![]() |
| Senator DPD RI, Lia Istifhama sebut Hari Raya Idulfitri 2026 dapat dijadikan momen rekonsiliasi sosial ditengah geopolitik dunia yang panas./dok. Istimewa |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI Komisi III, Lia Istifhama turut menanggapi situasi geopolitik dunia.
Apalagi, situasi ini terjadi di tengah momen menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Bahkan, menurut pantauan Senator Lia Istifhama, momen lebaran Idulfitri 2026 berada di tengah ketegangan geopolitik global dan dinamika politik domestik.
Walau demikian, Senator Lia menilai situasi ini dapat menjadi momentum strategis untuk memperkuat rekonsiliasi sosial, persatuan, dan harmoni kebangsaan.
Politisi yang akrab disapa Ning Lia ini menegaskan Idul Fitri bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan momentum penting untuk memperbaiki relasi sosial dan memperkuat persatuan bangsa.
Idulfitri menurutnya dapat menjadi titik kembali pada kesucian hati setelah menjalani ibadah Ramadan. Sekaligus ruang refleksi untuk membangun kembali hubungan antarmanusia yang mungkin sempat renggang.
"Idul Fitri tidak hanya dimaknai sebagai kemenangan spiritual, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membersihkan hati, menghapus dendam, dan membuka ruang rekonsiliasi sosial yang tulus," ucap Lia pada Jumat (20/3) di Surabaya.
Keponakan Gubernur Jatim Khofifah ini juga menekankan, tradisi saling memaafkan yang menjadi ciri khas Idulfitri seharusnya tidak berhenti pada simbol atau formalitas semata, tetapi juga dapat diwujudkan sebagai sikap nyata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sikap memaafkan merupakan ajaran fundamental dalam Islam. Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 134 yang artinya (yaitu), "Orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."
Selain itu, pentingnya menjaga persaudaraan juga ditegaskan dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."
Selain termuat dalam Alquran, ajaran memaafkan juga ditekankan dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda:
"Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai memberi salam."
Hadis tersebut menunjukkan pentingnya rekonsiliasi dan mengakhiri konflik dalam hubungan sosial.
Merujuk pada ajaran-ajaran tersebut, Ning Lia yang juga putri KH Maskur Hasyim menilai bahwa bangsa Indonesia yang majemuk sangat membutuhkan energi moral seperti yang terkandung dalam nilai-nilai Idul Fitri.
Di tengah perbedaan pandangan, kepentingan, hingga polarisasi di ruang publik, Lia menyebut bahwa semangat saling memaafkan dapat menjadi fondasi kuat untuk membangun kohesi sosial.
"Idul Fitri adalah risalah moral bagi bangsa. Jika nilai maaf dipraktikkan secara tulus, maka kehidupan sosial dan politik kita akan lebih sehat, inklusif, dan damai," tutur Lia.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat menjadikan Idulfitri sebagai momentum refleksi bersama, tidak hanya dalam lingkup keluarga, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
"Jika dimaknai secara mendalam, Idul Fitri menjadi gerakan moral untuk memperbaiki hubungan sosial dan memperkuat persatuan bangsa," tegasnya.
Adapun menurut hasil sidang isbat Kementerian Agama RI pada Kamis (19/3) malam di Jakarta, ditetapkan bahwa Hari Raya Idul Fitri 1447 H tiba pada Sabtu, 21 Maret 2026. ***
Editor: YAN
• Baca juga: Alasan 1 Syawal 1447 H Tiba Sabtu, Bukan Jumat
• 6 Niat Membayar Zakat Fitrah



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?