Menyalakan Kembali Api Kartini: Dari Seremonial ke Gerakan Nyata Perempuan Berdaya dan Berdampak
Oleh: Prof. Ilfi Nur Diana, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: Tema “Semangat Kartini Merajut Silaturahim; Perempuan Berdaya Indonesia Maju” bukan sekadar slogan tahunan yang hadir setiap April. Ia seharusnya menjadi panggilan reflektif sekaligus dorongan praksis untuk menilai sejauh mana cita-cita R.A. Kartini benar-benar hidup dalam realitas perempuan Indonesia hari ini. Pertanyaannya sederhana tapi mengganggu: apakah kita masih merayakan Kartini, atau justru sudah melupakan semangatnya?
Kartini tidak hanya berbicara tentang emansipasi dalam arti sempit. Dalam surat-suratnya, ia merumuskan visi besar: perempuan yang berdaya adalah perempuan yang berpengetahuan, berjejaring, dan mampu memberi dampak sosial. Maka, “merajut silaturahim” dalam konteks kekinian tidak bisa dimaknai sekadar temu sosial atau seremoni formal, tetapi harus dipahami sebagai pembangunan social capital—jaringan kolaborasi yang produktif dan transformatif.
Di era digital, silaturahim memiliki wajah baru. Ia hadir dalam komunitas daring, gerakan sosial berbasis media, hingga kolaborasi lintas profesi yang melampaui batas geografis. Namun, di sinilah letak paradoksnya: konektivitas meningkat, tetapi kedalaman relasi sering kali menurun. Banyak perempuan terhubung, tetapi belum tentu saling menguatkan. Maka, semangat Kartini menuntut kualitas relasi, bukan sekadar kuantitas koneksi.
Perempuan berdaya hari ini tidak lagi cukup hanya “ikut serta” dalam pembangunan, tetapi harus menjadi aktor utama. Dalam konteks Indonesia yang sedang bergerak menuju visi negara maju, perempuan memiliki peran strategis dalam tiga ranah utama.
Pertama, ranah pendidikan. Kartini sejak awal meyakini bahwa pendidikan adalah kunci pembebasan. Hari ini, akses pendidikan bagi perempuan memang lebih terbuka, tetapi tantangan baru muncul: kesenjangan kualitas, literasi digital, dan ketimpangan kesempatan di daerah. Perempuan berdaya bukan hanya yang terdidik, tetapi juga yang mampu mentransformasikan pengetahuan menjadi solusi sosial.
Kedua, ranah ekonomi. Perempuan Indonesia semakin banyak terlibat dalam sektor produktif, mulai dari UMKM hingga industri kreatif. Namun, pemberdayaan ekonomi tidak boleh berhenti pada partisipasi, melainkan harus bergerak menuju kemandirian dan kepemimpinan. Perempuan perlu hadir sebagai pengambil keputusan, bukan hanya pelaksana.
Ketiga, ranah sosial dan budaya. Di sinilah “merajut silaturahim” menemukan maknanya yang paling dalam. Perempuan memiliki kekuatan kultural untuk membangun harmoni, meredam konflik, dan menanamkan nilai-nilai toleransi. Dalam masyarakat yang plural seperti Indonesia, peran ini menjadi sangat vital.
Namun, kita juga perlu jujur melihat tantangan. Budaya patriarki belum sepenuhnya hilang. Kekerasan berbasis gender masih terjadi. Stereotip sosial masih membatasi ruang gerak perempuan. Bahkan dalam ruang modern sekalipun, perempuan sering dihadapkan pada beban ganda: tuntutan profesional dan domestik yang tidak seimbang.
Di titik ini, peringatan Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada kebaya dan seremoni. Ia harus menjadi ruang konsolidasi gagasan dan aksi. Seminar, talkshow, dan forum diskusi—seperti yang tergambar dalam rundown acara di atas—akan kehilangan makna jika tidak melahirkan tindak lanjut nyata.
Apa yang bisa dilakukan?
Pertama, memperkuat jejaring perempuan lintas sektor. Akademisi, birokrat, aktivis, dan pelaku usaha perlu duduk bersama, bukan hanya berdiskusi, tetapi merancang program konkret yang berkelanjutan.
Kedua, mendorong kebijakan yang responsif gender. Pemberdayaan perempuan tidak bisa hanya mengandalkan inisiatif individu; ia membutuhkan dukungan struktural dari negara.
Ketiga, membangun kesadaran kolektif bahwa pemberdayaan perempuan bukan isu perempuan semata, melainkan isu kemanusiaan dan pembangunan bangsa.
Kartini pernah menulis, “Habis gelap terbitlah terang.” Kalimat ini sering dikutip, tetapi jarang direnungkan. Terang yang dimaksud bukanlah kondisi yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil perjuangan panjang dan kesadaran kolektif.
Maka, jika hari ini kita berbicara tentang “Perempuan Berdaya Indonesia Maju,” kita sedang berbicara tentang masa depan bangsa. Dan jika kita sungguh ingin menghormati Kartini, maka cara terbaik bukan dengan mengenangnya, tetapi dengan melanjutkan perjuangannya—dengan cara yang relevan dengan zaman.
Karena pada akhirnya, Kartini bukan sekadar sejarah. Ia adalah energi yang harus terus dihidupkan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?