Banner Iklan

Wardana, Minoritas yang Tetap Percaya Diri

Anis Hidayatie
01 Maret 2026 | 10.34 WIB Last Updated 2026-03-01T03:34:57Z


Identitas di Balik Kabut Tengger

ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Di lereng Pegunungan Tengger, identitas bukanlah sesuatu yang diperdebatkan; ia adalah sesuatu yang dijalani dengan khidmat. Agus Setya Wardana tumbuh dalam dekapan tradisi Hindu Tengger yang kental. Baginya, menjadi seorang Hindu di tengah mayoritas masyarakat Indonesia yang Muslim bukanlah sebuah anomali, melainkan sebuah warna dalam lukisan besar Nusantara. Sejak kecil, ia terbiasa dengan suara kidung doa yang bersahutan dengan alam, sebuah harmoni yang mengajarkannya bahwa spiritualitas adalah hubungan pribadi antara manusia dengan Sang Pencipta, sementara kemanusiaan adalah jembatan bagi sesama.

Namun, ketika langkah kakinya mulai keluar dari batas-batas geografis Tosari, Agus mulai menyadari bahwa dunia luar sering kali melihat "perbedaan" dengan kacamata yang berbeda. Ada label-label yang terkadang membuat seseorang merasa kecil atau terpinggirkan. Tetapi di sinilah letak keistimewaan karakter Wardana. Alih-alih merasa inferior atau menarik diri, ia justru tampil dengan kepercayaan diri yang tegak. Ia memahami bahwa kualitas seorang manusia tidak ditentukan oleh seberapa banyak jumlah penganut agamanya di sebuah daerah, melainkan oleh seberapa besar manfaat yang bisa ia berikan bagi tanah airnya.

Dinamika Politik: Menembus Sekat Keraguan

Saat pertama kali memutuskan untuk terjun ke dunia politik praktis, keraguan tentu saja menghampiri. Bukan keraguan dari dalam dirinya, melainkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari lingkungan sekitar.

 "Mungkinkah seorang dari latar belakang minoritas bisa memenangkan hati rakyat di Kabupaten Pasuruan yang dikenal religius?" atau "Apakah ia akan diterima di ruang-ruang rapat legislatif?" Pertanyaan-pertanyaan ini adalah ujian pertama bagi mentalitas kepemimpinannya.

Wardana menyikapi dinamika ini dengan cara yang elegan: Integritas. Ia tidak menjual identitas agamanya untuk meraih simpati, namun ia juga tidak pernah menyembunyikannya demi elektabilitas. Ia datang ke tengah masyarakat dengan membawa solusi nyata atas masalah pupuk, benih, dan ekonomi. Ia membuktikan bahwa ketika seorang petani bicara soal perut yang lapar, soal lahan yang kering, atau soal harga panen yang anjlok, identitas agama menjadi nomor sekian. Rakyat tidak bertanya apa agamamu saat kamu membawakan mereka jalan keluar bagi kesejahteraan mereka. Inilah momen di mana Agus berhasil meruntuhkan sekat-sekat primordial dan menggantinya dengan ikatan emosional sebagai sesama putra daerah yang ingin maju.

Berlabuh di Partai Gerindra: Visi Nasionalis yang Seirama

Pilihan politik Agus jatuh pada Partai Gerindra. Keputusan ini bukan tanpa alasan yang mendalam. Sebagai seorang petani yang visioner, ia melihat sosok Prabowo Subianto sebagai pemimpin yang memiliki keberpihakan nyata terhadap kedaulatan pangan dan pertahanan bangsa yang dimulai dari desa. Di Gerindra, Wardana menemukan rumah yang nyaman bagi jiwa nasionalismenya. Partai ini, bagi Wardana, adalah wadah di mana keberagaman dihargai sebagai kekuatan, bukan sebagai pemicu perpecahan.

Masuknya Wardana ke dalam struktur partai sebagai simpatisan yang kemudian dipercaya maju sebagai calon legislatif adalah bukti nyata bahwa inklusivitas di tubuh Gerindra berjalan dengan baik. Di dalam partai, ia tidak pernah merasa dianaktirikan karena latar belakang keyakinannya. Sebaliknya, ia diberikan ruang yang luas untuk berekspresi dan membawa aspirasi masyarakat Tengger ke level kebijakan yang lebih tinggi. Ia merasa visinya untuk "Menjaga Petani, Menjaga Indonesia" seirama dengan napas perjuangan partai. Politik baginya bukan lagi soal menang atau kalah dalam pemilu, tapi soal bagaimana memastikan bahwa setiap kelompok, sekecil apa pun, memiliki kursi di meja perundingan pembangunan.

Moderasi Sosial: Menjadi Jembatan di Kabupaten Pasuruan

Kabupaten Pasuruan adalah laboratorium toleransi yang luar biasa, dan Agus Setya Wardana adalah salah satu praktisi terbaiknya. Melalui interaksinya di berbagai organisasi, terutama pengalamannya di Koperasi Kredit Sawiran yang melintasi berbagai latar belakang agama, Wardana mengasah kemampuan Moderasi Sosial. Ia sering kali menjadi penengah dalam diskusi-diskusi yang sensitif, membawa perspektif yang menyejukkan bahwa perbedaan pendapat adalah bumbu dalam demokrasi.

Di Gedung DPRD Kabupaten Pasuruan, posisi Wardana sebagai satu-satunya anggota dewan beragama Hindu menjadi simbol yang sangat kuat. Kehadirannya adalah pesan hidup tentang moderasi. Ia diterima dengan sangat baik oleh rekan-rekan sejawatnya yang mayoritas Muslim. Persahabatan mereka melampaui batas-batas dogmatis; mereka berdiskusi soal anggaran, berdebat soal peraturan daerah, dan tertawa bersama di kantin tanpa ada rasa canggung. Wardana percaya bahwa jika seorang politisi bisa menunjukkan sikap saling menghormati, maka masyarakat di bawah pun akan mengikuti.

Ia sering menekankan bahwa "Minoritas" hanyalah sebuah angka statistik, namun "Nasionalisme" adalah sebuah rasa yang dimiliki bersama. Keyakinan inilah yang membuatnya tetap percaya diri melangkah. Ia tidak ingin dikasihani karena status minoritasnya, tapi ia ingin dihormati karena kapabilitas dan kerja nyatanya. Dalam setiap rapat paripurna atau kunjungan lapangan, Wardana membawa semangat bahwa keadilan sosial harus dirasakan oleh semua warga Pasuruan, tanpa terkecuali—mulai dari pesisir hingga ke puncak gunung.

Filosofi Warna dalam Demokrasi

Agus sering menganalogikan demokrasi seperti sebuah kebun. Sebuah kebun yang hanya ditanami satu jenis bunga mungkin akan terlihat rapi, namun ia tidak akan pernah seindah kebun yang dipenuhi oleh berbagai macam bunga dengan warna dan harum yang berbeda-beda. Perbedaan itulah yang memberi tekstur dan kekayaan pada kehidupan berbangsa.

"Warna itu memang harus beda. Kalau semua sama, kita tidak akan pernah belajar tentang toleransi," tuturnya dalam sebuah kesempatan. 

Kepercayaan diri Wardana tumbuh dari kesadaran bahwa ia adalah bagian penting dari warna tersebut. Ia berdiri bukan hanya untuk masyarakat Hindu atau masyarakat Tengger, tapi ia berdiri untuk setiap orang yang merasa tidak punya suara. Melalui jalur politik, ia ingin membuktikan bahwa di Indonesia, siapa pun Anda, dari mana pun asal usul Anda, dan apa pun keyakinan Anda, Anda memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk membangun daerah dan dicintai oleh rakyatnya.

Keberanian Agus Setya Wardana dalam berpolitik adalah keberanian yang berakar pada ketulusan. Ia adalah bukti hidup bahwa seorang minoritas bisa menjadi pemimpin yang inklusif, seorang petani bisa menjadi politisi yang cerdas, dan seorang anak desa bisa menjadi penjaga marwah demokrasi di tingkat kabupaten. Percaya diri baginya bukan soal kesombongan, melainkan soal keyakinan bahwa kebenaran dan kerja keras akan selalu menemukan jalannya sendiri, menembus batas-batas identitas yang paling kaku sekalipun.



Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Wardana, Minoritas yang Tetap Percaya Diri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now