ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Jawa Timur, khususnya Kabupaten Pasuruan, adalah sepetak tanah di Nusantara di mana doa-doa dilambungkan dalam berbagai bahasa dan keyakinan, namun bermuara pada satu ketenangan yang sama. Bagi Agus Setya Wardana, toleransi bukanlah sebuah konsep akademik yang dipelajari di bangku kuliah, melainkan sebuah "napas" yang ia hirup setiap hari sejak kecil di lereng Bromo. Di wilayah Tengger, harmoni antara umat Hindu, Islam, dan Kristen telah terjalin selama berabad-abad tanpa gesekan yang berarti. Sejarah panjang ini membentuk fondasi berpikir Agus bahwa keberagaman adalah modal sosial yang paling mahal harganya, lebih berharga daripada emas atau komoditas pertanian apa pun.
Agus tumbuh dengan kesadaran bahwa perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi tembok penghalang dalam pergaulan sosial. Ia melihat bagaimana tetangganya yang Muslim bahu-membahu membantu persiapan upacara adat Hindu, dan sebaliknya, bagaimana masyarakat Hindu turut menjaga khidmatnya hari raya Idulfitri. Pengalaman empiris ini tertanam kuat dalam sanubarinya: bahwa di bawah langit Pasuruan, semua orang adalah saudara dalam kemanusiaan. Ketika ia melangkah ke ranah yang lebih luas, nilai ini menjadi kompas moral yang tak tergoyahkan. Ia tidak melihat orang lain sebagai "siapa kamu" atau "apa agamamu", melainkan "apa yang bisa kita bangun bersama untuk daerah ini".
Interaksi Lintas Iman: Belajar dari Koperasi dan Komunitas
Salah satu kawah candradimuka yang paling berpengaruh dalam mengasah sikap toleransi Agus adalah pengalamannya di Koperasi Kredit Sawiran. Koperasi ini bukan sekadar institusi keuangan; ia adalah miniatur Indonesia. Didirikan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang universal, koperasi ini mempertemukan Agus dengan tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang, termasuk para rohaniwan Katolik dan aktivis lintas iman. Di sana, Agus belajar bahwa nilai-nilai keadilan sosial, kejujuran, dan tolong-menolong adalah bahasa universal yang dipahami oleh semua agama.
Ia sering mengenang masa-masa berdiskusi dengan para Pastor dan penggerak sosial di koperasi. Dari mereka, ia menyerap prinsip bahwa pelayanan kepada rakyat tidak boleh diskriminatif. "Agama adalah urusan vertikal antara kita dengan Tuhan, tapi dalam urusan ekonomi dan sosial, kita semua berdiri di barisan yang sama," ujarnya. Interaksi ini membuatnya sangat nyaman berada di lingkungan mana pun. Ia bisa duduk khidmat di pura, berdiskusi hangat di beranda masjid, atau berbincang akrab di lingkungan gereja. Keluwesan sosial ini bukanlah sebuah pencitraan politik, melainkan buah dari pergaulan tulus yang telah terpupuk selama bertahun-tahun sebelum ia mengenakan lencana anggota dewan.
Peran Strategis dalam FKUB dan Moderasi Beragama
Sebagai tokoh masyarakat yang kini duduk di kursi legislatif, Agus memahami betul pentingnya peran institusi seperti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Bagi Agus, FKUB bukan sekadar lembaga formalitas untuk memenuhi struktur pemerintahan, melainkan benteng pertahanan terakhir dalam menjaga stabilitas daerah. Ia melihat FKUB sebagai ruang di mana para pemimpin agama bisa duduk bersama untuk memitigasi potensi konflik sebelum meletus ke permukaan.
Di Kabupaten Pasuruan, Agus aktif mendorong agar dialog-dialog lintas iman tidak hanya berhenti di tingkat elit atau pimpinan agama saja, tetapi harus merembes hingga ke tingkat akar rumput (grassroots). Ia memiliki visi bahwa moderasi beragama harus menjadi gaya hidup masyarakat. Dalam rapat-rapat di DPRD, ia sering kali menyisipkan pesan bahwa pembangunan infrastruktur fisik harus dibarengi dengan pembangunan "infrastruktur mental" berupa kerukunan antarumat. Ia percaya bahwa investor tidak akan datang dan ekonomi tidak akan bangkit jika sebuah daerah didera konflik horizontal. Oleh karena itu, toleransi bagi Agus adalah prasyarat mutlak bagi kemajuan ekonomi kerakyatan yang ia perjuangkan di Komisi II.
Nasionalisme: Bhinneka Tunggal Ika sebagai Nafas Perjuangan
Perspektif nasionalisme Agus Setya Wardana berakar pada pemahaman yang mendalam tentang Bhinneka Tunggal Ika. Ia sering merenung betapa ajaibnya Indonesia; sebuah bangsa besar yang dipersatukan bukan oleh kesamaan ras atau agama, melainkan oleh kesamaan nasib dan cita-cita. Sebagai bagian dari kelompok minoritas secara statistik, Agus justru merasa memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar untuk menunjukkan bahwa nasionalisme tidak mengenal kasta.
"Negara kita adalah demokrasi yang berwarna. Dan warna itu memang harus beda," tegasnya. Ia melihat bahwa kekuatan Indonesia terletak pada kemampuannya untuk mengelola perbedaan tersebut menjadi sebuah energi pembangunan. Nasionalisme bagi Agus adalah ketika seorang petani di Tosari merasa memiliki nasib yang sama dengan nelayan di pesisir utara Pasuruan. Ia ingin menghapus stigma bahwa minoritas hanyalah pelengkap. Baginya, minoritas adalah pemegang saham yang sah dalam republik ini, yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam menentukan arah kebijakan daerah.
Keharmonisan Jawa Timur: Sebuah Role Model bagi Nusantara
Agus sangat bangga menjadi bagian dari masyarakat Jawa Timur. Baginya, provinsi ini memiliki karakter unik dalam hal kerukunan. Masyarakat Jawa Timur dikenal memiliki watak yang keras dan lugas, namun di balik itu terdapat hati yang sangat terbuka dan penuh toleransi. Tradisi ngopi bareng di warung-warung desa, di mana orang dari berbagai latar belakang bisa tertawa bersama sambil membahas masalah sehari-hari, adalah bentuk nyata dari modal sosial yang kuat.
Ia ingin membawa semangat keharmonisan Jawa Timur ini ke dalam setiap produk hukum dan kebijakan yang ia kawal di DPRD. Ia memuji kepemimpinan daerah di Pasuruan yang selama ini mampu menjaga situasi tetap kondusif. Agus melihat bahwa moderasi tumbuh sangat baik di daerahnya karena adanya rasa saling menghargai yang tulus, bukan sekadar toleransi pasif yang penuh kecurigaan. Ia berkomitmen untuk terus menjadi jembatan bagi aspirasi kelompok-kelompok yang suaranya sering kali terabaikan dalam hiruk-pikuk politik mayoritas.
Toleransi sebagai Instrumen Pembangunan
Di akhir bab ini, kita melihat bahwa bagi Agus Setya Wardana, toleransi bukan sekadar soal beribadah dengan tenang, tapi soal bagaimana kerukunan tersebut dikonversi menjadi kemakmuran bersama. Ia berargumen bahwa ketika sebuah komunitas sudah saling percaya (social trust), maka kolaborasi ekonomi akan lebih mudah terjalin. Kelompok tani yang beranggotakan orang-orang dari berbagai latar belakang agama akan lebih solid jika pondasi toleransinya sudah kuat.
Inilah modal sosial yang dibawa Agus ke panggung politik. Ia bukan sekadar politisi yang mencari suara, tapi ia adalah penenun sosial yang berusaha merajut kembali helai-helai perbedaan menjadi sebuah kain persaudaraan yang kuat dan indah. Lewat kiprahnya, ia ingin membuktikan bahwa seorang anak petani dari minoritas agama bisa menjadi motor penggerak bagi nasionalisme yang sejati—nasionalisme yang bekerja, yang merangkul, dan yang mensejahterakan seluruh rakyat tanpa terkecuali.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?