau kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain.
"Meski zaman terus berkembang, pemuda tetap harus punya tepa salira atau juga punya adab. Pemuda yang tanpa perasaan saling menghargai dan kurang punya adab, maka bagaikan kita di lautan tanpa pelampung," ujar Syaiful Nuri.
Pelaksanaan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan dari MPR dan DPR RI kepada Pemuda Persis ini menjadi momen untuk menjaga eksistensi bangsa Indonesia yang masih tegak berdiri.
Indonesia hingga saat ini masih sebagai negara yang merdeka, berdaulat, serta terus melangkah dalam persatuan, dan keberagaman menuju cita-cita nasional yang adil, makmur, dan bermartabat.
![]() |
| Syaiful Nuri, Anggota DPR RI Komisi VIII saat menjadi salah satu pengisi sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan./dok. Istimewa |
![]() |
| Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan diikuti Pemuda Persis./dok. Istimewa |
Kemudian, pemuda juga dinilai sebagai kekuatan perubahan. Dalam konteks saat ini, tantangan kebangsaan tidak lagi hanya fisik, tetapi juga ideologis, digital, dan sosial. Arus globalisasi, disinformasi, radikalisme, hingga apatisme politik bisa menjadi ancaman nyata.
Khusus mengenai Pemuda Persatuan Islam, kader pemuda diharapkan tidak hanya paham agama, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat. Di sinilah pentingnya memahami dan mengimplementasikan Empat Pilar Kebangsaan secara utuh.
Pilar pertama adalah Pancasila yang dapat dipahami secara mendalam sebagai representasi nilai-nilai tauhid dalam kehidupan berbangsa.
Sila Ketuhanan mencerminkan keimanan, sementara kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan merupakan manifestasi akhlak Islam dalam ruang sosial.
Tantangan yang bisa terjadi, munculnya pemahaman sempit, yang mempertentangkan agama dan negara. Oleh karena itu, Pemuda Persis perlu hadir dengan dakwah yang menegaskan, bahwa Pancasila sejalan dengan nilai Islam.
Contoh konkret melaksanakan 'Ngaji Kebangsaan', memproduksi konten dakwah digital yang menyejukkan, serta aktif melawan narasi kebencian dan hoaks di media sosial dengan pendekatan ilmiah dan santun.
Pilar kedua adalah Undang-Undang Dasar 1945 yang merupakan pedoman utama dalam kehidupan bernegara, yang menjamin hak dan kewajiban warga negara.
Pemuda Persis dapat mengambil peran strategis melalui pendidikan hukum berbasis komunitas, seperti sekolah kader konstitusi atau diskusi publik, tentang hak warga negara dalam perspektif Islam.
Selain itu, advokasi terhadap persoalan umat seperti akses pendidikan, layanan kesehatan, dan kebebasan beribadah dapat menjadi bentuk nyata pengamalan konstitusi. Dengan demikian, pemuda tidak menjadi pengamat, tetapi juga pelaku perubahan yang berpihak pada keadilan.
Pilar ketiga adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang menuntut komitmen bersama untuk menjaga keutuhan bangsa di tengah keberagaman. Ancaman disintegrasi, radikalisme, dan konflik identitas, menjadi tantangan yang harus dihadapi generasi muda.
Pemuda Persis memiliki peran penting, sebagai perekat umat dan bangsa, melalui gerakan ukhuwah kebangsaan.
Kegiatan seperti kolaborasi lintas organisasi, pengabdian masyarakat di daerah terpencil, serta keterlibatan dalam aksi kemanusiaan dan kebencanaan, adalah bentuk nyata menjaga NKRI.
Pada praktiknya, nilai persatuan harus diwujudkan dalam kerja-kerja sosial yang melampaui sekat golongan.
Pilar keempat adalah Bhinneka Tunggal Ika yang mengajarkan bahwa perbedaan adalah sunnatullah, yang harus dikelola dengan bijak. Dalam realitas saat ini, intoleransi sering muncul akibat kurangnya interaksi dan pemahaman lintas kelompok.
Pemuda Persis dapat menjadi pelopor, dalam merawat keberagaman, melalui dialog lintas iman, kegiatan sosial bersama, serta kampanye digital yang mengedepankan toleransi, tanpa mengorbankan prinsip akidah.
Pendekatan ini penting, agar pemuda mampu menunjukkan, wajah Islam yang inklusif, ramah, dan solutif dalam kehidupan berbangsa.
Kemudian, integrasi Empat Pilar Kebangsaan dalam gerakan Pemuda Persis harus diwujudkan secara sistematis, melalui kaderisasi, gerakan digital, dan aksi nyata di masyarakat.
Nilai-nilai kebangsaan perlu ditanamkan, dalam setiap proses pembinaan kader, sehingga lahir generasi yang religius, nasionalis, dan berintegritas.
Pemuda Persis diharapkan tidak hanya menjadi penjaga moral umat, tetapi juga pelopor perubahan sosial yang konstruktif. Dengan menghidupkan Empat Pilar dalam kehidupan sehari-hari, Pemuda Persis dapat berkontribusi nyata, dalam membangun Indonesia yang adil, bersatu, dan berkeadaban.
Adapun Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang dilaksanakan MPR-DPR RI bersama Pemuda Persis ini diisi dengan sesi registrasi peserta, pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Mars Pemuda Persis, sambutan Ketua Panitia atau Ketua Umum PP Pemuda Persis, sambutan Pimpinan Badan Sosialiasi MPR RI, penyampaian materi Sosialiasi Empat Pilar oleh Anggota MPR RI, tanya jawab dan diskusi, hingga penyerahan cenderamata, foto bersama, dan penutupan. ***
Editor: YAN





Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?