Banner Iklan

Puasa ke-13: Lapar sebagai Energi Keadilan dan Kepedulian Kolom Ramadan bersama Prof Fauzan Zenrif

Anis Hidayatie
03 Maret 2026 | 08.08 WIB Last Updated 2026-03-03T01:35:58Z

 


Puasa ke-13: Lapar Seharusnya Melahirkan Kepedulian, Bukan Kebencian, Kolom Ramadan bersama Prof Fauzan Zenrif 

ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Dalam kehidupan sehari-hari, kian ceto welo welo bahwa dunia modern penuh dengan kontradiksi sosial. Di satu sisi, ada meja berbuka yang dipenuhi hidangan berlimpah, di sisi lain masih banyak keluarga yang menghitung rupiah demi sekadar membeli beras karena piringnya masih tengkurap di atas meja. Sebuah survei nasional mencatat bahwa seperempat rumah tangga di berbagai kota besar Indonesia mengalami ketidakpastian pangan bahkan sebelum Ramadhan tiba, dan diperkirakan meningkat saat bulan puasa karena tekanan biaya hidup. 

Penelitian psikologi sosial menunjukkan bahwa pengalaman lapar, jika diproses dengan refleksi dan kesadaran, secara signifikan dapat meningkatkan empati terhadap orang lain yang hidup dalam kondisi kekurangan. Rasa lapar yang dialami sendiri membuat seseorang lebih peka terhadap penderitaan orang lain yang kelaparan tanpa pilihan. Namun, fenomena ini tidak otomatis terjadi, ia membutuhkan refleksi hati dan kesadaran moral agar pengalaman fisikal itu diterjemahkan menjadi dorongan sosial yang nyata.

Memasuki hari ke-13 Ramadhan tahun ini, tubuh saya sudah terasa semakin terbiasa dengan ritme lapar dan haus. Namun justru pada fase ini muncul pertanyaan dalam hati, apakah lapar saya ini hanya dirasakan sebagai pengalaman fisik, atau apakah ia juga dapat mengubah cara kita memandang penderitaan orang lain? Padahal Allah swt sudah jelas mengkritik orang yang hanya ritual tanpa peduli terhadap sesama.

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ۝ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ۝ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

 (QS. الماعون: 1–3)

“Apakah kamu melihat orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”

Ayat ini menunjukkan bahwa agama yang sejati menguji bukan sekadar ibadah personal, tetapi kepedulian sosial. Puasa yang hanya berhenti pada menahan makan tanpa mendorong kita memberi makan, memahami penderitaan, atau mendorong tindakan nyata terhadap sesama, hanyalah formalitas. Rasulullah saw pun sudah mempertegas standar empati itu:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

 (رواه الطبراني وصححه الألباني)

Bukanlah dikategorikan mukmin seorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya. Sensasi lapar dalam puasa ini seharusnya mengajarkan saya bahwa lapar bukanlah sekadar pengalaman individual, melainkan pengalaman kemanusiaan. Ketika tubuh merasakan haus dan perut kosong, seharusnya pikiran langsung tertuju pula pada mereka yang lapar tanpa kepastian waktu berbuka.

Namun realitas sehari-hari menunjukkan sebaliknya. Ada yang siang menahan perut, namun tetap aktif menyebarkan kebencian di media sosial menjelang berbuka. Ada yang rajin tarawih, tetapi tetap merendahkan orang lain yang berbeda pandangan. Ada yang berbuka dengan berlimpah di rumah, namun enggan berbagi sepiring saja kepada tetangga yang membutuhkan. Ada orang yang punya kemampuan karena sedang berkuasa namun tak mau berbagi dengan orang karena j Secara lahiriah ia berpuasa, tetapi secara batin ibadahnya belum berbuah empati.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia adalah pendidikan hati yang menggabungkan refleksi batin dengan tindakan sosial. Allah memuji mereka yang memberi kepada orang lain dengan kesadaran spiritual yang tinggi:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

 (QS. الإنسان: 8)

Mereka memberikan makanan yang mereka cintai kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan. Ayat ini mengejutkan karena yang diberikan bukan sekadar makanan biasa, tetapi makanan yang mereka sayangi — ini level empati yang lahir dari hati yang telah disentuh puasa.

Puasa ke-13 ini mengajak kita menguji kembali dampak lapar terhadap hati kita: apakah ia membuat kita lebih peka melihat kesulitan orang lain? Apakah ia mendorong kita untuk berbagi secara nyata? Ataukah lapar itu hanya berhenti sebagai pengalaman biologis tanpa konsekuensi sosial dan moral?

Lapar dalam Ramadhan bukan untuk membuat kita reaktif terhadap diri sendiri, tetapi proaktif terhadap orang lain. Ia bukan untuk memperbanyak keluhan, tetapi untuk memperluas lingkar kepedulian. Jika setelah tiga belas hari Ramadhan kita menjadi lebih ringan memberi, lebih cepat membantu, dan lebih peka terhadap penderitaan sekitar, maka lapar itu telah menjalankan fungsinya: membentuk pribadi yang peduli, bukan pribadi yang keras. Puasa yang benar adalah puasa yang tidak hanya menahan perut, tetapi juga menahan hati dari kebencian dan menumbuhkan semangat menghidupkan sesama.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puasa ke-13: Lapar sebagai Energi Keadilan dan Kepedulian Kolom Ramadan bersama Prof Fauzan Zenrif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now