Banner Iklan

Senator Lia Istifhama Ajak Perempuan Berani Jadi Pemimpin dengan 6 Karakter Ini

Admin JSN
09 Maret 2026 | 21.19 WIB Last Updated 2026-03-09T14:19:28Z
Anggota DPD RI Lia Istifhama mengajak perempuan untuk berani menjadi pemimpin, bukan sekadar pengikut./dok. Istimewa

SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Lia Istifhama, mengajak perempuan Indonesia untuk berani tampil sebagai pemimpin.

Pesan ini disampaikan Anggota DPD RI Lia Istifhama pada 8 Maret 2026 yang bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional.

Menurut Senator Lia, perempuan dewasa ini harus berani untuk menjadi pemimpin dengan membangun karakter, kecerdasan, serta keberanian bersuara.

Ajakan ini disampaikan dalam pemaparannya bertajuk 'Suara Perempuan untuk Indonesia Lebih Setara' di Surabaya pada Minggu (8/3).

Melalui presentasinya sebelum sesi dialog, Perempuan yang biasa disapa Ning Lia ini menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menentukan arah bangsa.

Ia mengutip sebuah hadis yang menyebutkan bahwa perempuan merupakan tiang sebuah negara.

"Jika perempuan baik maka negara akan baik, dan jika perempuan rusak maka negara pun akan rusak," ujar Lia dengan tegas.

Menurut putri KH Maskur Hasyim ini, perempuan memiliki keunggulan berupa empati dan kemampuan membangun hubungan sosial yang kuat. Hal ini juga diperkuat oleh pandangan psikolog perkembangan Sabina Spielrein yang menyebutkan bahwa jiwa perempuan terbentuk melalui relasi dan empati terhadap orang lain.

Lia juga menyinggung tentang perubahan standar kecantikan perempuan dari masa ke masa. Ia menjelaskan bahwa standar kecantikan sering dipengaruhi budaya dan tren sosial, mulai dari era Yunani Kuno, masa Renaissance di Italia, hingga era modern yang dipengaruhi media sosial dan budaya populer seperti Korean Wave.

Ia juga berpendapat bahwa kecantikan perempuan tidak boleh hanya dilihat dari sisi fisik, tetapi juga dari dalam berupa kecerdasan, karakter, dan kemampuan berkomunikasi.

"Perempuan tidak cukup hanya memiliki outer beauty, tetapi juga harus memiliki inner beauty berupa kecerdasan, karakter, dan kemampuan berkomunikasi," jelasnya.

Keponakan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa ini mengingatkan agar perempuan tidak saling menjatuhkan hanya karena standar kecantikan. Sebaliknya, perempuan perlu saling mendukung dan fokus pada pengembangan diri.

Lia turut memperkenalkan konsep kepemimpinan perempuan melalui akronim PEREMPUAN, yakni Personality, Empathy, Responsibility, Equity, Motivation, Positivity, Universal, Analytical dan Negotiation

Selain itu, ia juga mendorong perempuan membangun karakter melalui nilai KARTINI, yaitu: 

Kindness Adaptation; kepekaan
Respect; kehormatan
Toughness; kerja keras
Intelligence; kecerdasan
Negotiation; terbuka (dalam berdiskusi)
Integrity; berintegritas.

Nilai-nilai tersebut, menurut Ning Lia, penting agar perempuan mampu menjadi pemimpin yang berintegritas dan berdaya saing.

Pada materinya, Ning Lia juga mengangkat gagasan perjuangan Raden Ajeng Kartini yang mendorong perempuan untuk berani bermimpi, berpikir maju, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Ia turut menegaskan, perempuan modern harus memiliki keberanian untuk berbicara dan mengambil peran dalam kehidupan publik.

"Perempuan harus berani berbicara, berani berkontribusi, dan tidak takut mengambil tanggung jawab sebagai pemimpin," ucapnya.

Melalui paparan datanya, Ning Lia mengungkap di Jawa Timur terdapat lebih dari 31 juta pemilih dalam Pemilu 2024, dengan jumlah pemilih perempuan yang lebih banyak dibanding laki-laki. Namun keterwakilan perempuan dalam politik masih belum seimbang.

Maka, ia mendorong perempuan untuk meningkatkan partisipasi dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan publik.

"Perempuan harus mulai mengaktualisasikan diri sebagai calon pemimpin, bukan hanya menjadi pengikut," imbaunya.

Ketika sesi dialog tanya-jawab jelang berbuka, Ning Lia juga berbagi pengalamannya tentang tantangan kepemimpinan perempuan. Menurutnya, perempuan sering menghadapi dilema antara bersikap lembut atau tegas.

Ini yang membuat perempuan perlu menjaga keseimbangan antara empati dan ketegasan agar kepemimpinan tidak menimbulkan rasa takut, tetapi tetap dihormati.

"Leadership itu bukan soal posisi, tetapi aksi. Kepemimpinan adalah tindakan nyata yang membuat orang mengikuti kita karena mereka percaya, bukan karena takut," tegas senator yang mempunyai tagline Cerdas Inovatif dan Kreatif (Cantik) ini. ***

Editor: YAN

Baca juga: Jatim Segera Rilis Sosialisasi Pembatasan Akses Media Sosial Mulai 28 Maret


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Senator Lia Istifhama Ajak Perempuan Berani Jadi Pemimpin dengan 6 Karakter Ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now