![]() |
| Anggota DPD RI Komisi III, Lia Istifhama saat membagikan pengalamannya dalam agenda menyerap aspirasi warga Banyuwangi./dok. Istimewa |
BANYUWANGI | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI, Lia Istifhama masih mengingat proses perjuangan sulit sebelum berada di titik saat ini.
Menurutnya, proses panjang penuh perjuangan menjadi pengingat kuat bagi seorang wakil daerah untuk tidak mengkhianati amanah masyarakat.
Dari titik nol hingga dipercaya duduk di kursi parlemen, komitmen untuk tetap berpihak kepada rakyat menjadi prinsip yang terus ia jaga.
Pengalaman berproses ini membuat senator asal Jawa Timur tersebut tetap berkomitmen untuk menjaga amanah masyarakat dengan terus turun langsung menyerap aspirasi.
Senator yang akrab disapa Ning Lia ini juga mengatakan tidak ingin mengkhianati kepercayaan publik, mengingat proses panjang dan penuh perjuangan yang telah dilaluinya.
"Perjuangan menuju titik ini tidak mudah. Karena itu, amanah masyarakat harus dijaga dengan sungguh-sungguh, bukan hanya janji," ungkap Lia saat kegiatan serap aspirasi di Masjid Besar Arraudlah, Desa Kalibaruwetan, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, Minggu (19/4).
Pada agenda tersebut, ia membagikan kisah perjuangan hidupnya yang penuh perjuangan. Ia mengaku pernah berada di titik nol secara finansial, namun tetap berusaha membantu orang lain.
"Saya pernah di posisi tidak punya uang sama sekali, nol rupiah. Tapi dalam kondisi itu, saya tetap berusaha memberi kepada orang lain semampu saya," ucapnya, mengilas balik pengalamannya.
Perempuan yang juga keponakan Gubernur Jatim Khofifah ini menceritakan bagaimana sejak muda sudah terbiasa bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan.
"Saya pernah menjual kertas berkas verval untuk menambal kebutuhan sehari-hari. Bahkan saat kuliah, saya menjalani tiga kampus sekaligus, sambil tetap bekerja mengajar kursus privat," bebernya.
Menurutnya, pengalaman hidup tersebut menjadi pengingat agar tidak lalai terhadap amanah yang kini diemban. "Kalau kita ingat proses jatuh bangunnya, kita tidak akan mudah tergoda untuk mengkhianati kepercayaan masyarakat," lanjutnya.
Lia menegaskan pentingnya pola jemput bola untuk mendengar langsung kebutuhan masyarakat, terutama di wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan.
"Kami hadir untuk memastikan suara masyarakat benar-benar sampai ke pusat dan diperjuangkan dalam kebijakan," ujarnya lagi.
Masyarakat juga diajak Lia untuk tetap optimistis dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan, seraya mengingatkan bahwa setiap kesulitan pasti disertai kemudahan.
Lia menekankan pentingnya integritas dalam kehidupan sosial dan kepemimpinan dalam kehidupan sehari-hari tanpa memandang status. Nilai kejujuran, keikhlasan, serta menjauhi sifat kikir, dusta, dan munafik menjadi fondasi dalam menjaga kepercayaan publik.
"Kepercayaan adalah hal paling mahal. Sekali dikhianati, akan sulit kembali. Karena itu, amanah harus dijaga sebaik-baiknya," tegasnya.
Hadis Riwayat Bukhari juga ia kutip saat membahas tentang pentingnya menjaga kejujuran dan menjauhi sifat munafik sebagai bagian dari akhlak seorang pemimpin.
Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh agama dan masyarakat setempat, di antaranya KH Iskandar Dzulkarnain, KH Ir Achmad Wahyudi, SH, MH, serta tokoh muda seperti Gus Fathan dan Lora Masykuri. Turut hadir pula unsur Muspika Kalibaru, termasuk Kapolsek dan Danramil.
Ketua Yayasan Masjid Besar Arraudlah, melalui perwakilan H Mashuri, menyampaikan bahwa lembaga pendidikan di bawah yayasan terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. "Alhamdulillah, lembaga pendidikan kami semakin maju. Banyak tenaga pengajar yang kini telah tersertifikasi dan memberikan layanan pendidikan yang lebih baik," ucapnya.
Kemudian, KH Ir Achmad Wahyudi mengapresiasi kehadiran Lia Istifhama di wilayah Kalibaru. Ia menilai kehadiran wakil daerah secara langsung di tengah masyarakat menjadi langkah penting dalam membangun komunikasi dua arah yang produktif.
Menurutnya, sinergi antara wakil rakyat dan masyarakat harus terus dijaga agar melahirkan kebijakan yang benar-benar berpihak pada kepentingan publik.
Achmad Wahyudi juga menekankan pentingnya penerapan meritokrasi dalam sistem pemerintahan. Ia menjelaskan bahwa meritokrasi merupakan sistem yang menempatkan seseorang berdasarkan kemampuan, prestasi, kompetensi, dan integritas, bukan karena kedekatan, kekayaan, atau koneksi politik.
"Dengan meritokrasi, birokrasi akan berjalan lebih efisien, adil, dan transparan. Ini yang harus terus kita dorong bersama agar kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah semakin kuat," tandasnya. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?