Banner Iklan

Antara Prodi yang Ditutup atau Transformasi Kurikulum

Anis Hidayatie
28 April 2026 | 16.36 WIB Last Updated 2026-04-28T09:36:48Z

 

Antara Prodi yang Ditutup atau Transformasi Kurikulum

Oleh. Prof. Ilfi Nurdiana

Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: Wacana penutupan program studi (prodi) di berbagai perguruan tinggi menjadi alarm penting bagi dunia pendidikan tinggi Indonesia. Di satu sisi, penutupan prodi sering dipahami sekadar akibat minimnya mahasiswa baru atau lemahnya daya saing institusi. Namun di sisi lain, persoalan ini sesungguhnya mencerminkan krisis relevansi kurikulum dengan kebutuhan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (DUDI/DUDIKER). Ketika lulusan tidak lagi dianggap sesuai dengan kebutuhan zaman, maka prodi perlahan kehilangan kepercayaan publik.

Hari ini masyarakat semakin rasional dalam memilih pendidikan. Mereka tidak hanya bertanya, “Apa gelarnya?”, tetapi juga “Apa kompetensinya?” dan “Apakah lulusannya mudah mendapatkan pekerjaan?”. Perguruan tinggi tidak bisa lagi bertahan hanya dengan mengandalkan romantisme akademik atau kebesaran nama masa lalu. Era transformasi digital, kecerdasan buatan, ekonomi kreatif, dan industri berbasis teknologi telah mengubah peta kebutuhan tenaga kerja secara drastis.

Dalam konteks inilah transformasi kurikulum menjadi sebuah keniscayaan. Kurikulum tidak boleh sekadar menjadi dokumen administratif untuk akreditasi, tetapi harus menjadi instrumen strategis yang mampu menjembatani kebutuhan mahasiswa dengan realitas dunia kerja. Prodi yang gagal membaca perubahan akan tertinggal, sedangkan prodi yang adaptif akan tetap hidup bahkan berkembang.

Istilah link and match sebenarnya bukan konsep baru dalam pendidikan Indonesia. Namun implementasinya masih sering bersifat simbolik. Banyak perguruan tinggi mengklaim telah menjalin kerja sama dengan industri, tetapi hubungan tersebut hanya berhenti pada penandatanganan MoU tanpa implementasi nyata dalam desain pembelajaran. Akibatnya, lulusan memiliki ijazah tetapi kurang memiliki kompetensi aplikatif yang dibutuhkan lapangan kerja.

DUDI/DUDIKER saat ini membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara teoritis, tetapi juga memiliki kemampuan problem solving, komunikasi, kolaborasi, literasi digital, kreativitas, dan adaptasi teknologi. Sayangnya, sebagian prodi masih berkutat pada pola pembelajaran lama: terlalu teoritis, minim praktik, dan kurang responsif terhadap perubahan sosial-ekonomi. Mata kuliah sering kali tidak diperbarui selama bertahun-tahun, sementara dunia industri berubah dalam hitungan bulan.

Kondisi ini menyebabkan terjadinya mismatch antara lulusan dan kebutuhan pasar kerja. Banyak lulusan kesulitan memperoleh pekerjaan sesuai bidangnya, sementara industri justru mengeluhkan kurangnya tenaga kerja yang kompeten. Ketika masyarakat melihat lulusan suatu prodi tidak memiliki prospek jelas, maka minat terhadap prodi tersebut menurun drastis. Dalam jangka panjang, prodi kehilangan mahasiswa dan akhirnya menghadapi ancaman penutupan.

Karena itu, penutupan prodi seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kegagalan administratif, tetapi juga sebagai evaluasi akademik dan strategis. Perguruan tinggi perlu bertanya secara jujur: apakah kurikulum yang digunakan masih relevan? Apakah profil lulusan benar-benar dibutuhkan masyarakat? Apakah pembelajaran sudah terkoneksi dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi?

Transformasi kurikulum harus dilakukan secara mendalam, bukan kosmetik. Pertama, penyusunan kurikulum perlu melibatkan DUDI/DUDIKER secara nyata. Dunia industri harus dilibatkan dalam pemetaan kompetensi lulusan, penyusunan capaian pembelajaran, hingga evaluasi program magang dan praktik kerja. Kampus tidak bisa lagi merasa paling tahu kebutuhan dunia kerja tanpa berdialog dengan pelaku industri.

Kedua, pendekatan pembelajaran harus berubah dari teacher centered menuju student centered dan project based learning. Mahasiswa perlu dibiasakan menyelesaikan persoalan nyata, bukan hanya menghafal teori. Dunia kerja membutuhkan lulusan yang siap bekerja, mampu beradaptasi, dan memiliki pengalaman praktis sejak kuliah.

Ketiga, transformasi kurikulum juga harus memperhatikan perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan. Hampir semua bidang kini terdampak transformasi digital, termasuk pendidikan, ekonomi, komunikasi, bahkan keagamaan. Prodi yang menolak perubahan teknologi akan semakin ditinggalkan. Sebaliknya, prodi yang mampu mengintegrasikan literasi digital dan teknologi dalam pembelajaran akan lebih relevan dengan kebutuhan zaman.

Keempat, perguruan tinggi harus berani melakukan diferensiasi dan keunikan prodi. Tidak semua kampus harus membuka prodi yang sama. Banyak prodi kehilangan identitas karena hanya meniru tren tanpa mempertimbangkan kebutuhan lokal dan potensi institusi. Padahal, kekuatan perguruan tinggi justru muncul ketika mampu menghadirkan keunggulan spesifik yang dibutuhkan masyarakat dan dunia kerja.

Dalam perspektif yang lebih luas, transformasi kurikulum juga berkaitan dengan tanggung jawab moral perguruan tinggi. Kampus bukan pabrik ijazah, tetapi lembaga yang mempersiapkan masa depan generasi muda. Ketika kurikulum tidak relevan dan lulusan kesulitan bersaing, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi institusi, tetapi juga masa depan mahasiswa.

Namun demikian, transformasi kurikulum tidak berarti perguruan tinggi harus sepenuhnya tunduk pada logika pasar kerja. Pendidikan tinggi tetap memiliki fungsi membangun karakter, etika, dan nilai kemanusiaan. Link and match bukan berarti menjadikan kampus sekadar pemasok tenaga kerja industri, melainkan membangun keseimbangan antara kompetensi profesional dan nilai-nilai akademik-humanistik.

Karena itu, prodi yang ingin bertahan harus mampu memadukan tiga hal sekaligus: relevansi akademik, kebutuhan industri, dan pembangunan karakter manusia. Inilah tantangan besar pendidikan tinggi masa depan.

Pada akhirnya, isu prodi yang tutup bukan sekadar soal berkurangnya jumlah mahasiswa, melainkan cermin dari kemampuan perguruan tinggi membaca perubahan zaman. Kampus yang adaptif akan terus hidup dan dipercaya masyarakat. Sebaliknya, kampus yang bertahan dengan pola lama akan semakin tertinggal.

Transformasi kurikulum bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Jika perguruan tinggi ingin tetap relevan di era perubahan cepat, maka link and match dengan DUDI/DUDIKER harus diwujudkan secara nyata, sistematis, dan berkelanjutan. Sebab masa depan prodi tidak hanya ditentukan oleh gedung dan akreditasi, tetapi oleh sejauh mana kurikulum mampu menjawab kebutuhan kehidupan nyata.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Antara Prodi yang Ditutup atau Transformasi Kurikulum

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now