Kupatan Simbol Bermaafan Saat Lebaran
(Disusun oleh Muhammad Adib Fanani, Program Pendidikan Magister (S-2) Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang)
KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: Di tengah gemuruh takbir dan kemeriahan saling berkunjung saat Lebaran, terdapat sebuah tradisi masyarakat Jawa, yakni Kupatan. Dirayakan tujuh hingga delapan hari setelah Idul Fitri. Tradisi ini menjadi momen yang dinanti setelah hari kemenangan. Kupatan menyimpan makna filosofis yang mendalam tentang permohonan maaf, kebersamaan, dan harmonisasi sosial. Ketupat menjadi ikon tradisi ini sebagai hidangan dan mengajarkan manusia tentang pengakuan dosa, kesucian hati, serta pentingnya menjalin hubungan baik antarmasyarakat.
Filosofi Kupatan
Kata “kupat” dalam bahasa Jawa mengandung dua makna yang menjadi fondasi filosofis tradisi ini. Pertama, kupat merupakan kependekan dari ngaku lepat yang memiliki arti mengakui kesalahan. Hal ini mengajarkan bahwa setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan dan dilanjutkan dengan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Manusia diajak untuk instrospeksi diri dengan rendah hati mengakui segala khilaf kepada sesama. Momen ini manjadi puncak dari proses penyucian diri atas kesalahan yang diakui bukan dibanggakan melainkan untuk dilebur dalam permintaan maaf.
Kedua, kupat berasal dari kata papat yang memiliki arti empat. Dalam hal ini, merujuk pada laku papat atau empat tindakan mulia. Lebaran yang berarti usai atau selesai menandakan berakhirnya bulan puasa. Luberan atau meluap berarti mengajak manusia untuk berbagi rezeki melalui sedekah. Leburan atau melebur, yaitu saling memafkan antarsesama sehingga dosa dan khilaf menjadi lebur. Laburan atau kapur memiliki makna menjaga kesucian lahir dan batin. Adapun keempat tindakan tersebut membentuk sikap spiritual yang utuh dalam menyelesaikan kewajiban, berbagi kebahagiaan, memaafkan kesalahan, serta menjaga kesucian.
Tambahan pula, filosofi juga terdapat dalam bahan pembuat ketupat. Janur kuning yang berasal dari kata Arab ja’a nur yang memiliki arti telah datang cahaya melambangkan harapan datangnya cahaya illahi. Anyaman janur yang rumit menggambarkan kompleksitas kesalahan manusia. Selanjutnya, ketika ketupat dibelah nasi putih di dalamnya tampak bersih melambangkan hati yang suci setelah proses saling memaafkan antarsesama dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, kupatan tradisi makan bersama, medium pendidikan karakter yang mengajarkan keikhlasan, kesabaran, dan kerendahan hati.
Kupatan Membangun Silaturahmi dan Harmonisasi Sosial
Kupatan memiliki fungsi sosial yang sangat kuat dalam membangun dan memelihara silaturahmi. Dalam pelaksanaannya, tradisi ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial, usia, maupun latar belakang ekonomi. Di berbagai daerah, Kupatan dirayakan dengan cara berkumpul di masjid atau musala untuk bersama-sama mendoakan keselamatan, kerahmatan, keberkahan, serta asahan ketupat yang kemudian ditukar sebagai simbol keberkahan. Momen saling bertukar asahan ketupat, lepet, opor ayam menjadi ajang pertemuan masyarakat untuk semakin mempererat hubungan kekeluargaan. Sementara di sebagian masyarakat, kupatan ada yang dirayakan dengan konsep open house. Setiap rumah terbuka bagi siapa pun yang ingin berkunjung dan menikmati ketupat. Hal ini memiliki makna bahwa memuliakan tamu adalah bagian dari ajaran agama dan berbagi rezeki.
Dari perspektif harmoni sosial, Kupatan sebagai perekat komunitas yang efektif. Nilai gotong-royong dalam proses pembuatan ketupat secara bersama-sama hingga pelaksanaan acara Kupatan. Masyarakat yang sehari-hari disibukkan dengan aktivitas masing-masing, pada momen ini berinteraksi, bersatu padu, hingga bekerja sama. Konflik-konflik kecil yang sempat terjadi dapat diluluhkan dalam suasana kebersamaan dan saling memaafkan.
Kupatan juga menjadi wadah bagi generasi muda untuk belajar tentang nilai-nilai luhur budaya. Anak-anak yang dilibatkan dalam pembuatan ketupat dan pelaksanaan mendapat pendidikan karakter tentang pentingnya kerja sama, kesabaran karena menganyam janur memerlukan ketelitian, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur. Pewarisan nilai-nilai dalam tradisi Kupatan berlangsung terus menerus setiap tahun.
Kupatan dalam Masyarakat Jawa dan Masyarakat Lain
Sebagai tradisi yang lahir dan berkembang di Tanah Jawa, Kupatan memiliki historis yang kuat dalam sejarah dakwah islam di Nusantara. Sunan Kalijaga sebagai tokoh pertama kali memperkenalkan ketupat sebagai media dakwah dengan damai dan menghormati kearifan lokal.
Di masyarakat Jawa, pelaksanaan Kupatan memiliki variasi yang menarik seperti asahan ketupat dibawa ke masjid atau musala, arak-arakan Kupatan, drama kolosal dan parade perahu, serta makan bersama tamu di dalam rumah. Menariknya, Kupatan juga ditemukan di berbagai daerah dengan nama dan bentuk yang berbeda. Ada yang mengenal tradisi ini dengan “Ketupat Lebaran” dirayakan seminggu setelah Idul Fitri. Ada pula, ketupat dijadikan sebagai hidangan utama. Ada juga ketupat menjadi bagian yang harus ada dalam perayaan hari besar Islam, meskipun rangkaian ritualnya disesuaikan dengan budaya setempat.
Hal yang membedakan terletak pada cara perayaan dan makna kearifan lokal yang dilekatkan dalam tradisi Kupatan. Namun, esensi sama Kupatan merupakan momen untuk bersyukur, bermaaf-maafan, dan semakin mempererat tali persaudaraan. Hal ini menunjukkan nilai-nilai universal di antaranya pengakuan kesalahan, pemberian maaf, dan kebersamaan di berbagai daerah dan budaya.
Kupatan Warisan Budaya Nusantara
Kupatan merupakan warisan budaya Nusantara yang sarat dengan nilai-nilai luhur. Tradisi ini mengajarkan manusia untuk ngaku lepat atau mengakui kesalahan dan menjalankan laku papat atau empat tindakan mulia yang mengantarkan pada kesucian hati. Kupatan menjadi perekat masyarakat yang membangun silaturahmi, menguatkan gotong-royong, dan menciptakan harmoni di tengah perbedaan. Tradisi ini ditemukan dan dilestarikan di Jawa dan daerah lain dengan adaptasi kearifan lokal masing-masing.
Di era modern yang serba cepat, tantangan terhadap pelestarian Kupatan memang ada. Praktik menganyam janur mulai digantikan oleh beli ketupat instan. Namun, selama masyarakat memahami di balik anyaman janur dan nasi tersirat pesan moral tentang kerendahan hati dan pengampunan, dan tradisi Kupatan ini tetap lestari. Kupatan mengajarkan kepada seluruh manusia bahwa setelah sebulan puasa menahan lapar, haus, dan menahan diri dari hawa nafsu. Kemudian, manusia harus mengakui kesalahan, meminta dan memberi maaf, serta duduk bersama dalam menikmati ketupat, lepet, dan opor ayam. Dari situlah hakikat Lebaran sesungguhnya ditemukan. Mari bersama rapatkan barisan, melestarikan tradisi Kupatan dan mengamalkan nilai-nilai yang tersirat dalam tradisi tersebut secara konsisten dalam hidup dan kehidupan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?