Banner Iklan

Senator Lia Istifhama: Kepemimpinan Perempuan Harus Seimbang dan Tidak Menakutkan

Admin JSN
09 Maret 2026 | 21.43 WIB Last Updated 2026-03-09T14:43:50Z
Senator DPD RI, Lia Istifhama sebut kepemimpinan perempuan harus seimbang agar tidak terlalu lembut juga tidak menakutkan./dok. Istimewa

SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Lia Istifhama, mengungkap sikap kepemimpinan perempuan yang cenderung dapat diterima banyak orang, yakni harus seimbang antara ketegasan dan empati.

Keseimbangan ini agar pihak yang dipimpin tidak merasa takut melainkan memahami esensi dari apa yang diarahkan oleh pemimpin perempuan tersebut.

Menurut Senator Lia Istifhama, perempuan mempunyai potensi besar menjadi pemimpin, namun harus mampu menjaga keseimbangan antara kelembutan dan ketegasan.

Gambaran ini disampaikan Lia dalam forum bertajuk 'Suara Perempuan untuk Indonesia Lebih Setara' yang digelar di Surabaya pada 8 Maret 2026, yang bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional.

Pada sesi dialog bersama peserta, senator yang akrab disapa Ning Lia ini menjawab berbagai pertanyaan mengenai kepemimpinan perempuan, peran generasi muda, hingga isu kebijakan publik.

Menurutnya, perempuan sering menghadapi stereotip sebagai sosok yang terlalu lembut sehingga dianggap kurang tegas. Namun di sisi lain, ketika perempuan menunjukkan ketegasan, tidak jarang justru dianggap terlalu keras bahkan menakutkan.

"Kadang perempuan dianggap terlalu lembut karena tidak ingin menyakiti orang lain. Tetapi ketika menunjukkan sisi kuat, kita justru bisa terlihat lebih tegas dari laki-laki. Menemukan keseimbangan di tengah itu memang tidak mudah," ungkapnya.

Senator yang mempunyai tagline Cerdas Inovatif dan Kreatif (Cantik) ini mengaku pernah merasakan dilema tersebut dalam berbagai peran kepemimpinan yang pernah dijalaninya.

Perempuan juga menurutnya harus mampu menunjukkan ketegasan tanpa membuat orang lain merasa tertekan atau takut.

Baginya, esensi kepemimpinan bukan terletak pada jabatan atau posisi, melainkan pada tindakan nyata yang dilakukan seorang pemimpin.

"Leadership itu bukan soal posisi, tetapi aksi. Bagaimana tindakan kita membuat orang mengikuti arahan kita bukan karena takut, tetapi karena mereka memahami bahwa itu benar," jelasnya.

Putri KH. Maskur Hasyim ini menambahkan bahwa salah satu cara agar ketegasan tidak terkesan menakutkan adalah dengan mengajak orang lain berpikir secara logis.

Pemimpin harus mampu menjelaskan suatu persoalan dengan analisis yang rasional sehingga orang memahami alasan di balik sebuah sikap atau kebijakan.

Ia mencontohkan isu impor beras yang sempat menjadi perbincangan publik. Menurutnya, kritik terhadap kebijakan tersebut harus disampaikan dengan pendekatan analitis, misalnya melihat keseimbangan harga pasar, potensi surplus, hingga dampaknya terhadap petani lokal.

"Kalau kita berpikir kritis, jangan langsung menolak atau mendukung. Kita harus melihat dulu analisisnya, bagaimana keseimbangan pasar, bagaimana dampaknya bagi petani lokal, dan bagaimana distribusi antarwilayah," urainya.

Ning Lia juga menanggapi pertanyaan mengenai kebijakan anggaran berbasis gender di lembaga legislatif yang dinilai sering terjebak pada kegiatan seremonial.

Menurutnya, kegiatan seremonial memang masih memiliki tempat di tengah masyarakat karena ada sebagian publik yang menyukainya. Namun bagi dirinya, diskusi yang lebih mendalam dalam forum kecil sering kali justru lebih menghasilkan gagasan yang substantif.

Ia mencontohkan sejarah perjuangan bangsa ketika para pemuda pada masa pergerakan kemerdekaan sering berkumpul dalam kelompok kecil untuk berdiskusi secara intens dan melahirkan pemikiran besar bagi masa depan Indonesia.

Pada forum ini, keponakan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa juga mengapresiasi keberanian generasi muda yang kritis terhadap berbagai isu bangsa. Menurut Lia, kepedulian dan kepekaan generasi muda merupakan modal penting bagi kemajuan negara.

"Bangsa ini akan kuat jika anak mudanya peduli. Ketika generasi muda kritis dan berani bertanya, itu adalah potensi besar bagi masa depan bangsa," ucapnya.

Politisi 42 tahun ini juga tak lupa untuk mendorong generasi muda agar berani menyampaikan gagasan dan tidak menunggu dukungan orang lain terlebih dahulu.

"Kita harus membangun persepsi bahwa diri kita dibutuhkan masyarakat. Jangan menunggu dukungan orang lain baru berani bersuara. Mulailah dari keyakinan bahwa kita memiliki peran," tegasnya.

Adapun sejarah Hari Perempuan Sedunia (International Women's Day) menurut laman PBB, diperingati tiap 8 Maret untuk merayakan perjuangan hak perempuan dalam politik, ekonomi, dan sosial.

Peringatan ini berakar dari gerakan buruh tekstil di New York pada 1857-1908 yang menuntut upah dan jam kerja lebih baik.

Kemudian, pada 8 Maret 1975, meresmikannya sebagai Hari Perempuan Internasional setelah insiden demonstrasi perempuan Rusia "Roti dan Perdamaian" pada 8 Maret 1917 yang memicu perubahan global. ***

Editor: YAN

Baca juga: Perempuan Harus Berani Menjadi Pemimpin dengan 6 Karakter Ini


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Senator Lia Istifhama: Kepemimpinan Perempuan Harus Seimbang dan Tidak Menakutkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now