Banner Iklan

Gubernur Jatim Siapkan Mitigasi Dini Hadapi Kemarau 2026, Khofifah: Ketahanan Pangan Harus Tetap Kuat

Anis Hidayatie
03 April 2026 | 08.39 WIB Last Updated 2026-04-03T01:39:34Z

 


Gubernur Jatim Khofifah Siapkan Mitigasi Dini Hadapi Kemarau 2026, 

SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: Menghadapi potensi musim kemarau 2026, Khofifah Indar Parawansa selaku Gubernur Jawa Timur menyiapkan langkah mitigasi dini guna menjaga ketahanan pangan di wilayahnya. Ia menginstruksikan seluruh bupati dan wali kota se-Jawa Timur untuk memperkuat strategi produksi pertanian sejak awal.

Instruksi tersebut tertuang dalam Surat Gubernur Jawa Timur Nomor 500.6.1/10499/110/2026 sebagai tindak lanjut atas Surat Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor B-73/TI.050/M/03/2026 tertanggal 9 Maret 2026 terkait antisipasi musim kemarau yang berpotensi menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah.

Menurut Khofifah, langkah antisipatif harus dilakukan sejak dini untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian sekaligus mendukung target swasembada pangan nasional.

"Kita akan tingkatkan koordinasi dan sinergi antara pemerintah daerah, baik bupati maupun wali kota se-Jawa Timur agar semuanya bisa mengantisipasi," ujar Khofifah saat ditemui di Gedung Grahadi Surabaya, Kamis (2/4/2026).

Ia menegaskan bahwa mitigasi tidak boleh menunggu dampak kekeringan terjadi. Produksi pertanian harus tetap dijaga agar kebutuhan pangan daerah maupun nasional tetap terpenuhi.

"Kita tidak boleh menunggu dampak terjadi baru bertindak. Produksi pertanian harus tetap terjaga agar ketahanan pangan Jawa Timur tetap kuat," tegasnya.

Berdasarkan proyeksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di Jawa Timur diperkirakan berlangsung mulai April hingga Agustus 2026 dengan potensi peningkatan risiko kekeringan di sejumlah wilayah.

Menindaklanjuti proyeksi tersebut, Khofifah meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret, di antaranya:

Melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan

Membangun sistem peringatan dini (early warning system)

Mengaktifkan brigade kekeringan

Selain itu, pemerintah daerah juga diminta mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air melalui rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan embung, pemanfaatan sumur air dangkal, hingga penggunaan teknologi pompanisasi, perpipaan, dan irigasi perpompaan.

Langkah lain yang juga ditekankan yakni percepatan masa tanam di wilayah potensial dengan menggunakan varietas tanaman tahan kekeringan dan berumur genjah. Pemerintah daerah juga diminta menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim dan ketersediaan air di masing-masing wilayah.

Khofifah juga menegaskan pentingnya sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga produksi pertanian tetap optimal.

"Sinergi menjadi kunci. Pemerintah daerah harus bergerak bersama petani, penyuluh, Forkopimda, dan seluruh stakeholder agar produksi pertanian khususnya pangan tetap optimal," jelasnya.

Selain itu, pemerintah daerah diminta aktif melaporkan perkembangan produksi pertanian sebagai bagian dari monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan.

Pemprov Jawa Timur optimistis langkah mitigasi dini tersebut mampu meminimalisasi dampak musim kemarau serta menjaga stabilitas produksi pangan di tengah tantangan perubahan iklim.

"Ingat! Ketahanan pangan adalah fondasi. Kita harus pastikan Jawa Timur tetap menjadi lumbung pangan nasional, bahkan dalam kondisi iklim yang menantang," pungkas Khofifah. Yous


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Gubernur Jatim Siapkan Mitigasi Dini Hadapi Kemarau 2026, Khofifah: Ketahanan Pangan Harus Tetap Kuat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now