Banner Iklan

Puasa ke-21 Puasa dalam 10 Malam Spritual: Menghidupkan Jiwa di Tengah Dunia yang Bising, Kolom Ramadan bersama Prof Fauzan Zenrif

Anis Hidayatie
11 Maret 2026 | 09.35 WIB Last Updated 2026-03-11T02:36:12Z


Puasa ke-21 Puasa dalam 10 Malam Spritual: Menghidupkan Jiwa di Tengah Dunia yang Bising, Kolom Ramadan Bersama Prof Fauzan Zenrif 

KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: Memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, suasana spiritual umat Islam biasanya berubah menjadi lebih khusyuk. Jika pada awal Ramadhan manusia masih sibuk menyesuaikan diri dengan ritme puasa, maka pada fase ini Ramadhan seperti mengajak manusia untuk masuk ke ruang yang lebih sunyi, ruang di mana jiwa dapat kembali berbicara dengan Tuhannya.
Dunia modern yang kita jalani saat ini sebenarnya adalah dunia yang sangat bising. Informasi datang tanpa henti dari berbagai arah, media sosial, berita digital, percakapan daring, dan berbagai tuntutan pekerjaan. Banyak orang hidup dalam arus informasi yang begitu deras sehingga hampir tidak memiliki waktu untuk berhenti sejenak dan mendengarkan suara batinnya sendiri. Aplikasi seperti WhatsApp, Instagram, atau TikTok sering membuat manusia terus terhubung dengan dunia luar, tetapi justru semakin jauh dari kedalaman dirinya sendiri.
Di sinilah makna sepuluh malam terakhir Ramadhan menjadi sangat penting bagi suara batinnya sendiri. Islam memberikan ruang kepada manusia untuk mengalami keheningan spiritual yang dibutuhkan batinnya itu. Dalam tradisi Islam, Rasulullah Muhammad saw memberi contoh dengan memperbanyak ibadah pada malam-malam terakhir Ramadhan, bahkan melakukan i‘tikaf di masjid. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah binti Abu Bakar disebutkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ مِئْزَرَهُ
“Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, Rasulullah menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ungkapan “menghidupkan malam” (ihyā’ al-layl) bukan hanya berarti memperbanyak shalat atau membaca Al-Qur’an, tetapi juga menciptakan ruang keheningan di mana hati dapat kembali menjadi jernih. Dalam kesunyian malam, manusia sering kali lebih mudah merenungkan hidupnya: tentang kesalahan yang pernah dilakukan, tentang harapan masa depan, dan tentang hubungan dirinya dengan Tuhan. Al-Qur’an sendiri memberikan gambaran tentang suasana spiritual malam yang sangat mendalam. Allah berfirman:
إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا
“Sesungguhnya bangun pada waktu malam itu lebih kuat (pengaruhnya) dan lebih tepat untuk membaca.” (QS. Al-Muzzammil: 6).
Ayat ini menjelaskan bahwa malam memiliki kekuatan spiritual yang berbeda dengan waktu siang. Pada malam hari, suasana lebih tenang, pikiran lebih jernih, dan hati lebih mudah tersentuh oleh nilai-nilai ketuhanan. Itulah mengapa sepuluh malam terakhir identik dengan pencarian Laylat al-Qadr, malam yang dalam Al-Qur’an disebut lebih baik dari seribu bulan. Malam ini bukan sekadar malam yang penuh pahala, tetapi juga simbol bahwa dalam kesunyian spiritual manusia bisa menemukan cahaya yang mengubah arah hidupnya.
Dalam kehidupan modern yang penuh kebisingan ini, manusia sebenarnya sangat membutuhkan momen seperti itu. Banyak orang merasa lelah secara mental bukan hanya karena pekerjaan, tetapi karena hidup dalam arus informasi yang tidak pernah berhenti. Sepuluh malam terakhir Ramadhan menjadi kesempatan untuk menarik diri sejenak dari hiruk pikuk dunia, mengurangi distraksi, dan memberi ruang bagi jiwa untuk bernapas.
Karena itu sangat disayangkan jika waktu yang begitu berharga justru habis untuk aktivitas yang sebenarnya bisa dilakukan di waktu lain, misalnya berbelanja kebutuhan hari raya hingga larut malam sekitar pukul 22.00 atau bahkan lebih. Banyak pusat perbelanjaan dipenuhi orang yang sibuk memilih pakaian, sepatu, atau berbagai kebutuhan konsumtif. Aktivitas ini tentu tidak salah, tetapi ketika ia menghabiskan malam-malam terakhir Ramadhan, manusia kehilangan kesempatan untuk merasakan kedalaman spiritual yang seharusnya menjadi puncak perjalanan ibadah puasa.
Saya pikir, sebaiknya berbagai kebutuhan konsumtif dan belanja hari raya diselesaikan lebih awal, sebelum pertengahan Ramadhan, misalnya sebelum malam ke-15, sehingga sepuluh malam terakhir dapat benar-benar digunakan untuk memperbanyak ibadah dan mengikuti sunnah Rasulullah Muhammad saw yang menghidupkan malam dengan shalat, doa, dan membaca Al-Qur’an.
Padahal dalam tradisi Rasulullah, sepuluh malam terakhir justru merupakan waktu untuk mengurangi aktivitas duniawi dan memperbanyak ibadah, bahkan beliau melakukan i‘tikaf di masjid. Artinya fokus kehidupan sementara dipindahkan dari urusan dunia menuju penyucian jiwa.
Jika malam-malam itu habis untuk keramaian pasar dan aktivitas konsumtif, maka manusia kehilangan dua hal sekaligus, keheningan yang dibutuhkan oleh jiwa dan kesempatan spiritual yang hanya datang sekali dalam setahun. Dalam perspektif ilmu pengetahuan kita kehilangan kondisi terbaik untuk melantunkan doa dan Al-Qur’an, sementara dalam perspektif spiritual kita kehilangan momen ketika hati sebenarnya paling mudah tersentuh oleh cahaya ilahi.
Karena itu sepuluh malam terakhir Ramadhan seharusnya menjadi waktu untuk mengurangi kebisingan dunia dan menghidupkan keheningan jiwa. Kadang cukup dengan hal-hal sederhana: mematikan ponsel sejenak, membaca beberapa halaman Al-Qur’an dengan tenang, melakukan shalat malam dengan khusyuk, atau duduk dalam keheningan sambil berdoa kepada Allah.
Di tengah dunia yang semakin bising, keheningan spiritual seperti ini menjadi sangat berharga. Ia mengingatkan manusia bahwa di balik segala kesibukan hidup, ada ruang sunyi di dalam hati yang selalu merindukan kedekatan dengan Allah swt. Dan Ramadhan, terutama pada sepuluh malam terakhirnya, adalah waktu terbaik untuk menghidupkan kembali ruang sunyi itu, sehingga jiwa manusia tidak tenggelam dalam kebisingan dunia secara terus menerus sepanjang tahun, tetapi tetap ada ruang terhubung dengan sumber ketenangan yang sejati, walau hanya dalam 10 malam setiap tahun. ANS 


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puasa ke-21 Puasa dalam 10 Malam Spritual: Menghidupkan Jiwa di Tengah Dunia yang Bising, Kolom Ramadan bersama Prof Fauzan Zenrif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now